Gadis itu selalu menampakan batang hidungnya setiap menjelang senja. Muncul begitu saja di desa ini. Kulitnya pucat laksana salju yang murni, tiada noda sedikitpun mengusik kesempurnaannya. Sepasang matanya berwarna merah menyala, seperti darah segar yang mengalir dari luka terdalam. Tubuhnya mungil, terbalut dalam jaket merah yang pas di badannya, menonjolkan keindahan bentuk dan garis-garis halus. Tudung merah yang dikenakannya menutupi rambutnya dengan anggun perawakannya kecil dan ramping, bak anak perempuan berusia tiga belas tahun. Katanya ia mendadak muncul lalu hilang begitu saja di kebun. Namun bagaimanapun tak pernah ada yang melihatnya secara langsung. Tak ada saksi bisu penampakan bocah dengan tudung merah. Keberadaan si gadis bagaikan dongeng semata.
KATA orang Ujang itu tak ubahnya macam orang gila. Sehari-hari ia membisu, tak pernah bicara. Tubuhnya pun semacam orang kurang gizi atau boleh jadi memang tak bergizi sama sekali. Ia kurus keruncing nyaris terlihat tulangnya. Rambut keriting tak terurus, baunya tak karuan bilamana orang lewat. Matanya sipit, kulitnya hitam. Sebagaimana bocah badung mengatai sebagai orang gila dan bisu, kenyataan pahit si Ujang itu Tuna Rungu. Ia pada hakikatnya memang bisu.
Ia tak bisa berbicara sebagaimana bocah normal. Perlu dicatat ia hanya tak bisa berbicara bukan berarti ia budeg juga. Ia bisa mendengar paling tidak bisa menganalisis ucapan orang lewat bibir yang bergerak-gerak.
Ia pun masih bisa berkomunikasi lewat bahasa isyarat, kendati demikian bahasa isyarat tak dikenal masyarakat, bagi orang tua pun sulit bukan main untuk memahami terutama untuk bocah badung. Paling mudah ya ia bisa menulis lewat kertas dan mulai berkomunikasi.
Namun sebagaimana ia sadari. “Manusia pada dasarnya suka dengan kemiripan, disisi lain membuang yang berbeda atau nyaris menyakiti.” Ujang sadar kenyataan itu kurang lebih saat masih bocah ingusan 9 tahun.
Hidupnya kacau bukan main sebab ia Tuna Rungu ia diejek habis-habisan, pun dengan wajah sedemikian buruk rupa. Nyaris tak ada yang mau berteman dengannya.
Mereka bilang : Awas ada orang bisu nanti ketularan! Lainya lagi bilang : Jangan dekat-dekat Ujang atau virus gila menyebar.
Hidupnya hanya sebagaimana seonggok tai di mata orang, untuk dibuang dan diabaikan.
Namun hari itu berbeda. Kebetulan itu merupakan takdir. Semua menolaknya, tak ada yang mau berteman dengannya, terkecuali … Gadis dengan tudung merah.
***
UJANG pertama kali bertemu dengan si gadis itu secara kebetulan, nyaris tak terduga, atau nyaris seperti keajaiban. Hari itu ia pulang sekolah dengan sekujur tubuh penuh luka—akibat diskriminasi oleh bocah-bocah badung di sekolah—Kala itu adalah sore hari, matahari hendak terbenam. Ujang berhenti sejenak untuk menatap pemandangan yang ia kira sedemikian indah. Langit berwarna kuning langsat begitupun dengan awan-awan.
Hatinya terasa sejuk, angin sepoi-sepoi mempermainkan rambutnya. Ujang menutup mata perlahan, jelas menikmati sensasi itu. Dirasa puas ia membuka matanya perlahan dan perlahan. Dan detik itu juga ia tersentak, nyaris menjerit bila saja ia tak bisu.
Ada orang di kebun! bersembunyi di balik pohon. Ia gadis kecil seumuran Ujang. Matanya merah menyala, kulit seputih salju, bertudung merah.
“Hei apa yang kamu lakukan disini?” tanya si gadis bertudung merah. Ujang mengetahui arti ucapan itu melalui gerakan bibirnya.
Bila saja ia tak berbicara Ujang nyaris mengira si gadis itu adalah dedemit semacam kunti atau semacamnya. Namun sebagaimana ia tahu, dedemit tak akan berbicara atau menyapa manusia, mereka identik dengan tingkah absurd suka menyerang.
Jadi Ujang merasa lega … Atau tidak. Ia itu pecundang, berbicara dengan orang tak pernah apalagi dengan seorang gadis. Ia jadi linglung seperti bocah puber. Ia gelagapan, merogoh tasnya dengan gerakan terbata-bata, grasak-gerusuk. Ia pun menulis sebuah kata dengan huruf kapital sangat besar hingga memenuhi kertas, padahal hanya sederet kata bertulis : “MAUKAH KAU JADI TEMANKU?”
