Chapter 1

15 1 0
                                        

Luna, itu adalah nama yang diberikan ayahku sewaktu aku lahir dulu. Aku adalah anak tunggal di keluarga ini. Saat aku berumur 5 tahun, ibu selalu memanjakan ku. Terkadang aku terlalu bersemangat hingga tak jarang menyulitkan ibu. Dimalam hari, giliran ayah yang memanjakan Luna kecil ini. Betapa indah nya kala itu.

"Luna sayang, kalo kamu udah besar, kamu mau jadi apa?" Tanya ibu dengan senyuman indah nya.

"Aku mau jadi dokter, nanti kalo ibu sakit Luna yang obatin."

Ayah pun terlihat senang mendengar impian besar ku itu.

Sungguh polos sekali aku waktu itu...

Hari demi hari terus berganti, kini usiaku sudah 13 tahun. Hari hari biasa ku jalani selama sekolah di SMP, tidak ada yang istimewa, tidak ada yang menarik. Hari ini adalah jadwal acara perpisahan di sekolah ku, dan kebetulan aku jadi panitia. Murid lain diliburkan, sementara kami sibuk mengurus jalan nya acara. Aku berharap dengan ini aku bisa sedikit demi sedikit menggapai cita-cita ku.

"Luna, tolong ini ada yang pusing!"
"Kak Luna, tolong bantu yang jaga di lapangan."
"Luna, kamu bagian di belakang ya."

Aku merasa bahagia bisa bermanfaat bagi orang lain, meskipun itu dulu.

Sekarang usiaku 16 tahun. Aku duduk di bangku SMA, kelas 10 semester kedua. Entah kenapa, aku merasa berubah sejak beberapa bulan kebelakang. Lebih banyak pikiran yang menggangu dari pada hal yang menghibur.

Pukul 15:00, sudah waktunya aku pulang ke rumah. Seperti biasa, aku diam di halte bus sambil mendengarkan lagu favoritku. Langit mulai gelap, "sial, lupa bawa payung," gumam ku sambil menatap langit. Tak lama bus yang ku tunggu tunggu akhirnya tiba.

Sesampainya di halte tujuan, hujan mengguyur jalanan. Angin menerpa kencang, seorang gadis SMA berlari diantara rinai hujan, dan akhirnya, Baju ku basah semua. Pukul 15:45, aku membuka pintu rumah, menyalahkan lampu. Tidak heran, didalam sangat sepi. Bisa bisanya aku lupa kalau aku tinggal sendiri, lucu sekali. Sambil menyeka air hujan ku lempar tas ku ke kasur, lalu buru buru ke kamar mandi. Setelah hari yang panjang, aku harus kembali bekerja pukul 18:00.

2 tahun yang lalu, Ayah menjadi tersangka dalam sebuah kasus, entah apa itu. Dan kini ia masih di dalam penjara. Ibu meninggal setengah tahun setelahnya, ia mengidap penyakit parah. Dan sekarang hanya tersisa diriku sendiri, huh, sungguh gadis yang malang. Kini impianku hangus sudah, tiada harapan lagi.

Ternyata impian yang selama ini aku dambakan tidak semudah yang dibicarakan orang-orang diluar sana.

Ah, mungkin tidur sebentar bisa membuat pikiran ku tenang, sebelum berangkat kerja. Lagi pula waktu masih menunjukkan pukul 16:15.

"Ah, ga kerasa udah jam setengah 6 aja, males nyoo," aku hanya bisa sedikit mengeluh. Aku bersiap dengan pakaian biasa untuk kerja, menata rambut seperti Luna yang orang orang kenal. Aku mengikat rambut agar tidak menggangu pekerjaan, selalu seperti itu.

"Tiada yang spesial"

Namun, satu hal yang berbeda di hari ini adalah apa yang aku temukan saat di perjalanan. Aku menemukan sebuah kotak di pinggir jalan, kotak yang indah dan cukup mencolok. Tapi entah kenapa ada orang yang membuang kotak ke indah itu. "Ah, mungkin barang hilang, ambil saja dulu, nanti tinggal ke kantor polisi pulang kerja." Tanpa pikir panjang aku membawa kotak itu.

"Luna, aku udah nunggu nih dari tadi, tolong itu meja nomor 7 kamu bersihin ya," ucap Fajar, teman ku di tempat kerja. Oh ya, aku bekerja di cafe kota. Bos nya baik, beliau paham kalau aku anak sekolah, jadi aku masuk hanya malam hari saja. Tapi memang gajiku berbeda dari pegawai lain. Wajar saja.

The Moonlight HopeHistorias para obsesionarse. Descúbrelo ahora