Deze afbeelding leeft onze inhoudsrichtlijnen niet na. Verwijder de afbeelding of upload een andere om verder te gaan met publiceren.
"MAHESA!!!!!!"
Aku berlari melawan waktu. Setiap satu detik yang berlalu pada saat itu sungguh terbuang sia-sia. Satu detik yang bisa menyelamatkan Mahesa.
Sedang waktuku seakan tidak berjalan, aku seakan berlari dalam lorong yang tak berujung. Siapapun tolong hentikan waktu kami, siapapun tolong buat tanah dibawah kami selembut kapas,
Aku berlari dengan skenario-skenario buruk yang terus mengejarku.
Mahesa, teman pertamaku di kampus ini, laki-laki yang selalu mengekoriku kemanapun aku pergi.
GRAP!
Aku benar-benar diambang antara hidup dan mati. Kedua kakiku sudah lagi tidak berpijak, sedang tanganku memegang erat nyawa dalam tubuh laki-laki putus asa ini. Aku hanya mengandalkan tubuhku yang tersangkut pada beton, dan tangan kiriku yang mulai kram.
"Mahesa!! Sadar anjing!!"
Aku tidak mengerti kenapa Mahesa menutup matanya rapat-rapat. Untuk apa mengakhiri hidupnya sendiri jika masih takut seperti itu?
"MAHESA SADAR ANJIR!!" Aku berteriak dengan sisa tenaga yang kupunya, sungguh aku harap kita berdua tidak mati malam ini.
Saat kedua tanganku mulai kehilangan kekuatannya, dan kedua kakiku semakin menjauh dari tanah, Mahesa membuka mata.
"ANJING ZAURA!!"
Ada raut yang tidak bisa dijelaskan terukir di wajah Mahesa. Pada saat itu, mata kami bersitatap dengan posisi yang berlawanan. Aku menitihkan air mata, aku melihat wajah Mahesa yang memerah marah namun sorot matanya tak terasa hidup.
"LEPASIN ANJIR! GUE MAU MATI! LU NGAPAIN SI ANJIR!!?"
Mahesa pikir aku akan gentar? Jika dia tega, aku siap ikut mati bersamanya.
Jari-jariku memutih seiring aku mengeratkan genggamanku, Mahesa tidak akan mati malam ini.
"LEPASIN ZA!!"
"LU BERGERAK DIKIT LAGI, KITA MATI!" Gertakku.
☂
Aku terduduk lemas tak berdaya bersandar dinding yang semakin lama semakin menusukku. Kenapa aku tidak bisa berhenti menangis?
Orang-orang mulai berkerumun disekitar kami. Orang-orang ini mengguncang-guncang tubuhku perlahan, aku bilang tak apa. Mahesa yang seharusnya mereka perhatikan. Kami berdua hampir mati malam ini.
Dari mataku yang berair, ku kunci pandanganku pada Mahesa. Laki-laki itu tidak banyak bergerak, ataupun berbicara. Untuk sekedar berkedip pun sepertinya dia enggan. Aku melihat ada bekas memerah karena kuku ku di pergelangan tangannya.
Apakah aku menyelamatkannya? Atau justru merusaknya?
Karena tidak ada diantara kami yang berbicara, orang-orang akhirnya pergi satu per satu. Mereka hanya berkata "syukurlah, nggak ada yang terluka", "lain kali jangan aneh-aneh" dan omong kosong lainnya yang tidak ingin kudengar. Mereka semua hanya pura-pura.
Keheningan menyesakkan ini, aku harap hari ini segera berakhir.
Aku menangis. menangis. dan menangis.
Aku ingin berteriak di depan Mahesa, banyak yang ingin aku katakan namun, aku tidak bisa.
Aku menyelamatkan Mahesa yang hampir mati malam ini.
Verhalen om door geobsedeerd te raken. Ontdek het nu