Part 56

17K 1.1K 96
                                    

"Kamu akan selalu menjadi kenangan indah di hidup aku walau kita tidak bersatu."

_Abizer Davin Agamor

🌿🌿🌿

Happy reading...

***

Setelah dokter datang, Fana dan Abizer keluar dari ruangan. Tidak ada yang bicara, tatapan Fana hanya terus tertuju pada lantai sedangkan Abizer terus berdiri dan menutup matanya, sesekali ia menghela nafas panjang.

Teman-teman Giren dan Abizer sudah pulang setelah Letrina memanggil dokter. Fana menyuruh mereka pulang karena sudah sangat larut malam.

Sebenarnya Fana juga menyuruh Abizer untuk ikut pulang tapi sang empu terus menolak keras. Menghadapi sikap keras kepala Abizer tidak akan ada gunanya.

Tiba-tiba Fana berdiri lalu berjalan mendekati Abizer. "Saya perlu bicara dengan kamu," Ucapnya lalu melangkah pergi.

Abizer menegakkan tubuhnya lalu menengok ke kaca ruangan Giren sebelum pergi mengikuti langkah Fana.

Fana membawa Abizer ke kantin. Fana tau Abizer belum makan malam jadi ia membawanya ke kantin rumah sakit.

"Kita makan, setelah itu saya ingin bicara serius sama kamu."

Abizer hanya bisa menurut. Lagipula setelah melihat Giren sadar tadi ia sudah sedikit lega.

Setelah mereka makan, Abizer membuka topik dengan menanyakan kondisi Riberto dan Yezril. "Keadaan om sama Yezril gimana tante."

"Kondisi om sudah stabil, tapi masih butuh perawatan intensif karna tadi sempat serangan jantung."

"Kalau Yezril, kondisinya juga udah membaik." Abizer mengangguk mengerti.

"Tante mau kasih tau kamu sesuatu, ini soal Giren," Ucap Fana dengan wajah yang serius.

"Apa tante?"

"Giren menutupi sesuatu yang besar dari kita semua." Wajah Fana kini berubah menjadi sedih.

"Sesuatu yang besar? Apa tante?"

"Giren mengidap penyakit leukimia stadium akhir."

Dwarr!!..

"Gak! Gak mungkin tante. Giren gak kenapa-kenapa kok tante, selama ini dia sehat-sehat aja, gimana bisa Giren tiba-tiba sakit," Ucapnya

Fana menyodorkan amplop di tangannya, amplop yang berisi diagnosis penyakit Giren.

Dengan terburu-buru, Abizer membuka amplop itu. Tangannya menjadi gemetar setelah membaca selembar kertas itu. Bagaikan dihantam habis habisan, nafas Abizer seakan ingin berhenti. Lagi lagi Abizer runtuh, ia menangis. Entah sudah berapa kali Abizer menitihkan air mata hari ini hanya karna Giren.

Fana menundukkan kepalanya mencoba tetap tenang. Ia kembali mendongakkan kepalanya menatap Abizer yang masih termenung layaknya patung.

Fana menarik nafas sejenak menenangkan dirinya. "Kamu tau kan seberapa berartinya Giren untuk tante."

My Twilight [Tamat]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang