"Raka,Zara bangun katanya mau jalan jalan"
"Iya Buuun"Zara Dengan cepatnya bangun tanpa memperdulikan kakaknya yang masih tertidur.
"Rakaaa.. ayo bangun nanti di tinggal loo.. "Raka tidak peduli baginya tidur sepanjang hari lebih asik dari pada jalan-jalan keliling dunia
Bunda yang mengingatkan di depan pintu, akhirnya masuk berjalan membukak gorden jendela, cahaya matahari pagi menyemburat indah menimpa genteng-genteng dan antena televisi yang menjulang dari atap-atap rumah malu- malu secarik cahaya mentari meyisip ke kisi-kisi jendela kamar, membuat garis di atas meja, indah pagi, burung perkutut milik tetangga sebelah rumah berkicau merdu sementara embun menggelayut lembut di bungga halaman rumah mawar putih
"Ayo sini raka"Raka berusia 5 tahun dengan badan yang ramping rambut yang acak acakan tanpa pernah perduli dengan penampilannya menurut Raka kebahagiaan adalah segalanya
Bunda berjalan mendekati Raka dan menggendong "liat adekmu itu semangat sekali"
"Hadeh bunda ni selalu membeda-bedakan kenapa ngak mendukung" Raka menggerutu dalam hati memasang wajah malas
Bunda mengendong Raka keluar dari kamar melewati dapur melihat Zara dengan badan yang munggil usia 4 tahun mata yang sipit dengan rambut hitam legam yang panjang wajah yang cantik mengemaskan siapa saja ingin menciumnya, Zara sedang menaiki kursi dengan mulut yang masih mengigit pisang goreng sambil menoleh kebelakang di ketahui oleh bunda, bundapun tersenyum Raka mencium aroma pisang goreng sejak 5 menit yang lalu matang,mata Raka membukak lebar membulat dan tersenyum lalu melihat Zara.
"Buuuun turuniiin"Raka memberontak
"Mandi dulu" Zara dari jauh masih di atas kursi mengejek Raka dengan mengigit pisang goreng sambil menari, Raka jengkel melihat Zara memberontak dengan terpaksa bunda menurunkannya.
"Raaa.... ambiliiin"Zara yang masih mengigit pisang sambil turun dari kursi.
"Wleeeeeee liat kak am yam yam," Zara makan sambil ketawa keliatan gigi kecil yang putih.
"Bun ambilin, awas kamu raaa."
"Tapi habis ini mandi yaa"bunda berjalan menuju meja makan melihat banyak piring dengan makanan yang dari tadi bunda siapkan ada 4 macam ada ayam goreng yang sedikit terpotong terlihat bekas gigitan yang kecil 1 menit yang lalu, pisang goreng tersisa delapan dari sebelas di mangkok ada sayur soup yang berisi kentang jagung dan wortel bulat-bulat masakan yang sederhana tapi masakannya tak jauh kalah dengan master chef yang ada di televisi dengan racikan cinta masakan bunda tidak ada duanya bagi Zara dan Raka, mungkin masakan di luar sana enak tapi tak pernah mungkin menandingi masakan bunda, sampai kapanpun lalu Bunda mengambil pisang memberikan kepada Raka.
"Makasih bundaku yang cantik."
Haha cuman di kasih satu aku mah udah makan banyak tadi, Zara hanya ngomong dalam hati takut bila kakaknya tau, pasti ngambil lebih banyak.
"Bunda." Zara mengakat kedua tangannya bunda tau maksudnya
"Iya sini bunda lepasin, kalau mandi jangan berantem."
"Iya Buuun."
"Itu airnya hangat."mata Zara dan Raka langsung membuka lebar membinar seolah-olah tanah yang kering tiba tiba gelap mendung menunggu hujan.
Zara dan Raka langsung cepat-cepatan untuk menjadi yang pertama menguasai bak mandi.
Bunda beranjak pergi meninggalkan mereka berdua menuju benda televisi mengingat banyak pakaian yang belum di lipat, ketika melihat dapur melihat nenek dari Raka dan Zara.
"Eh, buu biar aku aja yang mencuci piringnya."
"Ngak usah ngak papa."bunda langsung pergi emang begitu kalau ada yang orang yang membantu pekerjaan kita.
YOU ARE READING
pergi
RomanceSebuah kisah adek kakak yang selalu bersama dalam bermain bercanda dan banyak hal tapi waktu itu jahat yang membuat mereka terpisah terpaksa karena keadaan Adik dan kakak yang selalu menanti menunggu untuk bertemu sekian lama terpisah apa...
