kalo gak suka skip aja, oke?
Lingga menatap lurus pada satu objek. Disana-- ada seorang siswa yang tengah berlari mengelilingi lapangan yang terlihat cukup luas. Tanpa ekspresi.
Dari kejauhan tampak objek itu semakin mendekat. Dengan nafas tersengal siswa berujar "Udah lima kali putaran gue, Ngga"
Lingga mengangguk, ia lalu menghantamkan tangannya ke dada remaja siswa didepannya. "Pake."
Remaja itu menerimanya, sebuah dasi berwarna abu-abu. Melihat keterbingungan siswa itu, Lingga lantas kembali berujar, "Pake, buat lu. Jangan sampe ketahuan guru BK."
Mendengar kata 'guru BK' buru-buru ia memakai dasinya pada kerah seragam yang ia pakai. "Oke, thanks Ngga!"
"Gue masuk duluan," Sebelum berlari ia menepuk pundak Lingga.
"Hn." dehemnya sebagai balasan.
Tatapan kosongnya menyorot pada punggung remaja yang telah menjauh dari pandangan. Lingga menghela napas yang terdengar berat.
Paginya seperti hari biasa, membosankan.
Bangun, berangkat, mengurus siswa yang terlambat, belajar, istirahat, masuk kelas, istirahat ke-dua, masuk lagi, lalu pulang. Alur cerita Lingga sangat monoton, membosankan, dan tak terlalu menarik.
Kini waktu yang Lingga jalani sudah hampir setengah hari. Lingga menggerakkan kakinya menuju parkiran. Kepalanya sedikit tertunduk dengan wajah yang nampak tak bergairah. Hari ini justru lebih melelahkan dari hari-hari biasanya, Lingga terlihat lelah tak bertenaga. Terlihat dahinya yang berkeringat sampai leher.
Napas berat ia buang, tangan kanannya mengusap dahinya ketika air keringat jatuh ke mata miliknya. "Melelahkan" satu kata lolos dari bilah bibir pink plum itu.
Lapangan terlihat sepi karena Lingga siswa terakhir yang baru keluar, ada beberapa hal yang harus ia kerjakan jadi Lingga pulang sedikit terlambat hari ini.
Remaja dengan surai hitam gelap itu terkekeh hambar, dunia saja mendukung suasana hati Lingga.
Tak ingin terlalu memikirkannya, Lingga kembali menunduk tapi kini terlalu dalam. Dua tangan lentik itu ia masukkan ke saku celana abu-abu miliknya.
Netra segelap surai tak sengaja menemukan sebuah kerikil. Dengan jahil kaki kanannya mengudara, menendang kerikil tersebut yang tak bersalah.
Disaat akan melangkah, kakinya tersangkut kaki lainnya. Seakan terkena efek, Lingga bergerak sangat pelan bagi slowmo. Napasnya kian memburu, "Apa ini kesialan yang kesekian gue hari ini?" matanya terpejam seolah siap dengan yang Lingga sebut sebagai 'kesialan'
Lingga tersandung.
dug!
"Shh.. anj sakit banget," ringisnya sembari mengelus dahinya yang terbentur.
Tapi, rasa bingung kini lebih mendominasi sekarang. Ia berpikir akan jatuh terjerembab ke tanah, kenapa ia merasa seperti tengah di peluk?
Kepalanya ia dongakan dengan gerakan patah-patah. Nafasnya tercekat, Pria-- berpakaian formal itu yang memeluk Lingga.
Lingga dengan tergesa mendorong tubuh kekar Pria itu-- yang anehnya tak bergerak sedikitpun.
"M-maaf, saya tidak sengaja," Lingga berdecak dalam hati, suaranya terdengar gugup dan sangat lirih. Akh! bahkan Lingga tak sadar tubuhnya bergetar, takut dengan aura Pria yang tak sengaja ia tabrak.
Lama tak ada respon, Lingga jadi merasa sangat bersalah pake banget. "Maafkan saya sekali lagi, m-maaf" lagi lagi Pria itu tak menjawab, sampai Lingga membungkuk berkali-kali sekalipun.
Lingga meremat jari tangannya masih dengan keadaan menunduk. Tanpa Lingga sadari Pria didepannya ini menyunggingkan senyum teramat tipis.
"Apa yang aku dapatkan jika aku memaafkan mu?"
Satu kalimat yang terdengar ambigu mengudara, reflek membuat Lingga mengangkat kepalanya, menatap Pria yang persis berdiri dihadapan Lingga.
"Ya?"
Tbc
YOU ARE READING
OBEDIENT
Teen Fiction[Slow Up] - Alingga itu manis, penurut, dan cerdas. Sayangnya ia polos, makanya tak tahu harus apa untuk bertindak. Mengangguk adalah jalan satu-satunya bagi Lingga. "Kamu terlalu patuh untuk menjadi patuh Alingga."
