Bagi Naya, setiap hari adalah harapan. Tapi untuk hari ini dan seterusnya akan jadi hari yang paling menyedihkan. Dia berusaha menahan tangis ditengah lapangan, sambil berlari terengah-engah. Sejak kemarin ia menghabiskan waktu menangis tanpa tidur, dia tidak membayangkan bagaimana hari ini menjalankan Ospek.
"Kalau menurut kamu ospek hanya lelucon, silahkan kembali pulang adinda manis!!" Bentak cewek dengan bandana di lengan kiri yang bertuliskan Dikma.
"Maaf kak" ucap Naya dengan gemetar sambil menundukkan kepalanya, bahkan ia tidak berani menatap mata seniornya tersebut.
"Telat 1 jam 15 menit, kenapa?"
"Tadi saya salah naik bus kak"
"Besok alasannya salah kampus? Atau emang beneran salah kampus, gue ragu lo mahasiswa sini atau ga. Nama lo siapa"
"Mohon maaf kak, Nama saya Nayara Raisya, Mahasiswa Ekonomi"
"Oke, orang sebaik gue kayaknya gacocok ngasih hukuman" ucapnya yang membuat Naya mendongak bingung. "Kinan" ucapnya sedikit keras memanggil salah satu rekannya. Naya bisa melihat pria tinggi yang menoleh ke arah kami.
"Kenapa?" ucap pria tersebut yang bernama kinan.
"Boleh bantu didisplinin ga ni mahasiswi? Ucap senior tersebut.
"Oke" balas kinan yang langsung berhadapan dengan Naya.
"Ikut gue" ucap kinan yang terdengar datar yang berjalan duluan.
Naya sudah pasrah apapun yang terjadi hari ini, ia berjalan mengikuti pria didepannya. Entahlah dia sudah tidak fokus sejak awal, bahkan sarapan pun ia tidak sempat. Tidak sadar, ia sudah berdiri di hadapan seluruh mahasiswa baru.
"Selamat pagi" ucap kinan yang dibalas riuh suara mahasiswa.
"Hari ini OKK UI sangat berbahagia sekali bisa mengundang guest star hebat di hari pertama. Guest Star yang bisa menginspirasi, please welcome our guest" Sambungnya yang membuat Naya jengah.
Naya sudah pusing dan lemas, untuk menerima microphone yang disodorkan pria itu sudah membuat energinya terkuras.
"Selamat pagi semuanya, perkenalkan saya Nayara, bisa dipanggil Naya. Hari ini saya terlambat sekitar 1 jam 15 menit, dan aku harap kalian bisa menjadikan saya sebagai mimpi buruk untuk terbangun di hari esok, bukan jadi inspirasi. Hwaiting!". Ucap naya dengan senyum jengkel. Baru kali ini Kinan dianggap remeh, dan itu mahasiswa baru.
"Ternyata sulit membedakan orang yang terlalu percaya diri dengan orang yang tidak tahu malu. Dan orang yang disamping saya lebih tepatnya keduanya" balasnya dengan nada yang terkesan tidak senang.
"Mohon maaf kak, apakah ada hal lain? Saya ingin bergabung dengan teman-teman lainnya" sambung Naya yang jengkel dan sudah malas.
"Belum, saya masih ada satu permainan. Truth or dare" sambungnya. Bahkan naya sudah mengganggap pria didepannya gila, bagaimana mungkin didepan ribuan mahasiswa? Hah bahkan mimin pun sulit berkata-kata
"Truth" ucap naya singkat, bukan tidak berani memilih dare. Hanya saja energi Naya saat ini terkuras habis, mana mungkin iya bisa menerima jika diminta keliling lapangan...
"Wajahmu terlihat menyedihkan, kamu punya banyak teman disini. Curhatlah betapa menyedihkannya hidupmu" Ucap Kinan yang bahkan semua mahasiswa bahkan panitia lainnya kaget dengan pernyataan kinan. Bahkan Naya terkejut dengan pertanyaan tersebut yang membuat Naya memejamkan matanya dan mengepalkan tangannya.
Hening, itulah yang terjadi saat ini.. Hanya suara nafas Naya yang terdengar dari mic tersebut. Naya membuka matanya perlahan-lahan dengan mata yang merah.
"Masing-masing dari kita selalu ingin memilih hidup selain kata menyedihkan. Bahkan pun aku, saya cukup bingung hal menyedihkan apa yang harus aku ceritakan untuk kalian semua yang bahkan aku belum kenal" ucap Naya berhenti yang masih berusaha menahan air mata di penghujung pelupuk matanya.
"Aku hidup untuk diriku sendiri. Bahkan terlahir pun aku sudah menyedihkan. Dan satu lagi, entah menyenangkan atau menyedihkan, untuk berdiri di sini. Aku berjuang untuk kebahagiaan yang aku rasa, aku tidak akan sendiri lagi karena sebuah cinta yang mensyaratkan aku masuk di salah satu kampus ini yang aku anggap dia mengkhawatirkan masa depanku. Namun ternyata aku salah, aku hanya bagian dari taruhan uang yang lebih bernilai" ucap Naya yang menundukkan kepalanya untuk menutupi pipinya yang sudah basah. "Untuk pecundang yang aku anggap dulu sandaran hidup dan kamu orang yang baru aku kenal 10 menit yang lalu" sambung Naya seraya menoleh ke arah Kinan.
"Terima kasih. Aku sudah siap menyambut hari menyedihkan untuk hari esok tanpa takut mimpi buruk" Tutup Naya yang membuat Kinan tertegun. Naya langsung berlari ke tempat jauh yang ia tidak tahu kemana. Ia berlari, untuk menutupi muka menyedihkan ini.
YOU ARE READING
2nd Choice
Teen Fiction"Michael Jakson Takut Mati, Albert Einstein takut hantu, Isaac Newton takut dikritik, Kalau lo... apa yang buat lo takut?" "Ga ada" "Haha, sekalipun lo kehilangan gue" "......" Nayara Raisya, panggil Naya aja. Gadis cantik yang penuh dengan ekspres...
