Kota Y, 2017
Sudah setahun lamanya sejak terakhir kali bertemu dengan "mbok", itu panggilan ku pada nya. Kami terbiasa memanggil begitu karena ibuk. Rasa rindu kami kepada mbok membuat kami pergi mengunjungi nya.
Rona jingga menemani perjalanan kami menuju rumah mbok . Jarak nya cukup jauh dengan waktu perjalanan 12 jam. Mobil biru kecil berisi 4 orang. Bapak, ibuk, aku, dan adek ku.
Ada canda tawa dan perkelahian yang mengiringi perjalanan kami. Hingga akhir nya sang fajar menyambut kami di rumah mbok kala itu.
Kota N, 2017
Dari kejauhan kulihat Mbok sudah di depan rumahnya seperti menyambut kami. Segera aku keluar berlari menghampiri mbok dan nang ku.
"Jalan berlarian nduk, nanti jatuh." Peringat mbok padaku yg hanya ku jawab dengan tawa riang. Ku masih ingat senyuman yang terpatri di wajahnya.
Ku tatap wajahnya seraya berkata "mbok, kok diluar, nang e di mana?" Ku menatap sekeliling memindai halaman rumah joglo ini.
Kepalaku terus di elus hingga mbok berhenti dan berkata "mbok tau kalian akan datang jadi mbok menunggu disini, nang mu di dalam masuklah"
Heran? Ya, itu yg kurasakan saat ini. Kami tak memberi tahu bahwa akan kemari. Tapi mbok seolah sudah punya firasat bahwa kami akan kemari.
Aku masuk kerumah joglo sederhana namun amat luas itu. Disusul bapak, ibuk, dan adekku. "Nang.....nang.... aku pulang lho" kataku seraya mencari nya.
Terdengar langkah kaki dari pawon hingga muncullah nang ku dari balik pintu. "Kapan datang mu nduk? Buk, Pak e, adek mu dimana?" Tanya nya padaku
"Diluar sama mbok, saya yg kedalam duluan nang" kataku dengan senyuman
"Sehat kan mbok sama nang? Kalau sakit bilang ya, jangan dipendam sendiri... Nanti ibu khawatir lho" sambil menggandeng tangan nang menuju kursi
Bapak, ibuk, mbok, dan adek masuk rumah dan ikut duduk bersama kami. Hal seperti ini membuat ku teringat masa kecilku disini. Mbok dan nang yang terlihat makin tua membuat ku sadar bahwa aku sudah tumbuh dewasa. Bukan denok, si kecil yg selalu di gendong dan di temani waktu tidurnya.
"Kalian pasti capek kan, wes istirahat dulu saja. Terutama kamu le.. kan sudah nyopir." Tutur lembut mbok pada bapak dan ibuk. Mbok melihat kearah ku dan adekku seraya berkata "Putuku.... Lapar tidak? Kalau iya mau makan jangan bening ? Atau masak ayam saja kalau tidak mau?"
Mbok sangat sayang pada keluarganya namun mbok malah makan sayur terus dan jarang makan ayam. Ayam yg dipelihara jarang sekali di makan. Paling hanya saat kami datang atau ada acara tertentu yang mengharuskan untuk menyembelih.
"Enggak mbok... Aku sama adek sudah makan bekal tadi waktu di jalan. Mbok yang istirahat saja" kataku dengan lembut.
Akhir kami pun istirahat di kamar yg selalu kami gunakan jika berkunjung ke rumah mbok.
Surya sudah meninggi, ibuk sedang memasak di dapur. Aku menemani mbok tiduran di amben dekat ruang tamu. "Mbok, sudah lama aku tidak kemari. Cerita kemarin belum selesai mbok. Jadi akan ku tagih hari ini." Ku pasang muka penasaran agak mbok mulai bercerita.
"Memang sudah sampai mana cerita nya?" Ucap mbok sambil mengingat ingat. Aku yg sudah penasaran berkata "Sudah sampai jaman mbok masih gadis. Lanjutkan ya mbok cerita nya" kata ku penuh harap.
Mbok terdiam sejenak dan berucap "Baiklah, demi mu nduk mbok akan cerita"
Raut wajah mbok tenang, dengan pelan dia bercerita kisahnya mulai dari saat gadis sebelum bersama nang.
.
.
.
.
Next
Kota N, 1960
Tolong tinggalkan komen ya 😊
Dan jgn lupa beri bintang 🌟
Semakin banyak peminat cerita ini akan semakin senang aku bercerita hehehe
Terimakasih banyak🙏🏻😊
YOU ARE READING
PUCUK DURI
Non-FictionAwal dimana semua bermula Kisah dimana sosok wanita harus berjuang melawan pilih kasih, cinta, pengorbanan, keluarga, kesalahan, dan rasa bersalah.
