Chapter 1 - Black Riverstone

11 0 0
                                        

Di malam yang damai nan diselimuti kegelapan, aku memacu kuda yang kutunggangi dengan cepat melewati barisan pepohonan. Bintang-bintang kujadikan arah penunjuk jalan dan cahaya rembulan sebagai lampu penerangan. Tiada henti diriku untuk terus waspada memerhatikan sekitar seraya terus berkendara, tentu saja aku harus berhati-hati sebab bahaya selalu mengintai di mana pun dan kapan saja.

Tak terasa aku tiba di gerbang kota "Black Riverstone", kesunyian yang sebelumnya aku rasa di perjalanan kini telah sirna disapu oleh ramainya suasana kota. Orang-orang berlalu lalang, hiruk-pikuk aktivitas malam yang padat dihiasi terang-benderang gemerlap lampu-lampu menghempas kegelapan. Aku berhenti memarkirkan kuda milikku di sebuah kedai, aku lekas turun dan memasukinya selepas mengamankan kuda yang kutunggangi, atau yang biasa kupanggil dengan nama "Rexus".

Namaku Manfred Garrandorr yang mendapatkan julukan Pengelana dari Timur (sebab Black Riverstone terletak di paling timur), aku juga seorang mantan anggota polisi dalam satuan Kepolisian Black Riverstone (KBR) yang memutuskan untuk berhenti tiga tahun lalu dan pergi meninggalkan kota menuju Quarranta yaitu kota lain yang jaraknya lumayan jauh dari Black Riverstone, kini aku harus kembali karena walikota di sana memintaku untuk datang karena ada sesuatu yang sangat penting-mendesak untuk dia katakan kepadaku, sehingga aku memutuskan untuk datang. Aku memiliki tinggi 192cm dengan tubuh yang kekar dan tegap berisi sebab aku terus melatih tubuhku, wajahku dihiasi dengan jenggot dan kumis yang tercukur rapih.

Aku adalah anak kedua dari mantan walikota Black Riverstone sebelumnya yaitu Bardolf Garrandorr, aku memiliki seorang kakak laki-laki bernama Javranndo Garrandorr dan seorang adik laki-laki bernama Aaricc Garrandorr. Ayahku telah gugur dibunuh oleh sekelompok orang yang mengepungnya tiga tahun lalu, ketika ia sedang dalam perjalanan untuk menghadiri pertemuan para walikota untuk bertemu dengan Pimpinan Tertinggi Negara Revolusi Fortsteiner yang biasa disebut Revvonoble dalam rangka untuk membahas program pemerintahan sekaligus melaporkan perkembangan dari masing-masing daerah. Kami tiga bersaudara sangat terpukul dengan apa yang terjadi, sebab itu setelah kepergian ayah kami memutuskan untuk berpencar demi mencari motivasi baru dalam hidup kami. Kakakku memutuskan untuk pergi ke ibukota Fortsteiner yaitu Centranoirre, sedangkan adikku tetap tinggal di Black Riverstone.

Aku menatap sekitar mencari tempat duduk yang kosong di dalam kedai dan akhirnya aku memilih tempat duduk di sisi sebelah kanan yang dekat dengan jendela.

"Hai Manfred temanku, lama tak jumpa" tanya seseorang menyapaku, aku mengenal suara itu dan begitu melihatnya aku langsung berdiri dan memeluknya, yaa dia adalah Bruno dan aku cukup merindukannya, dia pun membalas pelukanku dengan erat seraya menepuk pundakku.

Bruno Neomolich adalah teman lamaku, dahulu kami menempuh pendidikan dan tumbuh bersama di kota ini sejak kecil, kini perawakannya tubuhnya lebih berisi dan kekar dari terakhir kali kami bertemu tiga tahun yang lalu. Dia juga memiliki tubuh yang cukup tinggi sekitar 188cm dengan wajah yang cukup memesona bagi para wanita. Aku ingat sekali Bruno sangat terlatih dalam memanah dan berkuda, hahaaa aku jadi teringat sewaktu dulu kami sering menghabiskan waktu bersama untuk memacu kuda kami pada petang hari, waktu begitu cepat berlalu dan kenangan indah bersama teman tidak akan pernah bisa dilupakan. Kini dia mengurus kedai sebagai pemilik dan pengelola untuk melanjutkan bisnis keluarganya ini.

"Bagaimana kabarmu kawan? Akhirnya kau ingat jalan pulang kembali ke sini hehee" Bruno berkata seraya terkekeh. "Lebih baik dalam ribuan tahun, tentu saja aku ingat jalan menuju kedai dengan kopi yang enak ini hahaa" jawabku, "bagaimana kabarmu kawan?" lanjutku. "Seperti yang kau lihat sangat bahagia dan siap menggetarkan daratan hahaa" jawabnya.

Kami lanjut tertawa dan berbincang sebentar sampai dia pamit sebentar untuk memanggil pelayan untuk membuat pesanan, tentu saja dia mengetahui menu kesukaanku yaitu secangkir kopi hangat dan satu paket makan malam berisikan daging asap bumbu merah pedas yang dilengkapi salad, kentang tumbuk keju, tiga telur mata sapi setengah matang dan puding coklat yang manis. Bagaimana ia bisa tahu? Jelas sekali karena itulah menu yang sering kupesan sewaktu aku masih tinggal di sini bertahun-tahun yang lalu.

You've reached the end of published parts.

⏰ Last updated: May 01 ⏰

Add this story to your Library to get notified about new parts!

DARK ROBINHOODStories to obsess over. Discover now