"Aw shh" Rintis seorang gadis yang tengah mengobati lukanya sendiri.
Sesekali ia meringis dan meneteskan air mata, bukan karena sakit tetapi karena ucapan sang ayah.
Sebelum kejadian
Plak!
"Begitu saja ga becus! Bisa kau apa? Nangis?!" Bentak sang ayah.
"Dasar anak menyusahkan!"
"Maaf yah, Senja gak tau kalau ayah gak suka kopi"
"Terus yang kau tau apa?! Membunuh orang!!"
"Maaf-"
"Sudah!! Kau hanya bisa maaf maaf dan maaf!! Kau harus ku beri hukuman biar jera" Ujar sang ayah lalu menyeret Senja hingga jatuh. Sang ayah pun melepas sabuknya dan mencambuk Senja tanpa ampun.
"SUDAH AYAH!! AMPUN! SENJA MINTA MAAF!" Teriak Senja.
"Tak peduli kau mau teriak macam mana pun, aku akan tuli saat kau menyuruh ku berhenti!"
Semua kejadian tersebut tertancap jelas di ingatan Senja. Memang ia sudah biasa diperlakukan begini. Namun lama kelamaan ia merasa lelah.
Setelah mengobati lukanya Senja pun memilih mengistirahatkan badanya untuk pergi ke sekolah besok.
'Semoga besok Senja bisa tersenyum walau hanya sedetik saja, Senja ingin merasakannya' Ungkapnya dalam hati.
Keesokan Harinya
Pagi datang dengan indahnya. Kicauan burung menyertai sang surya menampakkan wujudnya. Seorang gadis mengerang karena silau cahaya menerpa wajahnya.
Gadis itu pun terbangun dari tidurnya dan beranjak bersiap ke sekolah. Setelah semuanya siap ia pun turun berharap diajak sarapan. Beberapa anak tangga pun sudah ia lalui, kini ia menuju ke ruang makan.
"Em Bun, Senja boleh makan? Dari kemarin Senja belum makan" Ujar Senja.
"Tidak boleh!" Bukan bundanya yang menjawab melainkan ayahnya.
"Tapi ayah Senja lapar, nanti juga upacara"
"Ayah ga peduli! Sekarang kamu berangkat sana!"
"Senja gak punya uang yah buat ke ojek"
"Sudah ayah bilang Senja ayah tidak peduli!"
"Baiklah, yah Bun Senja berangkat Assalamualaikum"
Senja pun melangkahkan kakinya keluar rumah. Saat berjalan sekitar 500 meter an hujan pun turun. Senja pun meneduh di halte terdekat seraya memeluk tubuhnya karena dingin. Sepi sunyi Senja hanya ditemani dengan suara petir yang tak cukup keras.
Diantara suara air hujan dan petir Senja mendengar sayup sayup suara motor. Senja pun menyipitkan matanya guna mencari sumber suara. Tiba tiba ada seorang pria yang berhenti di depan Senja. Pria itu memarikirkan motornya dan ikut berteduh di samping Senja. Yang Senja bingung kan adalah ia memakai jas hujan kenapa ikut berteduh?.
"Lo mau berangkat sekolah?" Tanya si pria.
"Saya? Ah iya"
"Sekolah lo dimana?"
"SMA Wirabrata"
"Lo jalan kaki?" Dan dijawab Senja dengan anggukan.
"Jaraknya jauh, kenapa lo ga naik ojek?"
"Gak punya uang"
"Yaudah bareng gua aja"
"Eh sekolah kamu dimana? Ntar ngerepotin"
"Gua di SMA Argawinata searah sama sekolah lo"
"Oh gitu"
"Nama lo siapa btw" Tanya si pria.
"Aku Senja"
'senja?'
"Oh gua Rey Zehan panggil senyaman lo aja'"
"Baiklah"
"Kalo boleh tau nama panjang lo siapa?" Tanya Rey.
"Saya Senja Azella Lexandra"
Perubahan ekspresi yang kentara di wajah Rey, ia kaget namun dengan segera ia menetralkan ekspresi nya takut jika Senja melihatnya.
"Senja.. akhirnya gua ketemu lo juga.."
Hii para readers, kenalin aku pendatang baru. Ini book aku yang pertama. Btw tahun baru ngapain aja??. Aku doain semoga tahun ini lebih baik daripada tahun tahun sebelumnya. Janlup votment yhwa💗
CZYTASZ
Toxic Life
Dla nastolatków"Kau tau punya anak sepertimu itu sebuah kesalahan terbesar bagiku!" "Seseorang pembunuh sebaiknya mati juga harus dibunuh!" "Kenapa tidak kau yang mati saja?! Dasar anak menyusahkan!" "Ck, enyah aja lo dari bumi! Bumi ga akan kekurangan manusia! Ap...
