Senin tetaplah hari terburuk. Mau sekeras apa pun ia menyukai hari setelah libur tersebut, nyatanya akan selalu ada umpatan yang tersemat ketika jam sudah menunjukan pukul 06.30 atau mungkin lebih. Memang, rasanya sangat tidak adil kalau semua harus dikerjakan sendiri. Bahkan rasa-rasanya kalimat tentang manusia tidak dapat hidup tanpa orang lain tidak begitu ia indahkan karena kenyataan yang terjadi di lapangan mengatakan kalau ia harus hidup mandiri tanpa bantuan orang lain. Oh, bukan bantuan tentunya. Memang di zaman yang serba menuntut ini ada yang masih mau mengulurkan tangan dengan begitu tulus sebagai bentuk rasa belas kasih? Tentu tidak--menurutnya. Manusia itu rasanya teramat keji, sangat keji sekali untuk dirinya dua tahun lalu. Mungkin, untuk dirinya yang sekarang juga. Namun dia dua tahun yang lalu benar-benar berhasil mengubah dirinya sendiri menjadi dia yang sekarang. Menjadi monster yang selalu bersembunyi di balik topeng tegas dan keras kepala, mengecam dunia karena telah berhasil menggoreskan luka.
Sialan! Ini sungguh sialan!
"Fuck!" Pekikan itu kembali ia loloskan. Tubuh yang sudah berbalut seragam sekolah putih abu-abu kusut itu bahkan masih terlihat jauh lebih baik dibandingkan ketika ia hanya mengenakan kaos hitam polos karena tidak sempat memakai seragam sekolahnya dan memilih untuk ia masukkan ke dalam tas.
Tumpukan buku yang sudah ia persiapkan tadi malam terlihat mulai berpindah dari yang awalnya berada di atas meja belajar kini satu persatu mulai ia masukkan ke dalam tas hitam polos yang sudah seharusnya di ganti menjadi lebih layak di pakai. Karena percayalah, tas itu sudah tidak kuat untuk menampung berat yang berlebihan. Termasuk beberapa buku paket yang terpaksa harus ia tinggal di dalam laci meja kelasnya. Habis, mau bagaimana lagi? Jeriel benar-benar di tuntut untuk bisa hidup mandiri, dan sendiri. Sebatang kara. Sialan! Kata itu bahkan terkesan begitu menyedihkan walau kenyataannya hidup pemuda yang baru menginjak usia 17 tahun itu lebih dari kata sebatang kara.
Jangan ada yang bertanya perihal orang tua, karena itu adalah awal mula sebuah luka ini bermula. Lantas pada bab selanjutnya, Jeriel kira ia akan menemukan bahagia setelah merasakan lara yang begitu tak terduga rasa sakitnya. Tidak, dunia tentu tidak akan sebaik itu untuk membuat skenario hidup seorang Jeriel berjalan mulus seperti di dalam buku dongeng. Bahkan rasanya kata happy ending itu teramat jauh untuk bisa ia jangkau bahkan rasakan. Selama ini hanya ada hambar di dalamnya. Selama ini hanya ada rasa khawatir yang terus menghantuinya. Selama ini selalu ada tanya--mengapa harus dirinya yang menderita? Lantas setelah benang kusut itu semakin terasa memusingkan, pemuda bersurai legam itu akan memilih mengambil sebatang rokok untuk menjadi teman bermalamnya. Dan itu semua yang Jeriel lakukan tadi malam. Mengisap nikotin, menikmati hembusan angin yang menubruk tubuhnya secara tidak sabaran. Sampai jam di dinding menunjukkan pukul tiga dini hari.
Notifikasi dari ponsel miliknya yang tergeletak di atas meja belajar membuat pemuda itu melirik singkat sedikit berminat. Namun setelah mengetahui siapa pengirim pesan tersebut, Jeriel hanya melengos dan mendengus malas tidak berminat lagi. Kali ini pemuda itu justru lebih memilih untuk mencari dasi sekolahnya. Dan lagi, ini akan menjadi kesialan yang kesekian kalinya bagi Jeriel karena jam terus bergerak menunjukkan bahwa hari kian semakin siang.
Jeriel menyunggingkan senyum sebentar sebelum atensi pemuda itu kembali beralih ketika ia hendak segera berangkat ke sekolah. Kali ini, netra itu cukup memandang lama pada bingkai foto kecil yang terpajang di meja belajarnya. Bingkai foto Jeriel dengan si sulung--kakak perempuannya. Ia hanya mengulas senyum simpul. Senyum yang kian hari terasa semakin palsu untuk ia tunjukkan pada dunia kalau dirinya masih akan berjalan sampai garis akhir hidupnya mengatakan bahwa kata bahagia sepenuhnya berada di pihak Jeriel.
Ah, sialan! Desakan di dalam dada pemuda itu kembali hadir tanda diminta. Memaksa Jeriel segera menyudahi aktivitas berkelana jauh tentang hari di mana ia kembali bisa berkumpul bersama.
YOU ARE READING
occurrence | jeno, haechan
Mystery / Thriller[⁰⁰⁶] ft.nct dream "Menurut lo gue akan percaya? Enggak! Lo--juga tersangka disini!" ⚠️ [cerita ini mengandung unsur yang sensitif. Banyak menggunakan kata-kata kasar dan sebagainya. Bijaklah dalam memilih bacaan] ©copyright2023
