Episode 0

10 1 0
                                        

Malam itu, adalah malam paling sial yang pernah menimpanya selama 25 tahun hidupnya.

Pakaiannya compang camping tidak karuan dengan rembesan darah yang membasahi pakaiannya , entah darah dari perutnya yang menganga karena ditusuk atau darah dari----tadi sekitar 3 sampai 4 orang tiba-tiba saja muncul dan berusaha menusuknya.

Annie yang terkejut akhirnya tertusuk dan jatuh, namun entah keaajaiban dari mana yang membuat Annie langsung berdiri lagi, mencabut pisau di perutnya, dan menghabisi semua orang jahat itu sampai tidak berdaya.

Persetan mereka mati atau tidak, yang jelas ini adalah tindakan pembelaan diri! Pembelaan diri!

Sambil berpikir seperti itu, kedua kaki Annie yang sudah berjalan cukup jauh dari lokasi kejadian akhirnya menyerah. Tubuhnya terguling jatuh dari pinggir aspal ke hamparan rumput di bawah yang membuat rerumputan itu memiliki jejak berdarah karena tubuhnya.

Annie yang berhenti dengan posisi tengkurap, membalikkan tubuhnya dengan susah payah. Ia melihat ke langit. Tidak ada bintang, tidak ada bulan, sangat kosong.

Tidak pernah terbayang kalau akhir hidupku seperti ini..

Ini sangat konyol.

Annie tertawa kecil.

Tidak berselang lama terdengar suara langkah kaki mendekat, langkah kaki itu terdengar bercampur dengan suara seperti tongkat besi yang di seret, kemudian berhenti beberapa langkah dibelakang kepala Annie yang sedang berbaring.

Annie menghela napas ringan sambil menutup matanya.

Iya, mana mungkin aku berhasil mengalahkan 4 pria dewasa sekaligus dan kabur.

"Kamu di sini untuk membunuhku bukan?" Annie bicara tanpa menoleh, matanya kembali menatap langit malam yang suram.

"Ya." Orang itu menjawab datar.

"Tolong lakukan dengan cepat. Tenang saja, aku tidak akan menghantuimu setelah mati."

"... kamu ingin mati?"

"Memangnya kalau aku ingin hidup kamu bisa mengabulkannya?"

Setelah kata-kata itu keluar, suasana menjadi hening.

Annie mulai jengkel, tapi tubuhnya yang sudah mengeluarkan banyak darah membuat kepalanya menjadi pusing dan luka di perutnya juga terasa semakin sakit. Permintaan terakhirnya adalah bisa mati dengan cepat, tenang, tanpa rasa sakit bahkan tidak bisa dicapainya. Apa-apaan hidup ini?

Matanya sudah mulai memberat ketika Annie mendengar suara logam diangkat ke udara, dan sebelum matanya tertutup sekilas dia melihat seorang laki-laki membawa tongkat dengan bilah tajam melengkung dibarengi dengan bulan purnama yang perlahan muncul dari balik awan mendung.

Mungkin matanya salah, tapi itu terlihat seperti sabit.

Benda misterius itu semakin mendekat dan hendak jatuh mengenainya ketika tiba-tiba ia membuka matanya dengan kaget.

"Hah!"

Napasnya tersenggal-senggal.

Mimpi..?

Annie kemudian berkedip. Sekali, dua kali, ia melihat cahaya matahari menembus jendela di samping tempat tidur. ia perlahan duduk dengan tenang dan mengusap keringat dingin di dahinya.

"Ternyata cuma mimpi.."

Hm?

Annie mengetes suaranya sekali lagi, tapi..

"Hm?"

Annie mengerutkan alisnya.

"Ap-apa??"

Annie melihat ke tengan dan kakinya. Mereka lebih besar dan tebal dari pada yang dia ingat. Lalu rambutnya, pipinya, bentuk hidung, bahkan lehernya--ada yang tonjolan disana! --"A-ada apa ini?!"---Pandangannya kemudian beralih ke celananya.

Tidak mungkin.

"Tidak.. mana mungkin--GAHH!"

Annie terjatuh dari tempat tidur dengan suara gedebuk yang sangat keras. Dia kemudian berdiri dengan cepat dan berlari menuju cermin yang menempel di dinding dekat lemari.

Seolah memvalidasi kecurigaannya, bayangan seorang pemuda terpantul menatap matanya.

"Aku.."

Menjadi pria??




AGATHETempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang