"Hormon kortisol berperan untuk meningkatkan adrenalin. Orang yang sudah terbiasa dengan lingkungan toxic, akan terbiasa dengan kadar kortisol yang tinggi. Oleh karena itu, mereka akan merasa aneh jika diperlakukan dengan baik."
Telunjuk kecoklatan yang terlihat tegas menunjuk bagian otak di papan proyektor.
Sang dosen muda berumur 28 tahun itu membenarkan letak posisi kacamatanya setelah menjelaskan informasi di hadapan para mahasiswa yang menatapnya serius.
Naruto mungkin tak begitu menyadari bahwa alasan mereka mampu sefokus itu pada pelajarannya adalah karena paras rupawan, tubuh yang terlihat tegap dan indah, serta pembawaannya yang ramah dan santai. Hal itu menambah karismanya, membuat orang sekitarnya seakan lebah yang terikat dengan aroma dari nektar bunga.
"Sampai sini apakah ada yang ingin ditanyakan?" Naruto kembali menghadap para mahasiswanya, memberikan senyum teramah yang membuat matanya ikut tersenyum.
Ketika melihat para mahasiswanya hanya tersenyum dan beberapa darinya mengalihkan pandangan, Naruto tahu bahwa sudah saatnya Ia mengakhiri pelajaran.
Ia pun menutup pelajaran hari itu dengan tugas research yang harus dipresentasikan para mahasiswa minggu depan.
Dirapihkannya buku dan lembaran jurnal di meja, sembari membalas salam pamit dari beberapa mahasiswanya yang tersenyum malu-malu ataupun dengan terang-terangan menggodanya.
Suasana kelas hening ketika Naruto selesai membereskan barang-barangnya. Ditariknya sedikit lengan kemeja sebelah kiri, hanya untuk mengecek waktu yang terasa bergulir cepat.
Naruto pun berjalan menuju parkiran mobilnya untuk menuju rumah, rumahnya bersama sang kekasih.
"Gaara, aku akan pulang terlebih dahulu. Bisakah kau pulang malam ini? Aku sangat merindukanmu."
Naruto mengetik pesan itu cepat seraya berjalan santai di trotoar kampus.
Dihembuskannya nafas keras. Belakang waktu ini, kekasihnya Gaara menjadi sangat sibuk. Di umurnya yang berusia 32 tahun, Gaara akan menjalani pelantikan menjadi rektor universitas tempatnya mengajar, menjadikannya sebagai rektor termuda dalam sejarah kampus itu.
Naruto mengerti itu berat dan tidak mudah, tentunya akan memangkas habis waktu kebersamaan mereka. Tetapi Naruto juga tak bisa mengelak atas kerinduan dan rasa sepi yang menggerogotinya tiap detik.
Pikirannya dipenuhi kekhawatiran itu hingga menginjakkan kaki di apartemennya, apartemen mereka berdua.
Tas yang dilempar di bawah lantai, memberikan kesan malas ketika Naruto ikut melempar tubuh lelahnya ke atas sofa. Matanya terpejam, membiarkan rasa sepi melahapnya, tak menyalakan satupun distraksi suara.
Ia mengecek lagi ponselnya. Masih belum ada balasan dari Gaara, Naruto terkekeh pelan. Entah apa yang lucu, mungkin karena Ia sudah tidak tahu harus bereaksi sedih seperti apa.
"Apa untuk membalas pesan saja sesulit itu, Gaara?" Naruto berbisik pada ponselnya yang menampilkan ruangan percakapan keduanya. Hanya dia yang selalu mengirimi pesan, tanpa balasan, ataupun reaksi. Naruto seperti berbicara dengan boneka mati.
Mata birunya yang suram melirik sekilas ke kalender. Dilihatnya lingkaran merah di bulan ini, membuatnya menaruh seluruh atensi untuk mendekati kalender kertas tersebut.
Wajahnya yang kebingungan berganti sumringah ketika menyadari bahwa besok merupakan tanggal anniversary mereka yang ke-10.
Oh, Naruto tentu saja tak boleh membiarkan ini menjadi hari biasa. Iya harus menyiapkan persiapan romantis dan menyenangkan untuk kekasihnya. Setidaknya, Gaara tentu akan menyediakan hari di malam perayaan anniversary mereka bukan? Karena selama bersama Naruto dari awal, Gaara selalu memprioritaskan kekasihnya.
YOU ARE READING
Guilty [Sasunaru]
RomanceSeumur hidup, Naruto mungkin akan menyesali keputusannya untuk pergi di malam itu. Malam yang menjadi malapetaka bagi hubungannya dengan sang kekasih yang telah terjalin selama sepuluh tahun. Antara hati yang tersakiti dan cinta yang membingungkan...
![Guilty [Sasunaru]](https://img.wattpad.com/cover/357129221-64-k133440.jpg)