• 01 [RAGANA]

446 7 7
                                        

Apa yang terlintas di pikiran mu? Ketika, mendengar atau membaca kata Ragana? Bukankah tertuju pada maksud jatuh cinta? Bagaimana, dengan dirimu sendiri, apa sudah pernah merasakan jatuh cinta?

Jangan pernah takut untuk jatuh cinta, karna dengan jatuh cinta kamu akan mengenal dirimu dari sisi lain. Dan karna jatuh cinta kamu akan dibuat menjadi versi terbaik di dalam hidupmu sendiri.

•••

"Donat nya, guys!!!"

Suara itu berasal dari seorang perempuan yang berjalan berkeliling kampus dengan keranjang putih yang berisi jualannya. Cerahnya pagi hari ini, membuat semangat nya makin besar.

"Anaaa, gue mauu!!!"

Anaurel Kashafa Cakara, perempuan yang menjual donat itu langsung menghampiri sekelompok mahasiswa lainnya. Banyak dari mereka membeli untuk sarapan pagi, apalagi donat Ana terkenal di kalangan mahasiswa lainnya.

"Ana, kok tumben lo gak titip di kantin? Gue baru aja dari sana, buat cari donat lo eh malah gak ada, kenapa gak ada?" Tanya salah satu kakak tingkat Ana,

Ana hanya tersenyum, "Sorry Kak Dara, gue udah gak boleh nitip lagi di kantin. Katanya, penjual sana kalah saing, gitu sih," jawab Ana, terakhir dia nitip jualan malah ditegur sama penjual lain perkara dagangan nya gak pernah laku.

"Yaelah, orang sirik! Kalo lo mau, lo boleh kok bilang ke BEM buat dibantu titip di kantin, gue kasian lihat lo bawa keranjang kemana-mana," tutur Dara,

Ana baru kepikiran, kenapa dia gak meminta bantuan anak BEM saja?

"Duh, gue gak enak kak. Terlebih gue gak ikut BEM, emang kalo boleh tau ketua BEM sekarang, siapa ya?" Tanya Ana, sebenarnya mau-mau aja sih tapi ini soal enak nggak nya.

"Raga noh, anak FH. Lo mau, gue bantu?" Tawar Dara,

Ana hanya diam, mendengar nama Raga sudah membuatnya terdiam seribu bahasa. Dara langsung menepuk pundak adik tingkat nya itu, "Lo masih ingat kejadian itu yaa??" Tanyanya, Ana hanya terkekeh pelan.

"ANAAA!!"

Suara cempreng itu berasal dari jauh, sudah bisa di tebak kalau itu ketiga sahabatnya. Ana dan Dara bahkan sama-sama menutup telinga nya, memang suara itu persis suara lumba-lumba.

"Jenny? Lo bisa kan, gak teriak?" Tegur Dara, pemilik nama Jenny hanya bisa menggeleng dengan santai. Jenny merangkul Ana, dan tersenyum melihat Ana yang menatapnya sinis.

"Eh iyaa kak dara, gue mau daftar jadi anggota BEM. Gue minta formulir dong," Jenny menadahkan tangan nya pada Dara untuk menunggu kertas formulir.

"Jualan lo, gimana??"

"Banyak yang beli, terus mereka pada nanya Jeh, kok gue gak nitip lagi di kantin. Kan, gue bingung juga sih jawabnya." Jawab Ana, Rose perempuan campuran Australia dengan Indonesia itu yang duluan tahu soal ini. Karna saat mengambil keranjang jualan, dia selalu menemani Ana toh mereka juga satu fakultas dan satu jurusan.

"Yaudah, gapapa. Rejeki lo pasti ada kok," jawab Rose yang sedikit menghibur Ana.

"Gapapa, gimana?! Tuh bule kantin, sirik emang!"

"Gak boleh gitu, Lis. Gue beneran gapapa kok," ucap Ana, di antara mereka emang Lisa sama Jenny yang paling mudah emosi.

Saat Jenny sibuk mengisi data formulir, Dara juga memberikan formulir itu pada mereka bertiga. Ana hanya memandang nanar formulir itu, "Gue gak ikut kak, makasih tawarannya. Mungkin temen gue aja kali yang mau ikut," tolak Ana dengan halus dan menaruh formulir itu di sebelah Dara.

RAGANAWhere stories live. Discover now