disclaimer: fanfic ini bukan genre LGBT, di sini fb jadi sodara bukan pasangan.
Ditagar juga udah jelas ya, gaada aku tag berbau LGBT, jangan nanti pas tau ending protes kenapa fb gak jadi pasangan.
_____________________________________
"Minggir."
Freen mendorong kasar gadis yang menghalangi jalannya, membuat gadis itu hampir terjatuh seandainya saja tidak ada teman yang menahannya.
Tanpa mempedulikan apa pun, Freen melanjutkan langkahnya menuju kafetaria yang diikuti oleh teman-temannya.
"Lo nggak apa-apa kan?"
Irin yang tadi menahan tubuh Becca, bertanya cemas. Pasalnya tidak hanya sekali kakak kelas mereka itu selalu bersikap kasar kepada Becca tanpa alasan yang jelas.
"Santuy, aku nggak apa-apa ," jawab Becca sembari tersenyum. Becca adalah gadis yang ceria, kejadian seperti tadi tidak akan mempengaruhinya.
Kedua gadis itu kemudian melanjutkan tujuan mereka yang juga ingin ke kafetaria.
"Beck, Lo sadar nggak, kak Freen itu kek benci banget sama Lo, tiap kali kalian ketemu selalu ada aja alasan buat kasar ke Lo. Sebenarnya ada masalah apa?"
Irin mengungkapkan rasa penasarannya yang sudah lama dia pendam. Karena menurutnya pasti ada alasan mengapa Freen terkesan membenci Becca. Setahu Irin, Freen bukan siswa yang suka membully. Kakak kelasnya itu malah terlihat cuek.
Dulu dia malah pernah menolong Becca ketika penyakit Becca kambuh pas masa MOS. Akhir-akhir ini saja sikap Freen yang seperti itu.
"Udah ah, mungkin kebetulan aja."
Becca menarik lengan temannya agar mempercepat langkahnya. Dia tidak mau ambil pusing dengan sikap Freen kepadanya.
Sampai di kafetaria, Becca dan Irin menempati meja yang kosong setelah mengambil menu yang akan mereka makan.
Di SMA Bintang, kafetaria sekolah memang menyajikan berbagai menu ala Buffet sehingga siswa tinggal memilih dan mengambil sendiri apa yang ingin mereka makan. Becca mengambil roti lapis dan buah potong karena dia tidak begitu lapar, sementara Irin mengambil nasi dengan ayam goreng.
"Temenin cari kado ya nanti," kata Becca kemudian memasukkan potongan semangka ke mulutnya.
"Siapa yang ulang tahun?"
"Kado buat nikahan papa," jawab Becca. Gadis itu kemudian tersenyum.
Terlihat jelas aura kebahagiaan di wajahnya.
Setelah sekian lama menginginkan papanya menikah, akhirnya keinginannya itu segera terwujud. Dia akan memiliki mama.
Becca sudah akrab dengan calon mama barunya. Mereka telah banyak menghabiskan waktu bersama dan Becca merasa klik dengan calon istri papanya.
Mama Karin begitu Becca memanggilnya sekarang. Wanita cantik yang mengisi kekosongan seorang ibu untuk Becca. Mama kandung Becca memang telah meninggal ketika melahirkannya dulu, membuat Becca tumbuh tanpa sosok ibu. Sejak lama Becca menginginkan seorang ibu dihidupnya. Dia selalu meminta papanya untuk menikah lagi.
Tapi bagi Heru Suseno, papa Becca, menikah bukanlah hal yang sulit tetapi tidak mudah mencari sosok yang tidak hanya menerima dirinya namun juga harus menerima Becca sebagai anaknya.
"Ciee selamat ya, akhirnya Lo punya mama," kata Irin membuyarkan lamunan Becca.
Senyum di wajah Becca semakin lebar. Dia tidak pernah berhenti memuji sosok wanita hebat yang dipilih papanya itu. Rasanya tidak salah menunggu lama demi mendapatkan sosok seperti mama Karin.
"Lu tahu kan, gue udah sayang banget sama mama Karin, dia wanita yang baik banget. Gue beruntung punya mama seperti dia."
Braaakk!
YOU ARE READING
SAFE & SOUND (complete)
FanfictionTidakkah cukup mama memilikiku saja tanpa memasukkan orang lain ke rumah kita. Aku hanya tidak ingin mama terluka lagi _ Freenka Joffani Terimakasih karena mau menjadi mama untukku. Aku mencintaimu mama Karin _ Rebecca Suseno
