Permulaan

20 3 0
                                        

BAB 1

Hai, Aku Shinta. Ini kisahku saat menginjak usia sekolah menengah atas.

Ini pertama kalinya aku masuk sekolah lagi setelah libur panjang sehabis ujian akhir tahun di kelas 10 dan sekarang aku naik kelas 11. Pertama kali aku memasuki gerbang setelah libur panjang, sangatlah ramai anak-anak seusiaku yang sedang berkeliaran di hall sekolah. Mereka semua sedang sibuk sendiri-sendiri, ada yang sedang ngobrol dengan teman-temannya, makan di kantin yang ngakunya 3 padahal ambil 5, dan kebingungan mencari kelas sehabis dirolling hahaha.

Ku berjalan sambil melihat ke kanan-kiri semua sudah ada temannya, aku cukup gugup karena aku belum terlalu dekat degan siapapun walau sudah setahun bersekolah di sini. Aku menghela nafas, ku angkat semua keberanianku. ’Aku bisa’ ucapku dalam hati seraya tersenyum tipis.

Sesampainya di kelas baruku, aku duduk di pojok belakang karena lebih nyaman terlebih lagi belum kenal siapa-siapa di kelas baru ini. Aku berharap anak perempuanlah yang duduk di sampingku, tapi seorang anak lelaki tiba-tiba duduk di bangku sampingku.

“Salam kenal, panggil aja aku Theo. Siapa namamu?” katanya dengan wajah datar.

“O-oh iya, salam kenal. A-aku Shinta.” jawabku sambil menggaruk pipi.

Percakapan pun menghening. Ku lihat semua anak perempuan sudah memiliki temannya, aku ingin ikut mengobrol dengan mereka. Namun, apakah mereka akan menerima diriku? Apakah aku bisa mengikuti arus mereka? Apakah akan berakhir sama seperti saat SMP?

Theo menghentikan permainan game-nya, lalu melirikku perlahan "Ngapain ngelamun gitu? Kalau mau kenalan tinggal dekati saja mereka, gak susah kok."

"Ngomong doang mah gampang, kamu kan cowok mana tahu seberapa takutnya aku." Kataku sambil berusaha sabar.

"Lha? Nge-remehin? Sini aku kasih contoh!"

Theo pun mendekati sekumpulan perempuan yang sedang asyik mengobrol.
"Hai, ladies. How are you all feeling today? Kalau ada apa-apa ngomong sama aku aja, namaku Theo." Katanya lalu mengedipkan mata.

Salah satu dari mereka, yaitu Cella menjawabnya.
"Tadi sih fine-fine aja, tapi setelah ada kamu jadi kayak neraka di sini panas dan buruk, HAHAHA." Mereka pun tertawa.

"Shit, panas? Am I too hot for ya?" Theo menyeringai.

"Gua suka gaya lu, Theo. Well, if you can buy us some snake in break time, we will show respect." Kata Cella sambil menggulung rambutnya dengan jari.

"Simple. Tapi, kalian juga harus ajak dia main." Theo menunjuk ke arahku.

"Eh?! T-theo!"

"Her? She looks like a nerd, but it's okay. Gua awalnya juga nerd."

***

Lalu jam mulai menunjukkan pukul tujuh pagi, bel sekolah pun mulai berbunyi. Semua murid yang ada di luar kelas langsung berhamburan masuk ke dalam. Ada suara langkah kaki yang menuju tepat ke kelas kami. Seorang guru pria dengan jaket biru dongker memasuki kelas.

“Halo semuanya, perkenalkan saya Mr Beni, bapak akan menjadi wali kelas kalian selama setahun ini, bapak harap semuanya berjalan lancar dan kita semua bisa akrab satu sama lain. Kalau ada masalah apapun bisa curhat ke bapak.”

Setelah Mr Beni mengenalkan diri, semua mengucapkan, "Halo, Mr Beni."

Pada hari itu kami semua hanya mengenalkan diri masing-masing karena masih awal masuk sekolah setelah ujian. Senangnya, aku bisa masuk ke circlenya Cella walau aku masih bingung apakah aku hanya merasa diterima saja atau sungguhan.

***

Bel istirahat berbunyi, beberapa anak ada yang pergi ke kantin untuk membeli makan, namun ada yang membawa bekel dari rumah, termasuk aku. Aku, Cella, dan teman-temanku yang baru saja aku kenal sedang makan siang bersama di dudukan jendela. Iya, dudukan jendela. Seperti di anime-anime gitu, sekolahku ini memang bagus, ya.

“Boleh minta nomormu? Biar kita bisa komunikasi di rumah juga, sekalian masukin kamu ke grup. Duh, maaf ya kalau aksesnya jelek. Aku gak terbiasa bilang aku-kamu.” kata Cella.

“Oh, boleh banget! Gak apa-apa. Toh, bahasa Indonesia gak butuh aksen yang pas.” kataku sambil tersenyum.

Lalu kami mulai bertukar nomor dan saling follow alias mutualan di sosial media, seperti Instagra*, TikTo*, dan Spotif*. Teman-temanku, um... Teman-temannya Cella tidak se-aktif dan se-ekspresif Cella ketika mengobrol, dia bagaikan jantung dari circle ini.

***

PUDARDonde viven las historias. Descúbrelo ahora