"Gue bosan banget di Apartment doang." Setelah Pizza habis di tangannya, Taeyong meminuk soda yang tergeletak diatas meja dan meneguknya.

"Ya, sama." Jawab Ten. Laki-laki berambut blonde itu terlihat fokus pada acara televisi.

"Ke Mall yuk." Ajak Taeyong pada Ten.

Ia hanya Ten. Karena Doyoung sangat tidak suka pada tempat ramai itu, katanya menguras dompet.

Ten menolehkan kepalanya kearah Taeyong, dan ia sedikit berfikir. "Boleh deh." Jawabnya membuat Taeyong memeluk Ten membuat laki-laki itu kaget dengan pergerakan Taeyong yang secara tiba-tiba.

"Lepas bego!" Ten melepaskan pelukan Taeyong pada tubuhnya, membuat Taeyong terkekeh.

"Hehe. Ayo siap-siap." Setelah mengatakan kalimat itu, Taeyong berjalan kembali kearah kamar dan dirinya harus segera bersiap-siap.

Setelah mereka berdua sampai di Mall tujuan. Ten dan Taeyong segera masuk kesalah satu Kedai Ice Cream. Karena diluar sungguh panas! Mereka butuh sesuatu untuk menyejukan tubuh mereka.

"Dingin nya." Taeyong memejamkan matanya kala lidahnya bersentuhan dengan Ice cream yang ia beli, begitu juga dengan Ten.

"Kita mau kemana?" Tanya Ten saat mereka sudah menghabiskan satu cup ice.

Taeyong sedikit berfikir. "Makan dulu yuk, gue masih lapar." Sejujurnya memakan satu lembar Pizza tadi tidak mengenyangkan. Ia mengakui kalau dirinya memang banyak makan. Hal itu tak asing bagi Ten, dimana pun dan kapan pun Taeyong pasti selalu mengunyah.

Namun tubuh Taeyong tidak gemuk dan perutnya juga tidak membucit. Walau Taeyong banyak makan sekalipun, hal itu sedikit membuat Ten iri. Ya, walau dirinya juga hampir sama dengan Taeyong namun bedanya Ten tidak memiliko nafsu makan sebanyak Taeyong.

Setelah memutuskan mau makan apa. Ten dan Taeyong berjalan ke salah satu restoran Italia yang tak jauh berada dari kedai ice cream tadi. Mereka berdua masuk dan memesan makanan. Sembari menunggu pesanan datang Taeyong melihat interior Restoran ini. Cukup bagus.

Perhatian orang-orang yang berada didalam Restoran ini mulai sedikit berisik, pasalnya semua orang yang ada didalam Restoran ini mulai saling membisik satu sama lain. Hal itu tak luput dari perhatian Ten dan Taeyong.

Taeyong tersenyum pada orang-orang yang melirik nya. Ada sebagian yang memotret dirinya. "Lu sih! Tadi gue suruh tutup kepala sama wajah malah nggak mau. Jadi rame banget kan sekarang." Keluh Ten pada Taeyong.

Saat mereka saat di mobil menuju Mall, Ten sudah memperingatkan Taeyong untuk menutup wajahnya menghindari orang-orang. Namun Taeyong menolaknya secara mentah-mentah, dirinya sangat bosan dengan topi serta masker yang harus ia pakai dimana pun dan kapan pun, itu membuatnya sedikit jengkel.

"Udah biarin." Taeyong kembali tersenyum saat seseorang menghampiri dirinya dan mengajaknya berfoto. Setelahnya orang-orang pun mulai mendekat secara perlahan ke meja Taeyong. Kondisi mulai tidak kondusif saat seorang Ibu-ibu menarik tangan nya dan membuat dirinya kaget.

Ten menarik tangan Taeyong, namun tenaga nya tidak cukup kuat untuk melawan segerombolan Ibu-ibu yang memegang tangan Taeyong.

"Ibu, saya minta tolong lepas ya. Tangan saya sakit." Ujar Taeyong memohon, karena sungguh pergelangan tangannya sakit.

Namun tak Taeyong sangka, ada seseorang yang melepaskan secara paksa tangan Ibu-ibu itu dan langsung menarik dirinya. Taeyong sudah pasrah ia dibawa kemana. Ten yang melihat itu langsung menyusul Taeyong.

Taeyong mendongak keatas untuk melihat orang yang menolong dirinya. Kini dirinya dibawa ke salah satu Restoran Jepang dan mereka masuk kedalam ruangan itu.

"Kamu sekarang aman." Suara itu, Taeyong kembali melihat orang yang menolong dirinya.

Jung Jaehyun.

Manik mata Jaehyun beradu dengan mata hitam milik Taeyong. Dirinya sungguh tak menyangka akan bertemu kembali dengan CEO ditempat nya bekerja.

Tak lama, pintu terbuka menampilkan Ten dan Wendy, mereka terlihat panik. "Aman, Sajangnim." Wendy mengambil nafas karena ia berlari bersama Ten saat menghindari para penggemar Taeyong.

"Makasih." Taeyong bersuara membuat Jaehyun menolehkan kepalanya kearah Lelaki cantik itu, dan tersenyum.

"Sama-sama."

Merasa sudah cukup baikan, Jaehyun mengajak Taeyong dan Ten untuk makan siang bersama. Taeyong menolak pun tidak bisa karena diluar Restoran masih ramai orang yang menunggu Taeyong. Untung mereka sekarang berada diruangan Khusus yang Jaehyun pesan.

Sebenarnya Jaehyun tadi sempat melihat Taeyong memasuki Restoran Italia itu. Namun dirinya terlihat cuek saja, namun tak lama Wendy memberitahukan kalau di Restoran tempat Taeyong berada mulai ricuh, dengan beralasan kemanusiaan Jaehyun sengaja menunda meeting nya untuk menolong Taeyong.

Dan disinilah mereka berada. "Kalau begitu saya tinggal sebentar nggak apa-apa? Saya masih harus meering diruangan sebelah." Jaehyun melirik jam yang ada dipergelangan tangan nya.

"Oh, iya boleh silahkan." Taeyong sedikit berdiri untuk mengantar Jaehyun dan Wendy ke ruangan sebelah.

Setelah pergi, Taeyong pun langsung terduduk dan bersandar pada Ten. "Gue mau nangis rasanya, tangan gue ditarik sampai merah gini." Taeyong memegang pergelangan tangan nya yang memerah.

"Nggak usah marahin gue!" Taeyong kembali bersuara saat ia melihat Ten membuka mulut. Dirinya pasti akan dimarahi lagi.

Melihat itu Ten pun tidak tega untuk memarahi Artis-nya sekaligus Sahabatnya ini kesakitan.

***

How's ur day everyone?

Idol (JAEYONG)Where stories live. Discover now