Hallo, Pengkhol!
Cerita Dermaga Cinta Damaresh atau DCD ini projects pertama yang berkolaborasi dengan beberapa Author lainnya, lhoo!
Btw, ada yang kenal aku siapa?
Kalau gaada, ayo kenalan!
Nama aku, Jeany.
Tanpa basa-basi lagi, let's read!
"Saya gak berharap kamu lahir. Apalagi dari rahim saya. Kamu ini anak pembawa sial!" ucapan pedas itu keluar dari bibir seorang wanita muda yang tengah menatap nyalang wajah anak lelaki-Nya.
Sedangkan sang anak? Ia hanya bisa menunduk dan terus menunduk. Tak berani membalas, apalagi menatap wajah sang Ibunda. Dadanya naik turun menahan diri agar tidak menangis. Air matanya sudah terkumpul di kelopak matanya.
Tidak, tidak!
Dia anak lelaki. Anak lelaki tidak boleh menangis.
"Andai dulu saya tidak mendengarkan apa kata Papa mu, mungkin saya tidak sengsara seperti sekarang."
"Kenapa saya tidak menggugurkanmu saja?"
"Saya ingin mengaborsi kamu-" Rosa menggantungkan ucapannya. Nafasnya menderu menahan emosi.
"Saya sudah meminum berbagai jenis obat-obatan, tapi kenapa kamu masih berkembang dalam janin saya?"
"Kenapa, Damaresh?"
"KENAPA?" jerit Rosa tak terima.
Damaresh, lelaki itu sudah tak bisa menahan tangisnya lagi. Perlahan, air matanya mengalir membasahi wajahnya yang tampan bahkan hampir sempurna.
Aborsi?
Seenggan itu kah?
Apa salah Aresh sampai Mama-Nya tak mengharapkan kehadirannya?
Byar!
Rosa membanting vas bunga yang berada disampingnya, membuat vas itu pecah berkeping-keping. Ia berjalan mendekati putra tunggalnya, lalu mengguncang-guncang tubuh kekar itu dengan kuat.
Sama seperti Aresh, Rosa pun menangis. Ditengah isakkannya, Rosa berkata dengan lirih, "Saya benci kamu... saya benci kamu, Damaresh!"
Aresh hanya diam tak berkutik. Ia ingin mencoba memeluk tubuh wanita muda itu namun selalu ditepis oleh sang empu.
"Maaf, ma... maaf," cicit Aresh merasa bersalah, walau sebenarnya ia tak tahu salahnya apa.
Aresh mencoba meraih kedua tangan sang Ibu, namun lagi lagi Rosa menolaknya secara mentah-mentah.
Rosa berjongkok, ia merasa hidupnya sangat berantakan sekarang. Ia menyesal, mengapa ia harus melahirkan Damaresh? Mengapa ia tak berbuat nekat saja dulu? Ia sangat menyesal.
Tak tahan lagi, Aresh pun segera berlari keluar rumah. Ia meraih kunci motor yang berada di saku celananya lalu pergi meninggalkan pekarangan rumah. Tak peduli ia masih menggenakan seragam SMP saat itu.
Yang terpenting, ia harus memberi waktu Mama-Nya untuk menenangkan diri. Dan memberi waktu untuk dirinya sendiri.
"Tuhan, semoga besok Mama peluk Aresh!" mohon Aresh.
Kecepatan motornya membelah jalanan yang masih ramai kendaraan. Ia juga tak mempedulikan orang-orang yang menatapnya dengan tatapan aneh karena menangis disepanjang jalan.
"Mama jangan benci Aresh... Aresh kan gak benci mama...,"
Kira-kira, kenapa Mama Aresh gak terima kalau Aresh hidup?
Ada yang nunggu chapt selanjutnya?
Jangan lupa vote+komen, khol!!
Jangan lupa juga follow akun Tongkhol!
@wp.tongkholkiyowo (Instagram)
tongkholkiyowo (Wattpad/Akun utama)
see you in the next part! 🎸🖤
YOU ARE READING
DERMAGA CINTA DAMARESH
Teen FictionBerkisah tentang Candarakara Damaresh yang berusaha meraih pelangi dalam hidupnya. Aresh ingin dipeluk Mama. Aresh ingin mempunyai foto keluarga. Aresh ingin Papa tidak terlarut dalam kerjaannya. Dan Aresh ingin berkumpul lebih lama bersama keluarga...
