0,1》Prolog

13 1 0
                                        


Bukan kehadiranmu disampingku yang sangat kuharapkan
Tapi waktu lebih lamalah yang kuharap untuk melihat wajah bahagiamu

🦋○🦋

Kehilangan adalah kesedihan yang biasanya tak berujung. Ditinggalkan adalah patah hati yang sangat menyakitkan, hingga merasa tak pantas bahagia karena kesedihan berkepanjangan. Terbiasa akan kesepian sangat terasa asing jika ada keramaian, hati manusia selalu dilarut larutkan dalam perasaan yang menyakitkan.

"Gue kasian banget sama si Nasta." Teman sebangkunya lantas menoleh dan sedikit menurukan kacamata, yang sejak tadi bertengger pada batang hidung Gentari.

"Nasta maksut lo? Emang napa dah tumben amat lo kasian sama orang." Gentari kembali mencatat, dan mengabaikan Kinanta yang sibuk bersuafoto pada ponselnya.

"Ya kasian aja tar, dia kaga punya temen. Bahkan kalo makanpun dia duduk sendiri tuh dipojok kelas." Dengan wajah berkspresi imut didepan kamera Kinanta menceritakan pemandangan yang terus membuatnya tak enak sejak kemarin.

"Suruh aja no si cengungut kelas buat nemenin." Jawab Gentari kembali acuh.

"Tuh lo lihat aja, dia udah digerombolin sama temen temen kita aja dia cuman diem aja." Kinanta menyenggol lengan Gentari dengan kasar.

Gentari berdecak kesal, lalu melirikan matanya kearah segerombolan siswa yang sedang tertawa girang. Dan benar Hanasta tampak menyumpali telinganya dengan aerphone dan terus mengotak atik ponselnya.

"Ya mungkin, dia lagi ga mood." Gentari kembali menyalin catatannya. Kinanta mendencih lalu pergi keluar kelas, tepat saat bel istirahat bergema keseluruh penjuru kelas.

"Mau kemana lo?!" Teriakan Gentari membuat Kinanta berbalik dengan sebal.

Dengan menunjukan jari tengahnya Kinanta berkata sebal. "Kantinlah sat!" Gentari hanya mengangguk sambil memberi gestur mengusir Kinanta.

Setelah menyelesaikan semua catatannya Gentari membereskan bukunya, dan menyusul Kinanta di kantin. Namun pandangannya teralihkan ketika ia melihat Hanasta masih setia pada posisi memainkan ponselnya. Yang diamana lainnya sudah kekantin sejak tadi.

Ia melangkahkan kakinya untuk menyapa Hanasta, sangat berat untuk bertingkah tidak peduli di keadaan seperti ini. "Kuna," panggil Gentari sembari menepuk pundak pemuda itu pelan.

"Kenapa?" Dengan wajah tanpa ekspresi Hanasta menatap Gentari.

"Gak kekantin lo?" Hanasta hanya menggeleng lalu kembali memainkan ponselnya.

"Nitip ngga? gue mau kekantin nih"

"Ngga usah, makasih." Hanasta terus mentap ponselnya tanpa melihat Gentari yang sudah berada didepan pintu kelas.

"Ya udah gue duluan." Pamit Gentari pada Hanasta, dan meninggalkan kelas begitu saja. Ia yakin Hanasta takkan menjawabnya.

Gentari tak mengerti mengapa ada, manusia tanpa emosi dan ekspresi seperti dia. Bahkan untuk bersosialisasi Hanasta tampak tak tertarik. Satu tahun atau dua tahun terahkirlah Hanasta semakin diam. Gentari mengangkat bahunya acuh, lalu melanjutkan langkahnya meninggalkan kelas.

🦋●🦋

"Harus banget nih gue yang ngajarin dia?" Dumel Gentari pada Kinanta yang sibuk mengunyah.

"Kenapa ngga lo aja? Atau si Intan aja dia kan pinter." Gentari terus mengomel, dengan tangan sibuk memotong motong batagor dipiringnya.

"Lo yang ditunjuk ya nurut aja, lagipula lo ngga goblok-goblok amat. Ajarin aja ngapa." Kinanta yang geram mendengar ocehan temannya itu, lantas memukul Gentari dengan sumpit.

"Gue males pulang malem Bagingang!"

"Tapi kan lo dapet duit kan dari sekolah? Buat ganti waktu sok sibuk lo itu."

Gentari melirik sinis pada Kinanta. "Gue memang sibuk tai!"

"Sibuk rebahan, sama joget-joget kaya orang gila, Iya?" Kinanta tampak acuh tak acuh pada Gentari yang mulai murka.

"Dahlah males makan gue sama lo!" Dengan kesal Gentari meninggalkan Kinanta yang masih menikmati mie ayamnya.

Dengan perasaan jengkel Gentari meninggalkan kantin dan berniat untuk jajan di depan gerbang saja. Sepertinya perutnya tak akan kenyang, hanya dengan separuh porsi batagor kantin tadi.

Hari ini terasa sangat terasa menyebalkan, Gentari tak terima mengapa harus dirinya yang menjadi guru les si Hanasta Lakuna. Ya walaupun ia mendapat uang transport dari ayah Lakuna tapi mengapa harus Gentari. Dan jika dipikirkan Gentari bukanlah anak yang sangat berprestasi, masih banyak teman kelasnya yang lebih pintar dibandingkan dengannya.

Gentari tak henti-hentinya menghentakan-hentakan kakinya dengan sebal. Sepanjang perjalanan menuju gerbang hampir semua orang yang berpapasan dengan Gentari mentapanya heran.

"Mang baksonya satu!" Kemudian ia menarik kursi plastik yang masih kosong untuk dirinya.

"Pedes, ga pake sledry, ga pake mie kuning, ga pake saos, pake sambel sama kecap aja ya mang" imbuhnya lagi ketika tukang bakso mulai membuatkan pesanannya.

Ketika menunggu pesanan bakso nya siap Gentari tak sengaja melihat Hanasta sedang menyeruput mie instan cup, dan sebotol air meneral dingin disampingnya. Lalu dengan kesal ia menghampiri lelaki berkacamata itu.

"Woy lakuna! Pasti lo kan yang bilang ke pak Ardi!?" Dengan kesal Gentari langsung memarahi Hanasta begitu saja.

Hanasta hanya menatap heran gadis yang ada dihadapannya sekarang. Lalu melanjutkan memakan mienya.

"Kenapa lo diem aja?! Kenapa harus gue sih, gue ga sepinter itu buat jadi temen belajar lo!" Hanasta hanya acuh dan tetap melanjutkan kegiatannya seolah tak ada yang berbicara padanya. Membiarkan Gentari yang sedang marah-marah tak jelas padanya.

"Gue bakal cari ganti gue, yang lebih cocok buat jadi guru les lo buat nanti sore. Gue yang bakal bilang ke pak Ardi dan Ayah lo nanti." Putus Gentari, berhasil membuat kegiatan Hanasta berhenti makan.

Kemudian Hanasta menatap Gentari yang sudah sangat terlihat kesal. Hanasta menghembuskan nafasnya dengan berat.

"Gue cuman mau minta waktu lo delapan bulan buat nemenin gue. Lo ga perlu ngajarin gue apapun, cukup lo temenin gue itu lebih dari cukup." Setelah mengatakan itu hanasta meninggalkan Gentari yang terdiam kaku.

Meninggalkan Gentari dengan kalimat yang sedikit terdengar ambigu di telinga Gentari. Dengan nafas memburu Gentari menatap punggung Hanasta yang mulai tenggelam diantara puluhan siswa-siswi di lorong sekolahnya.

🦋○🦋

Tak semua kisah cinta berahkir bahagia bukan? Begitu juga dengan kisah cintaku yang selalu tak berahkir bahagia.

BianglalaWhere stories live. Discover now