Sudah berapa lama dia tidak menghirup udara tropis ini, sekian lama dia diasingkan oleh orang yang mengaku itu demi kebaikannya. Sedikit lucu, bukankah yang terbaik bagi seorang anak itu adalah bersama dengan keluarganya? Tapi dirinya diasingkan bahkan sejak balita.
Menginjakkan kaki kembali ke tanah kelahirannya ini begitu sulit, Jules sampai harus memperdaya beberapa orang yang biasanya berada di belakangnya itu. Mungkin mereka sekarang ini sedang menghadapi murka dari pamannya, sudahlah itu resiko mereka. Yang penting dirinya telah berada di sini dan menemui papanya. Orang yang begitu dirindukannya.
Jules menutup pelan mobil itu, sebuah benda beroda 4 yang dipinjamnya dari salah seorang teman yang rela hati memberikan apa yang dibutuhkan olehnya. Mungkin nanti dirinya akan membalas kebaikan hati dari teman yang dikenalnya ketika mereka satu sekolah di luar negeri sana. Tapi nanti, setelah dirinya bertemu dengan papa yang begitu ingin ditemuinya.
"Udara tropis, menyenangkan," gumamnya pelan sebelum menoleh ketika ada suara. "Siapa itu?"
"Sendirian saja, huh?" sebuah sapaan sedikit mengejutkan, baru sampai di sini sudah bertemu dengan orang yang sepertinya tidak bersahabat.
"Kamu, terlihat mampu. Jadi, bisakah kamu sekedar menyumbang untuk membeli minuman? Kami kehabisan uang," kata seorang pemuda lain yang dengan senyum sinis itu memegang senjata tajam.
Jules menghela napas dalam, baru sampai di sini dalam hitungan jam tapi sudah disambut dengan meriah, haruskah dirinya bertepuk tangan dengan girang? Tapi sebaiknya tidak perlu mencari masalah, mereka hanya mau uang dan kebetulan dirinya punya. Dia melihat ke sekeliling, di sini sepi sekali, pantas saja para orang jahat itu leluasa merampoknya di ruang terbuka begini.
"How much?" tanya Jules yang mana memang masih tidak seberapa lancar berbahasa Indonesia.
"Kami tidak mengerti kamu bicara apa, sudahlah tidak penting, beri kami uang." Pemuda berandalan itu semakin mendekatkan benda tajam itu ke pinggangnya.
Jules mengeluarkan dompetnya dengan tenang, kalau hanya minta uang kenapa ribut sekali. Dia punya banyak, setidaknya kawannya itu sempat memberinya cash yang katanya cukup untuk hidup satu minggu, dan lagi berderet kartu itu masih bisa dipakainya hidup dengan cukup, kalau tuan muda Vard itu tidak memblokirnya. Pamannya itu kadang suka berlebihan.
"Kamu lamban sekali," kata pemuda yang bertato burung elang itu segera meraih dompet itu dan memeriksa isinya, senyum terpancar dari bibirnya.
"Ambil saja uangnya, sisanya ... berikan kepadaku." Jules dengan polosnya berkata.
"Enak saja, terima kasih. Ini tangkapan besar." Pemuda bertato elang itu menyeringai dengan menyeramkan tapi Jules melihatnya biasa saja.
"Apa itu yang bergantung di lehermu?" tanya pemuda lain yang menarik sebuah kalung, benda pemberian Vard ketika pamannya itu sedang kurang kerjaan.
"Jangan ... !" pekik Jules ketika pemuda yang selalu tertawa sinis itu berusaha menarik benda itu hari lehernya. Kala tuan muda Vard tahu dia menghilangkan kalung itu, pasti Jules akan berakhir menjadi perkedel daging.
"Berani kamu melawan?" tanya seorang pemuda dengan senjata tajam itu.
"Kamu sudah membawa uangku, give me back," kata Jules meraih kalung itu.
Tapi rupanya tangannya tidak lebih cepat dari pemuda yang membawa senjata tajam itu. Dia menghalangi Jules meraih benda berkilau itu dengan pisau yang sejak tadi berada di tangannya. "Diam kau anak kecil ... !"
Crashhh ... !
"Ughh," lenguh Jules ketika pisau itu melukai pinggangnya.
Sejenak 3 pemuda itu terdiam, seorang menyalahkan temannya yang membawa pisau itu kenapa dia sampai melukainya. Harusnya benda itu dipakai untuk menakutinya saja hingga apa yang mereka perlukan bisa didapatkan. Kalau begini bisa gawat, kalau sampai ada pihak berwajib yang tahu mereka akan mendapat masalah besar.
KAMU SEDANG MEMBACA
Topeng Sang Pewaris.
General FictionJules tidak pernah minta dilahirkan, tapi dia berada di dunia ini. Kehadirannya dulu pernah diinginkan oleh keluarganya, namun setelah tragedi itu bahkan papanya sendiri itu membencinya. Yang diinginkan olehnya begitu sederhana, hanya cinta dari or...
