Mentari adalah gadis Jawa yang lemah lembut dan sopan. Gigi gingsul di barisan gigi bagian kanan membuatnya begitu manis saat tersenyum. Usianya 18 tahun dan ia baru saja tamat dari Sekolah Menengah Atas.
Gadis itu hanya tinggal berdua dengan neneknya di rumah yang sederhana. Mereka tinggal di sebuah desa dengan semua penduduknya asli suku Jawa. Walaupun begitu desa itu tidak kuno dan ketinggalan zaman. Kehidupan di sana biasa saja, ada listrik dan ada juga handphone.
Mbah Miyêm, nenek Mentari, adalah seorang wanita berusia 70 tahun. Setiap hari ia membuat tempe untuk memenuhi kebutuhan hidup. Terkadang beliau masih bekerja serabutan untuk menambah penghasilan.
Kini, Mentari yang sudah lulus SMA bisa membantu pekerjaan Mbah Miyem sepenuhnya. Ada keinginan untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang perguruan tinggi. Namun, keadaan ekonomi yang kurang mendukung membuat Mentari mengurungkan niatnya.
"Mentari, tolong cari daun waru untuk membuat ragi lanjar ya!" Sang nenek memerintahkan Mentari pergi ke tanah di samping rumahnya yang banyak akan pepohonan dan rumput yang lebat.
"Okay nenekku". Mentari menjawab dengan semangat.
Mentari berjalan menuju kebon belakang rumahnya sambil sedikit menggumamkan sebait lirik lagu. "Menurut mu apa benar saat ini kau masih mencintaiku? Menurutmu apa yang bisa dicinta dari diriku?".
Sesekali Mentari melompat dan menyapa kupu-kupu yang terbang melintas. Suara cicitan burung Cabai jawa membuat Mentari berhenti untuk memandanginya. Mentari tersenyum lalu melanjutkan perjalanan nya. Namun, seakan haus perhatian, Sang Cabai jawa mengikuti Mentari sambil terus berkicau.
Sampai di bawah pohon waru yang lumayan besar, Cabai jawa itu terbang entah kemana. Mentari mulai memetik daun waru yang bisa digapainya. Setelah mendapatkan beberapa lembar, ia duduk di bawah pohon waru sambil menikmati angin yang berhembus.
Kebon di belakang rumahnya ini bukanlah kebun yang rapi dan cantik. Tidak begitu luas juga. Hanya saja, kebon ini membantu sebagian biaya hidup Mentari dan Mbah Miyém. Ada tanaman singkong, pisang, jahe, temulawak, talas, kentang ubi, cabai, kelapa, nangka dan masih banyak lagi.
Mentari meletakkan beberapa daun waru hasil petikannya dan mengumpulkan beberapa daun nangka kering. Kemudiannya ia juga mengambil lidi dari daun kelapa kering yang telah jatuh. Mentari duduk kembali di bawah pohon waru dan merangkai sesuatu.
Setelah beberapa menit dia menggerakkan tangannya, jadilah daun nangka kering tadi menjadi mahkota sederhana. Kemudian dengan tersenyum ia memakainya dan membayangkan dirinya dilantik menjadi seorang ratu di sebuah kerajaan seperti di novel-novel yang sering ia baca.
"Baiklah, Yang Mulia Ratu Mentari akan kembali". ucapnya lirih. Mentari hendak mengambil beberapa lembar daun waru yang sudah dipetiknya. Namun, ia dibuat sangat terkejut dengan kehadiran seekor ular di sana. Ular itu berada di atas daun waru yang letakkan Mentari. Sentuhan tangan Mentari membuat sang ular terbangun dari tidurnya dan merasa terancam. Dengan reflek Mentari menjauhkan tangannya dan berdiri. Kemudian ia mengambil sebuah kayu yang tergeletak di dekatnya dengan ukuran sedang. Gadis itu melemparkan kayu ke arah si ular.
Bughh
Kayu itu mengenai ular hingga menyebabkan luka pada kulit ular. Namun, anehnya Sang Ular tidak lari ataupun menyerang Mentari.
KAMU SEDANG MEMBACA
Sarpa Narendra
FantasiPukul 22.00 WIB, Mentari yang tidak bisa tidur tiba-tiba mendengar suara gemericik air dari dalam kamar mandi seakan-akan ada orang yang sedang mandi. Dari lubang kunci pintu rumahnya, Mentari mengintip keadaan di luar dan terus mengamati pintu kama...
