"mau sampai kapan kamu kayak gini terus, mas? Aku capek!" teriak seorang wanita.
"kamu capek? Aku jauh lebih capek! tiap hari kerja banting tulang. buat siapa? Buat kamu sama Nara, kan?" Ucap pria itu tak kalah memekakkan telinga.
"Terserah kamu! Aku capek!" Ucap wanita itu pergi meninggalkan pria itu.
Nara menatap kedua orangtuanya dengan tatapan datar. Sudah menjadi hal yang biasa bagi Nara. tiada hari tanpa teriakan kedua orangtuanya yang saling bersahutan dan saling menyalahkan satu sama lain.
"Nara? Kamu mau sampai kapan berdiri disitu? Gak ada niatan mau sekolah kamu?" tanya Marco. pria yang selama 16 tahun ini telah gagal menjadi ayah untuk seorang Nara.
tanpa menjawab ucapan sang ayah, Nara beralih ke pintu utama untuk menuju ke sebuah garasi di rumah nya, lalu menyala kan sebuah motor sportnya.
"Sialan! Hampir setiap hari berantem mulu tu orang tua, kapan cerainya sih?" Umpat Nara.
gadis itu melajukan motornya membelah jalanan yang tidak terlalu ramai. sepanjang perjalanan, gadis itu tidak henti-hentinya memikirkan bagaimana nasip keluarganya setelah ini.
10 menit berlalu, kini Nara sudah berada di perkarangan sekolahnya. seluruh pasang mata menatap gadis itu dengan tatapan kagum. tidak ada satupun adik kelas yang tidak menyapanya. baik itu perempuan, maupun laki-laki. mereka tampak tunduk kepada Nara.
Ya ampun! Kak Nara cantik banget coy!
Kak Nara mah pakaiannya branded, no fake-fake
Cakep gila tu kak Nara
Anjir! Fans banget sama kak Naraa
kira-kira seperti itulah yang Nara dengar disepanjang lorong menuju kelasnya. Nara hanya membalas sapaan mereka dengan senyuman tipis khas seorang Navera Meisyakila.
gadis itu sampailah di sebuah ruang kelas dimana didalamnya terdapat banyak para siswa-siswi yang sangat riyuh dan saling sahut menyahut memekakkan telinga gadis remaja itu.
Xl IPS 3
Kelas itu terlihat begitu bebas, bahkan hampir setiap hari kelas itu selalu free. bukan karena tidak ada guru yang tidak ingin masuk kedalam kelas mereka. hanya saja para guru-guru sangat santai menghadapi murid di kelas X IPS 3.
siswa-siswi di kelas itu terkenal sebagai siswa yang ramah, mereka sangat santun, hanya saja ketika tidak ada guru kelas mereka akan seperti pasar.
"WOI GUYS! BUKBEN KITA DATANG NOH! NGEMALL PULSEK GIMANA?" teriak salah seorang siswa.
ya, Nara adalah seorang bendara dikelas itu. bahkan bisa dibilang wali kelas mereka sendiri tidak pernah ingin mencampuri tentang uang kas mereka. tidak jarang uang kas mereka digunakan untuk hal yang tidak bermanfaat seperti menonton bioskop, sewa tempat karaoke, dll.
Nara tersenyum tipis, beginilah kondisi kelas, mereka saling melindungi satu sama lain, mereka sekilas terlihat memang saling menjelekan satu sama lain, tapi kenyataannya, mereka tidak akan membiarkan salah satu dari mereka disakiti oleh anak dari kelas lain.
Nara selalu merasa mempunyai keluarga saat bersama mereka, walaupun dirumah dirinya hampir tidak pernah mendapatkan perhatian dari kedua orangtuanya, tetapi ada teman-teman sekelasnya yang sayang peduli kepada Nara.
"Rey! Gue izin ngudut ke atap ye?" Izin Nara mendekati mulutnya pada telinga Rey selaku ketua kelas.
"Lagi? lo ada masalah?" Tanya Rey sedikit heran kepada temannya itu.
"Ck, biasalah," jawab Nara.
Rey mengangguk paham, ia mengizinkan Nara pergi meski sebenarnya ia tidak ingin melihat Nara merokok, tapi apalah daya Rey. Nara bukan tipekal wanita yang mudah percaya kepada siapapun.
*****
sebuah kepulan asap terus keluar dari mulut gadis muda itu. membiarkan seluruh masalah yang hadir di dalam kehidupannya akan sirna dengan seiring keluarnya asap-asap itu.
derap langkah kaki membuat Nara berdesis kelas, gadis remaja itu mematikan rokok yang berada di tangan kirinya. setelah itu, Nara menunggu langkah kaki itu menghampirinya.
"Lo ngapain? Gak masuk kelas?" Tanya pria jangkung itu menutupi sinar matahari yang menerpa kulit putih milih Nara.
"Jamkos," ucap Nara seadanya.
tampak pria itu mengkerutkan keningnya. namun setelahnya pria itu tampak kembali menetralkan kebingungannya. "Gue Cakrawala Adimas, ketua OSIS disekolah ini," ucap Cakra memperkenalkan diri.
"Navera Meisyakila," jawab Nara.
"lo bukan Nara?" Tanya Cakra heran.
"Nama panggilan kedua orang tua gue," ucap Nara singkat.
Gadis itu pergi meninggalkan Cakra sang ketua OSIS begitu saja. Nara bukanlah tipekal manusia yang peduli dengan sekitarnya. gadis itu benar-benar sudah tidak percaya dengan yang namanya manusia.
YOU ARE READING
CAKRANARA (ON GOING)
Teen Fiction"gue, Cakrawala Adimas. Mulai hari ini, gue bakalan jadi rumah tempat lo pulang kapan lo mau,"
