Prolog

2.4K 147 6
                                        

Kekecewaan.

Satu kata yang dapat menjadi sebuah senjata untuk mengubah sikap seseorang.

Malik, lelaki dengan rambut hitam legam yang sedang duduk di salah satu sofa sebuah klub malam tengah sibuk dikerubungi oleh tiga wanita penggoda yang sepertinya sedang bersaing untuk memikat hati lelaki itu.

Sedangkan tidak jauh dari sofa yang diduduki Malik, ada Alissa yang menatapnya nanar. Gadis itu bahkan tidak bisa menggerakkan kakinya kala melihat sang kekasih melakukan perbuatan yang mengkhianatinya.

Hingga beberapa detik kemudian, keterkejutannya tergantikan dengan sebuah amarah yang memuncak. Membuat Alissa berjalan cepat ke arah Malik yang kini tengah berciuman dengan salah satu wanita penghibur yang ada di sana dengan high heels putih miliknya.

Ditariknya rambut wanita yang sedang duduk di pangkuan kekasihnya hingga terjungkal ke belakang dan membuat Malik terkejut.

Plak!

Satu tamparan berhasil mendarat ke pipi sebelah kanan lelaki itu.

"Aku gak nyangka kamu seberengsek ini! Kita putus, Malik!" kata Alissa menggebu-gebu.

Ketiga wanita penghibur yang tadi berada di sekitar Malik seketika menjauhkan diri mereka karena tidak ingin terlibat pertikaian yang sedang terjadi.

Tanpa disangka-sangka, Malik malah menyunggingkan senyumannya.

"Kamu baru tau? Aku jauh lebih berengsek dari yang kamu kira, Sa. Mau tau berapa banyak cewe yang aku mainin?" tanya lelaki itu santai.

"Kamu yang ketujuh Sa." lanjutnya berbangga hati.

"Bajingan kamu! Semoga kamu cepet-cepet tobat!" ujar Alissa tak percaya dan menampar Malik sekali lagi.

Dengan pandangannya yang memburam karena air matanya yang mulai mengalir deras, Alissa berusaha keluar dari tempat haram tersebut.

Di tengah jalan, tubuhnya tak sengaja menubruk seseorang yang membuatnya mendonggakkan kepala.

"Dika..."

Alissa mendapati Dika yang sepertinya baru saja datang bersama dengan satu lelaki lain yang tidak ia ketahui. Dika merupakan teman dekat Malik.

Melihat Alissa dengan kondisi yang mengenaskan, membuat Dika memegang bahu gadis itu, "Sa, lo gapapa? Malik ngapain lo?"

"L-lo bener Dik, sejak awal harusnya gue dengerin lo buat gak dekat-dekat sama temen lo yang ternyata berengsek itu." balas Alissa sambil masih tersedu-sedu.

Dika memang teman Malik, namun sejak awal kedekatan dirinya dengan Malik dengan baiknya Dika telah memperingati Alissa untuk segera menjauhi lelaki itu.

Entah ada apa dengan pesona berondong satu itu, hingga Alissa malah terpikat dan tidak mendengarkan peringatan yang diberikan Dika.

"Sa, tarik nafas yang bener!" sahut Dika karena mendapati gadis di depannya mulai sesak nafas.

"G-gue gak sanggup, dada gue sakit Dik, hati gue juga..."

Setelah itu Alissa jatuh pingsan.

Sedangkan lelaki yang berada di samping Dika mengeraskan rahangnya, "Lo bisa anterin dia ke rumah sakit atau pulang? Biar gue hajar si Malik, gue udah muak." tanyanya yang lebih seperti sebuah perintah karena lelaki itu langsung meninggalkan Dika tanpa menunggu jawaban.

Sambil berusaha menggendong Alissa, Dika dapat melihat Wira, lelaki yang tadi datang bersamanya langsung menerjang adiknya dengan tinjuan yang membuat suasana seketika menjadi ricuh.

"Lo ngapain, Bangsat?!" tanya Malik dengan nyalang kepada kakaknya.

"Ini udah yang ketujuh kali lo bersikap kayak binatang, gak bisa ya lo berubah, Mal?!!" bentak Wira penuh amarah.

Karena kondisi Alissa lebih penting, Dika menyudahi tontonannya dan segera pergi dari sana untuk segera mengamankan gadis itu.

"Cuih! Gue yang ngelakuin kenapa lo yang repot?"

"Dasar berengsek! Lo tuh harusnya malu, udah dua cewe mati gara-gara lo, Mal. Mati, lo ngerti mati gak?! Harusnya lo coba buat tanggung jawab."

"Lo aja sana yang tanggung jawab, Mr. Wirangga yang terhormat." balas Malik meledek yang segera dihadiahi tinjuan bertubi-tubi oleh kakaknya.

"Kalo gue bisa gue juga bakal tanggung jawab atas kesalahan lo, Bodoh! Karena gue masih punya hati nurani."

"Sok suci."

Wira tak peduli, kekacauan seperti apa yang akan ia buat, yang pasti untuk sekarang ini ia hanya ingin memberikan adiknya pelajaran.

———

Alissa terbangun dengan sekujur tubuhnya yang terasa ngilu. Masih dengan mata terpejam ia dapat menghirup aroma karbol khas rumah sakit.

"Uhh." lenguhnya sembari membuka pejaman matanya.

Ia dapat melihat salah satu pergelangan tangannya ditancapi oleh jarum infus.

Seingatnya tadi malam dirinya memang jatuh pingsan, namun apakah sampai harus di rawat seperti ini?

Bersamaan dengan dirinya yang sibuk berperang dengan batin, pintu ruangan dirinya di rawat terbuka menampakkan Dika dan lagi-lagi seorang lelaki yang sejak semalam tidak dirinya kenal.

"Sa, udah sadar? Lo bisa denger gue gak?" ujar Dika sesaat manik mata mereka bertukar pandang.

Alissa hanya mampu menganggukkan kepalanya.

"Tunggu bentar, gue panggilin dokter dulu." balas Dika.

Tak lama setelah itu datanglah seorang dokter ke ruangan Alissa dan memeriksa kondisi gadis itu.

"Syukurlah nona Alissa sudah sadar dan fungsi kerja anggota tubuh lainnya juga dalam keadaan normal. Pesan saya hanya satu, nona Alissa harus banyak-banyak istirahat karena janinnya masih sangat rentan. Itu saja, saya permisi." kata dokter tersebut kemudian bergegas pergi dari sana.

"Maksud dari omongan dokter itu apaan?" tanya Alissa bingung.

Dika menatap Alissa sendu, "Lo lagi hamil Sa, usia kandungan lo 2 minggu."

"Maksud lo? Gimana bis—Gak mungkin!!" ujar Alissa tak percaya.

Gadis itu kemudian menatap perutnya dan langsung memukul kencang perutnya, "Gak mau, gak mungkin!" sembari berteriak histeris.

Dika dan Wira dengan sigap menahan tangan Alissa agar tidak menyakiti dirinya sendiri.

"Sa tenang, everything it's gonna be okay." ujar Dika sembari mengusap lembut punggung tangan Alissa.

"Gue gak mau, anak ini anak si berengsek itu, Dik. Dia gak akan mau tanggung jawab." tangis Alissa pecah.

"Biar gue yang nikahin lo." ujar lelaki yang Alissa tidak ketahui itu tiba-tiba sembari menggenggam tangannya erat.

Gadis itu sempat menghentikan tangisannya sebentar dan menatap lelaki itu, "Lo siapa?"

Lelaki itu membantu mengusap pipi Alissa yang berlinangan air mata kemudian menatap gadis itu dalam.

"Gue Wira, Wirangga Adyatama. Yang sayangnya adalah kakak dari lelaki berengsek yang nyakitin lo. Tapi Sa, gue mau membayar seluruh perbuatan jahat yang pernah Malik lakuin. Maka dari itu, tolong izinin gue tanggung jawab dengan nikahin lo."

Alissa langsung menarik tangannya paksa agar terlepas dari genggaman tangan lelaki itu.

"Gak mau, lo kakaknya. Gak menutup kemungkinan lo juga sama berengseknya." sahut Alissa.

Wira menghelakan nafasnya, memang sudah sepantasnya Alissa tidak akan langsung menerimanya begitu saja.

***
Wonwoo as Wirangga Adyatama

Lisa as Alissa Anindhara

Mingyu as Malik Adyatama

Dokyoem as Ardika Pradana

A Twist of Fate || Jeon WonwooStories to obsess over. Discover now