PROLOG

793 16 1
                                        

‼️PERHATIAN‼️

Sebelum masuk ke cerita, aku mau ngenalin diri dulu nihh^^

Haii, aku Rue des Papillons. Panggil aja Rue, no no kalau mau call me Thor atau Author. Panggil aku Rue atau Yang Mulia Baginda.

Ini cerita pertama aku. Jadi aku harap, temen temen semua mau support aku dengan tekan bintang dan follow, yaaa

Aku tau cerita ini masih banyak kekurangan, tapi aku harap temen-temen semua mau bantu aku buat ngembangin ini jadi lebih baik.

Aku harap temen-temen semua bisa enjoy cerita sederhana ini.

Terimakasih buat semuanyaaa

I love y'all



SIAPKAN MENTAL ANDA!!



MARI KITA MEMECAHKAN TEKA-TEKI MISI ABSURD BERSAMA SHENA DAN ELANG!!


This title contains explicit (18+) content and is not suitable for minors or for viewing at work. Please be wise in choosing reading.

‎Malam itu, gerimis musim semi baru saja membasuh ibu kota Prancis

Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.

‎Malam itu, gerimis musim semi baru saja membasuh ibu kota Prancis. Lampu-lampu neon menyala apik, ditemani deretan toko bermerek yang terlihat gagah berdiri sepanjang jalanan Rue de Rivoli. Aspal basah itu memantulkan siluet dua anak manusia dengan isi kepala bertolak belakang.

‎Paris di malam hari seharusnya terasa magis dan romantis. Namun, bagi Shenandhita Swastamita Danurdaru, Paris tak lebih dari panggung unjuk bakat bagi cowok kampret yang sedari tadi asyik menyanyikan lagu 21 Savage dengan nada sumbang. Bahkan rap-nya pun amburadul—mungkin penyanyi aslinya juga akan menangis darah saat mendengar versi ini.

‎“Elang, udah mainnya. Kita balik ke hotel aja, yuk.” Gadis mungil berkacamata itu akhirnya angkat bicara, berusaha mengimbangi kecepatan lelaki jangkung yang meluncur memakai skateboard di sebelahnya. Manik hitamnya bergerak ke kanan dan ke kiri, menangkap lirikan sadis dari para pejalan kaki. “Malu, Lang. Dilihatin orang.”

Dewangga Elang Lembayung tiba-tiba memutar papan seluncurnya, melakukan trik ollie yang mengundang delikan kesal Shena. Ia melirik sekilas ke belakang dan terkekeh.

‎“Mereka liat tuh karena kagum sama kegantengan dan bakat luar biasa Paduka Sri Baginda Elang, Shen. Santai aja kali,” tanggapnya enteng, dan seratus persen ngawur, jelas-jelas mengabaikan tatapan sinis dari warga lokal di sekitarnya.

‎“Mereka enggak kagum, Elaaaang. Lihat aja deh,” Shena menoleh ke samping secara horor, lalu menatap Elang sungguh-sungguh. Gadis itu berusaha mendekat, berbisik penuh konspirasi, “Mereka kayaknya mau bunuh kamu, Lang. Serem banget. Udah, ya? Balik ke hotel aja, ya? Ya? Ya?”

‎“Yaelah, Tut. Turis cakep gini mana mungkin mau dibunuh. Pembunuhnya silau kena lethal face card gue,” respons Elang santai, melambatkan skateboard-nya.

‎Dengan satu hentakan kaki, papan seluncur itu berdiri tegak. Elang menangkapnya dengan luwes di udara, dan tersenyum puas pada dirinya sendiri, seakan baru saja melakukan atraksi kelas dunia, bukan trik yang dilakukan bocah-bocah skate park setiap sore.

‎Shena meringis pelan, memperbaiki posisi kacamatanya memakai tangan kiri, sedang tangannya yang lain sibuk menggenggam kantung kertas berisikan burger dan kentang goreng hangat. “Jangan aneh-aneh deh, Lang. Kalau—”

‎“Bonsoir, Madame.”

‎Elang memotong kalimat Shena, mengedipkan sebelah matanya. Tangannya terangkat, memberikan gestur menyapa pada seorang wanita pirang yang memandangnya ngeri. Alis lelaki itu naik turun dengan cara yang luar biasa menjengkelkan. Lantas melewati si pirang itu dengan tangan kiri dimasukkan ke dalam saku—berlagak keren seperti tokoh utama cerita novel picisan—padahal aslinya sedang diabaikan.

‎Shena yang melihatnya hanya bisa bergeser sedikit ke samping, menghasilkan jarak beberapa sentimeter. Wajahnya memerah malu. Batinnya merana, terus-menerus merapalkan mantra bahwa ia tak kenal lelaki di sebelahnya itu.

‎“Elang jangan gitu ih, kayak om-om mesum tau,” peringat Shena pelan, berusaha menjaga jarak, “nanti kamu bisa dideportasi loh.”

‎“Tchh, Perdana Menteri Perancis nangis kalau gue dideportasi,” balas Elang dengan wajah congkak. Netranya melirik sekilas. Tangan kirinya terulur, menarik dan merangkul bahu Shena dengan cepat. “Sini, deketan Shen. Jangan jauh-jauh, orang ceper kayak lo bisa cepet hilang kalau di sini.”

‎Shena hanya bisa pasrah, menghela napas lelah dan membiarkan tangan kekar Elang melingkari bahunya.

‎Langkah keduanya melambat tatkala melewati sebuah arkade yang temaram. Di sudut pilar batu, seorang lelaki berusia senja—seorang gelandangan—tengah duduk meringkuk menahan dingin. Shena menoleh, hatinya seketika tersentuh melihat pemandangan itu.

‎Tanpa banyak kata—dan dengan gerakan yang nyaris impulsif—Shena melangkah mendekat, melepaskan rangkulan Elang, dan mengulurkan sebungkus burger hangat yang tersimpan di dalam kantung kertasnya.

‎“Pour vous, Monsieur,” ucapnya lembut. Kakek itu mendongak, matanya yang kelabu menatap manik kelam Shena dalam-dalam.

‎Namun, tentu saja kedamaian itu berumur pendek jika Dewangga Elang Lembayung berada di sana.

‎”Shena, buruan! Ngapain sih lo? Anjir, bau apa nih? Kok kayak ... terasi? Di Paris ada orang jualan terasi?!”

‎Shena menoleh, mendapati Elang yang sudah mundur tiga langkah sambil menutup hidungnya heboh. Tepat di belakang Elang, seorang nenek tua berkerudung rombeng baru saja melangkah keluar dari kegelapan. Baunya memang luar biasa menyengat, kontras dengan udara Paris di musim semi.

‎Bukannya bungkam dan mengunci mulut, jiwa provokator Elang justru terpantik.

‎“Anjai gurinjai makan bajaj, si Nenek abis jualan seblak semur terasi di Menara Eiffel apa gimana? Bau banget, suer!” celetuk Elang tanpa dosa, memasang wajah geli dan jijik tanpa disaring. Toh, mereka tak akan paham bahasa Indonesia, bukan?

‎Wanita tua itu mendadak berhenti. Kepalanya mendongak lambat. Di balik tudung hitamnya, sepasang mata yang kelam dan tajam langsung mengunci sosok Elang. Tatapannya penuh kegelapan, seolah ada dendam yang terpendam selama berabad-abad lamanya di dalam sana.

‎Detik itu juga, suhu di sekitar mereka terasa terjun bebas sampai ke titik beku. Bulu roma Elang meremang dibarengi dengan tangan kanannya yang meremas pelan skateboard-nya. Logika remaja itu berteriak ada yang salah.

‎“S-Shen ... aduh, gue mules. Cabut, yuk,” bisik Elang, siap mengambil langkah seribu—bahkan meninggalkan Shena jika perlu.

‎Namun, bumi seolah menolak melepaskan pijakan mereka. Dari balik bibir hitam sang nenek, sebuah suara parau menggema, bukan di udara, melainkan langsung di dalam rongga dada mereka.

‎“Akhirnya ... dia kembali.”

‎Nenek itu menyeringai, menyambut utang masa lalu yang siap ditagih.

Sebenarnya ...

sejak kapan semuanya mulai terasa salah?

‎- T R A P P E D -

Shenandhita Swastamita Danurdaru

Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.

Shenandhita Swastamita Danurdaru

‎CLASSIFICATION:
‎☑ Human (confirmed)
‎☑ Ballerina
‎☑ Academic Weapon
‎☑ Easily Annoyed

‎WEAKNESS:
‎☒ Elang
‎☒ Heights
‎☒ Loud Noises
‎☒ Unexpected Chaos

‎DANGER LEVEL:
‎★★☆☆☆

‎CLASSIFICATION:‎☑ Human (confirmed)‎☑ Ballerina‎☑ Academic Weapon‎☑ Easily Annoyed‎‎WEAKNESS:‎☒ Elang‎☒ Heights‎☒ Loud Noises‎☒ Unexpected Chaos‎‎DANGER LEVEL:‎★★☆☆☆‎

Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.

Dewangga Elang Lembayung

CLASSIFICATION:
‎☑ Human (Questionable)
‎☑ Skateboard User
‎☑ Professional Instigator
‎☑ Harvard Admit

‎WEAKNESS:
‎☒ Ghosts
‎☒ Responsibility
‎☒ Common Sense

‎DANGER LEVEL:
‎★★★★★

‎- T R A P P E D -

COMING SOON!!
‎Don't forget to add this title to your library.

‎‎SAMPAI JUMPA DI BAB BAB SELANJUTNYA YA.

‎Ketik 1 dan beri vote sebanyak-banyaknya jika kamu sayang ibu kamu.

You've reached the end of published parts.

⏰ Last updated: Jun 09 ⏰

Add this story to your Library to get notified about new parts!

TRAPPEDStories to obsess over. Discover now