15 Juni 2011, Ruang Oval, Gedung Putih, Washington D.C. Hujan badai menghantam kaca jendela anti-peluru di sisi selatan ruangan. Air mengalir deras, menyamarkan pemandangan taman Rose Garden yang sedang diamuk angin kencang. Suara guntur terdengar tumpul, teredam oleh ketebalan dinding beton dan lapisan baja Gedung Putih.
Di dalam, suasana hening. Hanya terdengar denting sendok perak beradu dengan porselen.
Leon S. Kennedy duduk di sofa kulit berwarna cokelat tua. Dia mengenakan kemeja putih yang lengan bajunya digulung rapi hingga siku, memperlihatkan otot lengan bawah yang padat dan dialiri pembuluh darah yang sehat. Rompi pistol kulitnya tergeletak di sampingnya.
Di meja kopi di hadapannya, sebuah botol kaca kecil berwarna gelap terbuka. Cairan di dalamnya berwarna hijau pekat, hampir hitam.
Luis Sera duduk di seberang Leon. Dia menyilangkan kaki dengan santai, sepatu botnya yang sedikit berdebu mengotori karpet mahal berlambang kepresidenan. Luis memainkan pemantik api logam di tangannya, membuka dan menutupnya dengan bunyi klik berirama.
Leon mengambil pipet dari botol itu. Dia meneteskan tepat satu tetes cairan herbal kental ke dalam cangkir kopi hitamnya. Cairan itu jatuh, memecah permukaan kopi yang panas, lalu larut tanpa meninggalkan jejak warna. Aroma mint tajam dan tanah basah menguar tipis, bercampur dengan bau kafein.
Leon mengaduknya pelan. Satu putaran. Dua putaran.
"Risetmu semakin membaik, Luis," kata Leon. Suaranya berat, tenang, tanpa getaran lelah sedikitpun. Dia mengangkat cangkir itu dan menyesapnya. "Rasanya tidak se-pahit bulan lalu."
Luis menyeringai, menampilkan barisan gigi putih. "Aku memurnikan ekstrak Rhodiola -nya. Kau bukan kelinci percobaan sembarangan, Leon. Kau aset nasional. Aku harus memastikan 'baterai'-mu tidak rusak."
Leon meletakkan cangkir kembali ke tatakan. Dia menarik napas panjang, merasakan sensasi dingin dari herbal itu menyebar ke kerongkongan, membuka saluran pernapasannya. Oksigen masuk maksimal ke paru-paru.
"Dua tahun," gumam Leon. Dia melihat kedua tangannya sendiri. Kulitnya bersih, bekas luka goresan dari latihan pisau kemarin pagi sudah menutup sempurna, menyisakan garis merah muda tipis yang akan hilang besok. "Sejak kau memberiku ini rutin, tubuhku berubah."
Leon berdiri. Gerakannya mulus, tanpa suara engsel lutut atau keluhan sendi. Dia berjalan ke arah jendela, berdiri tegak membelakangi Luis. Bayangannya memanjang di lantai.
"Tinggi badanku bertambah," kata Leon datar. Dia melihat pantulan dirinya di kaca gelap. "Terakhir cek medis di Quantico minggu lalu, aku tembus 190 sentimeter. Dua tahun lalu aku masih 188. Di usia 34 tahun, tulang manusia seharusnya berhenti tumbuh."
Luis tertawa kecil dari sofa. Matanya menatap punggung Leon dengan sorot jenaka namun menyimpan rahasia. Luis tahu itu bukan sekadar 'vitamin'. Itu adalah resep genetik warisan Alexander Graham kakek Ashley yang diracik khusus oleh tangan Ashley sendiri di laboratorium rumah kaca The Black.
"Anggap saja efek samping regenerasi sel, Amigo," jawab Luis santai. "Herbal itu memperbaiki kepadatan tulang dan posturmu secara ekstrem. Kau menjadi versi manusia yang lebih efisien. Jangan protes."
Pintu kayu mahoni yang berat terbuka.
Adam Benford masuk. Presiden Amerika Serikat itu terlihat rapi dengan setelan jas biru dongker. Di tangannya, dia memegang cangkir teh porselen dengan uap mengepul.
Adam berjalan tenang menuju meja kerjanya, lalu berbalik menghadap dua pria itu. Dia mengangkat cangkirnya sedikit ke arah Leon.
"Victor mengirim stok baru pagi ini," kata Adam, merujuk pada teh herbal di tangannya.
ESTÁS LEYENDO
THE SILENT DOSE - END
De Todopair : Leon Scott Kannedy x Ashley Graham Di balik dinding baja Markas Besar The Black di Virginia, Ashley Graham putri Victor Graham, pemimpin bayangan organisasi tersebut membayar harga untuk kesehatan Leon. Sebagai Kepala Riset Virologi, Ashley m...
