Pagi seperti biasanya di ruang makan Elemental. Sang kakak sulung yaitu Halilintar tengah makan sarapannya dengan kurang tenang, saudara kedua Taufan menjahili Halilintar yang sedang makan sarapannya, saudara ketiga Gempa yang masih memasak di dapur, saudara keempat Blaze yang sedang sarapan sambil se sekali-kali tertawa melihat Halilintar yang tengah dijahili namun dia tetap diam, saudara kelima Ice yang hanya memainkan makannya tidak bernafsu untuk sarapan, saudara ke enam Thorn yang terus mengoceh kepada adiknya yang duduk disebelahnya, lalu adik bungsu yaitu Solar yang sedang bermain dengan layar hp nya sambil mendengar ocehan dari kakaknya Thorn.
Gempa yang sudah selesai dengan urusan nya di dapur berjalan ke meja makan dan memberikan satu persatu kotak bekal kepada para Elemental untuk makan siang mereka disekolah nantinya. Lalu kotak bekal terakhir milik Ice, tapi Gempa mengurungkan niatan untuk memberikan kotak bekal itu kepada Ice setelah ia melihat Ice yang tidak makan sarapannya itu melainkan memainkan sarapannya.
“Ice makan sarapan mu itu, jika kau tak memakannya kau akan sakit” kata Gempa sebagai peringatan untuk Ice.
Tapi bukannya mendengar perkataan dari kakaknya, Ice hanya menatap ke Gempa. Mata berwarna biru muda dengan warna bermata emas itu saling bertemu. Gempa melihat raut wajah Ice, disaat mata mereka saling bertemu Gempa dahulu lah yang memutuskan kontak mata itu lalu bertanya kepada Ice
“Ada apa?” tanya Gempa. Tidak ada jawaban dari sang empu. Para elemental yang awalnya tengah sibuk dengan dunianya masing masing pun menoleh ke arah Gempa dan Ice.
Ice sadar jika saudara-saudaranya yang lain tengah memperhatikannya, ia kurang nyaman dengan tatapan dari saudaranya. Akhirnya Ice menghela nafas lalu berbalik melihat kearah kakaknya Gempa dan menjawab pertanyaannya.
“Kak gem aku harap kau mengerti dan tidak melarang ku” jawab Ice.
Jawaban dari Ice itu membuat Gempa mengernyitkan dahinya.
“Hari ini aku akan pulang larut malam, ini karna aku ada acara mendadak dengan ekskul musik jadi aku dan yang lainnya perlu latihan tanpa henti” jelas Ice
“Jadi apakah aku di izinkan?” Ice menatap kakaknya Gempa
Gempa yang ditatap dengan tatapan memohon pun akhirnya mengalah. “Karna kau sudah menjelaskan alasan yang cukup, aku akan mengizinkannya tapi..” Gempa menoleh kearah kakak sulungnya Halilintar
Halilintar yang merasa sedang diperhatikan ole seseorang melihat ke arahnya, Gempa lah yang sedang memperhatikannya. Halilintar diam terlebih dahulu lalu membuka suaranya
“Aku juga mengizinkan mu tapi dengan satu syarat"
Perkataan terakhir dari kakaknya Halilintar membuat Ice sedikit deg deg, pasalnya jika kakak sulungnya sudah membuat persyaratan maka persyaratan yang keluar dari mulutnya itu adalah mutlak.
“Aku akan menjemput mu setelah latihan” lanjut Halilintar. “Hm, baiklah..” jawab Ice lesu, ia tak dapat membantah toh lagian Ice sebenarnya tidak terlalu keberatan selama Halilintar yang menjemputnya
“Biar aku saja yang menjemputnya” kata seorang pemuda manik mata berwarna orange yang tak lain dan tak bukan adalah saudara ke empat Blaze. Ice menoleh kearah-Nya, Ice menaikkan satu alisnya.
“Apa kau yakin? kau harus menjemput Ice pada larut malam” tanya Gempa sebagai penekan kepada Blaze apa ia yakin.
“Apa salahnya? aku ini pemberani, tidak seperti dia yang harus dijemput karna takut pulang sendirian” kata Blaze dengan senyuman miringnya itu
“Apa katamu?” Ice sedikit mulai naik pitam, dari awal Ice dan Blaze memang sering berkelahi tetapi meski begitu dalam hati yang terdalam mereka, mereka saling menyayangi satu sama lain.
“Sudah cukup, kita harus berangkat ke sekolah segera” kata sang kakak sulung Halilintar untuk melerai 2 orang yang akan berkelahi di meja makan. Itu akan menjadi sedikit merepotkan apabila mereka berkelahi di meja makan dengan Gempa yang masih berada disana.
“Ayo semuanya kita berangkat! ^^” kata Thorn mengajak semua saudaranya untuk bangkit dari kursi dan segera berangkat ke sekolah
Gempa yang melihat kelakuan Thorn pun tersenyum, Thorn adalah anak ke 6 yang periang sekalipun polos. Berbeda dengan Solar yang bergelar sebagai anak bungus, Solar sendiri sering di anggap sebagai kakaknya Thorn karna Solar yang terlihat lebih dewasa dari pada Thorn.
Thorn yang melihat kakaknya Gempa hanya berdiri saja akhirnya ia menarik tangan Gempa “Ayo kak, Thorn ingin segera bertemu dengan teman teman!” jelas Thorn kepada Gempa dengan penuh semangat
“Baiklah baiklah, ayo semuanya” ajak Gempa kepada saudaranya yang lain.
Para elemental memasukkan kotak bekal mereka masing masing kedalam tas mereka, lalu mereka memegang tas mereka dengan ciri khas masing masing. Halilintar yang membawa tas ransel sambil memasang kedua tali tas itu ke pundaknya, Taufan yang membawa tas ransel juga namun bedanya ia hanya menalikan tas ranselnya ke salah satu pundaknya saja, Gempa yang sama seperti Halilintar, Blaze yang mengenakan tas selempang, Ice yang mengenakan tote bag, Thorn yang sama seperti Halilintar dan Gempa, sedangkan adik bungsu mereka Solar mengenakan tas ransel kulit.
Masing masing dari mereka pun sudah siap, mereka keluar dari rumah dan membawa kendaraan mereka masing masing. Halilintar menaiki motor Ninja zx25r berwarna hitam dengan Taufan yang diboncengnya, Blaze yang menaiki motor Ninja 250 berwarna merah dengan Solar yang diboncengnya.
Sedangkan Gempa, Ice dan Thorn menaiki mobil mercedes benz s-class berwarna hitam dengan Ice yang menyetirnya. Mereka menyalakan kendaraan mereka masing masing lalu tancap gas menuju ke sekolah.
YOU ARE READING
LEAFing [HIATUS]
General Fictionhׁׅ֮ꫀׁׅܻᥣׁׅ֪ᥣׁׅ֪ᨵׁׅ ɑׁׅ֮ꪀׁׅժׁׅ݊ ᨰׁׅꫀׁׅܻᥣׁׅ֪ᝯׁᨵׁׅ ꩇׁׅ݊ꫀׁׅܻ This is my first book so please forgive me if there are many shortcomings, I will make it even better! ---------- ❗Don't forget to vote❗
![LEAFing [HIATUS]](https://img.wattpad.com/cover/337842239-64-k518569.jpg)