Prologue

7 0 0
                                        

"Awal kisah ini tidak sebegitu menyenangkan, aku dengan duniaku sendiri, dan kamu dengan duniamu sendiri, kita selalu besebraangan, tidak mungkin dapat bersama, tanpa kehendak Tuhan

Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.

"Awal kisah ini tidak sebegitu menyenangkan, aku dengan duniaku sendiri, dan kamu dengan duniamu sendiri, kita selalu besebraangan, tidak mungkin dapat bersama, tanpa kehendak Tuhan."

**

Dalam kamus besar sebagian besar orangtua, pastilah ingin sesuatu yang lebih untuk anak-anaknya. Entah itu sesuatu yang lebih berupa kenyamanan, sekolah yang memadai, fasilitas yang mendukung anaknya untuk berprestasi dan juga segalanya yang terbaik. Aku juga merasakan begitupula orangtuaku.

Walaupun mereka bukan orang yang sangat mampu, mereka selalu mengusahakan yang terbaik untukku, apapun itu, asalkan menuju ke arah yang positif.

Orangtuaku mendidikku dengan cara yang amat sederhana, mereka tidak pernah menuntut ini-itu dariku. Mereka hanya ingin aku fokus sekolah dan meraih nilai yang bagus agar kelak aku bisa sukses. Bukan karena mereka ingin membanggakan aku ketika sukses.

Mereka hanya ingin jika sewaktu-waktu mereka tiada, anak bungsunya yang cengeng ini bisa hidup mandiri, dengan begitu mereka baru yakin bisa meninggalkan aku dengan tenang.

Sedangkan aku sendiri bukanlah anak super pintar ataupun anak yang membanggakan. Selama sejarahku hidup 15 tahun, tak ada perubahan menuju membanggakan. Aku adalah anak perempuan bandel yang sering terlambat masuk sekolah. Bahkan itu sudah aku alami sejak duduk di bangku Taman Kanak-kanak.

Aku sering berangkat mepet ketika berangkat ke sekolah, bila aku sampai di sekolah tepat setengah tujuh pagi, itu adalah sebuah keajaiban.

Sekolah Menengah Pertamaku adalah sekolah yang lumayan favorit, ya walaupun hanya peringkat tiga dari satu Kabupaten, tapi sekolahku cukup terkenal dan mengeluarkan alumni-alumni yang berprestasi.

Selama hampir tiga tahun aku sekolah di sana, aku tetap menjadi si 'Miss Late' yang selalu absen tiga kali seminggu ke ruang BP karena terlambat masuk kelas. Aku sangat terkenal, baik di mata guru, karyawan, juga teman-teman satu sekolah.

Aku terkenal bukan sebagai siswi berprestasi, tapi sebagai si 'Miss Late' yang selalu terlambat masuk sekolah, yang diceritakan kiprah keterlambatannya ke setiap kelas saat guru-guru mengajar.

Memalukan? Sangat.

Pernah waktu itu saat kelas sembilan awal, aku telat masuk kelas di saat jam olahraga, otomatis guru yang mengajar memarahiku habis-habisan. Tapi bukannya aku kapok, malahan aku jadi sering terlambat di saat jam pelajarannya, dan aku selalu dapat point merah saat jam olahraga.

Soal keterlambatan? Lupakan saja, orangtuaku sampai lelah untuk membahasnya. Entah karena aku yang terlalu bebal atau mereka sampai kehabisan kata untuk memarahi aku.

Kebiasaan telambat itu bahkan masih terus berulang sampai di penghujung kelas sembilan. Waktu kelulusan pun aku terlambat dan tidak bisa mendapatkan momen terpentingku saat lulus SMP, sungguh aku merasa sangat menyesal dan ingin menangis saat itu. Tapi untuk apa? Tidak ada gunanya bukan?

**

Seperti yang sudah kuceritakan di awal, orangtuaku ingin semua yang paling baik untukku. Termasuk yang nomor satu adalah masalah pendidikan. Walaupun nilai UNku tidak masuk sepuluh besar pararel, mereka tetap ingin aku masuk ke SMA unggulan yang paling top di Kabupatenku. Sebut saja SMA Kates. Di SMA itu tempat dimana orang nomor satu se-Kabupaten alias Bupati menuntut ilmu. Sekolah itu sudah jelas sekolah pemimpin, sekolah orang sukses.

Orangtua mana yang gak mau anaknya untuk sukses?

Tentu semuanya berlomba-lomba mendaftar ke sekolah itu. Termasuk aku, yang akhirnya ikut mendaftar juga dan ikut tes tulisnya yang hampir membuat kepalaku pecah. Apalagi waktu itu bulan puasa. Seperti ada yang mendidih di kepala saat aku mengerjakan soal Matematika.

"Gimana, tesnya lancar?" pertanyaan Bapak berdengung nyaring di telinga, aku menggeleng samar. Baru juga aku masuk rumah dan duduk di depan Bapak dan Ibu yang sedang santai di ruang tamu.

Tiba-tiba pertanyaan itu membuat aku makin pusing. "Alhamdulillah, waktunya gak cukup." jawabku lugas sambil melepas sepatu. "Lho, kok gitu? Lha bisa mengerjakan tidak?" tanya Bapak lagi, makin panjang.

Aku menggeleng lesu, kutatap sepatuku, "Kan adek udah bilang kalau adek gak pantas masuk sekolah itu, Pak. Mending adek sekolah SMK saja, udah jelas keterima." jawabku sekenanya. Bukan maksud sombong, aku yakin seratus persen keterima. Nilai UN ku memadai kok, lagipula aku juga sudah ikut daftar di SMK, ikut tes fisik dan buta warna, juga cek nilai rapor.

Sepanjang itu sudah aman, aku lolos di semua tes itu, tinggal kurang tes fisik bagian lari keliling lapangan, yang membuktikan kalau aku benar-benar sehat wal'afiat. Aku yakin bakal keterima, tapi SMA Kates ini sungguh, membuat fokusku buyar.

Di satu sisi aku ingin segera bisa kuliah setelah lulus Sekolah Menengah Atas, di sisi lain aku sadar diri atas kemampuanku daya otakku yang lemah saat mata pelajaran Matematika ini.

Aku mengalami dilema, hingga pada akhirnya, hasil tes tulis SMA Kates itu tiba. Aku TIDAK DITERIMA. Tapi tak apa, kegagalanku sudah makanan sehari-hari bagi orangtuaku. Sama sekali tidak penting, mau menangispun tidak akan bisa merubah keadaan.

Mendesah kecewa, aku terpaksa harus melepaskan keduanya, yaitu SMA Kates dan juga SMK Pertanian yang sudah aku ikuti tesnya. Waktu bergulir begitu cepat, setelah hasil tes masuk SMA Kates itu tiba, aku segera mencabut SKHUN sementara dan langsung pindah ke SMA ku ini, yang katanya, nomor dua se-Kabupaten. Padahal aku sama sekali tidak berniat untuk sekolah di sini.

Di mana sekolah ini, konon katanya semua muridnya orang kaya, punya banyak murid berprestasi, terkenal atau bahasa gaulnya hitz juga ganteng-ganteng dan cantik-cantik.

Awalnya, aku minder sekali bisa keterima di sekolah ini, karena aku sama sekali tidak masuk ke dalam kriteria-kriteria murid SMA Tiga diatas. Aku sangat kebingungan. Rasanya seperti tidak mungkin aku masuk ke sekolahan itu dan sekarang memakai seragam yang sama dengan murid-murid lain. Padahal, tanpa aku sadari, sekarang aku sudah sekolah di sini hampir selama tiga tahun. Dan ini adalah tahun penentuan, tahun terakhir.

Aku harap, aku punya lebih banyak memori menyenangkan yang dapat aku kenang selama aku hidup. Aku harap, semua yang aku lakukan sekarang, di detik ini, akan berakhir manis dan dapat membanggakan orangtuaku, dan aku berharap, suatu saat, aku akan bisa tersenyum saat mengingat kembali memori-memori lucu dan tidak terduga yang datang karena imajinasiku.

Semoga kalian tidak bosan, aku hanya ingin memberi tahu, sedikit rahasiaku.

Remember Me (2017-2019)Where stories live. Discover now