Chapter 1 - Aliansi

229 16 0
                                        

Chaeyeon POV:

Buzz... buzz...

Aku menoleh hanya untuk melihat ponselku bergetar. Aku meletakkan cangkir kopi yang aku pegang dan memaksakan diri untuk berdiri hanya untuk mengambilnya. Ck. mengganggu.

Begitu aku memegangnya, aku memeriksanya, lalu disana aku melihat ada email. Email sialan.

Aku tidak memperhatikannya dan kembali ke tempat dudukku, menonton TV. Tapi kali ini, aku membawa ponselku. Aku tidak bisa membuang-buang energi lagi untuk berdiri lagi. Terlalu melelahkan.

Menit telah berlalu dan masih berdengung berulang kali. Jadi aku membukanya dan memeriksa apa yang ada disana tetapi masih email yang sama. Dikirim lagi dan lagi.

Aish! Ini membuatku gelisah!

Merasa frustrasi, aku akhirnya membuka sms itu. Tapi wajah kesalku berubah terkejut. Aku merasa merinding. Dua kata. Setiap email hanya berisi dua kata tetapi cukup bagiku untuk membuat aku merasa seperti ini.

'Red Fox'

'Red Fox'

'Red Fox'

F-fuck!

Aku menggulir kebawah dan mencari nama, berharap tahu siapa pengirimnya. Tapi tidak ada apa-apa. Aku hanya melihat 'X'.

Dan anehnya, seseorang tiba-tiba menelepon. Ini dari penelepon tidak dikenal. Aku berdebat dengan diriku sendiri apakah aku akan menjawabnya atau tidak. Tapi akhirnya aku tetap menjawab panggilan itu.

"Halo... Red Fox" sebuah suara robot menyapaku. Dan mendengar itu membuat mataku melotot. Aku mengepalkan tanganku sebelum menjawab.

"Siapa kamu?" jawabku tenang namun dengan tegas.

Aku mendengar dia terkekeh.

"Astaga... panggil aku X, dear" dia tertawa.

"Dan ya, akulah yang mengirimimu sms" tambahnya bahkan sebelum aku mendapat kesempatan untuk berbicara.

Ck. Sialan kau X, bajingan.

"Apa yang kamu butuhka?! Dan bagaimana kamu mengenalku?!"

"Santai" dia terkekeh. "Seperti yang kau tahu, aku mengenalmu. Semua tentangmu, Lee Chaeyeon"

Kepalanku semakin mengencang. Aku merasakan kukuku sendiri terkubur di telapak tanganku.

"Lee Chaeyeon. Kamu Red Fox, salah satu criminal paling dicari di seluruh negeri. Aku bahkan tahu targetmu. Mereka semua adalah sindikat, apakah aku benar? Tapi... kamu akhirnya menjadi orang jahat. Sedih sekali?"

Aku mendengar dia terkekeh menjengkelkan.

"Apa yang kau ingin—"

"Aku tahu niatmu, Lee" ucapnya yang membuatku terdiam.

N-niat... a-apa yang dia ketahui?!"

"Aku tahu kamu mengincar 'Black Organization'" katanya.

B-bagaimana dia tahu?! Siapa orang ini?! Dan bagaimana dia tahu begitu banyak tentangku?!

"Aku punya kesepakatan, Lee" tambahnya.

Aku semakin mengepalkan tinjuku. "Kesepakatan apa?"

"Aku bisa menjaga rahasiamu. Bergabunglah denganku. Bergabunglah dengan grupku. Kami akan bekerja sama dan memusnahkan Black Organization"

Aku memejamkan mata dan menarik nafas dalam-dalam.

"Bagaimana aku bisa mempercayaimu?! Bagaimana bisa aku tahu kalau ini bukan prank!?"

Aku mendengarnya tertawa sebelum menjawab. "Aku tahu identitasmu, Lee. Wajah itu sendiri membuktikan bahwa ini bukan prank. Dan sepenuhnya ini keputusanmu, apakah kamu akan bergabung atau tidak. Aku tidak akan memaksamu untuk melakukannya"

Aku tidak menjawab. Aku tidak tahu harus berkata apa. Keheningan mengambil alih kami berdua sampai dia memecah kesunyian.

"Aku akan mengirimimu alamat. Malam ini jam 8... di basement. Kita bisa mendiskusikan hal lain disana. Tapi jika kau tidak mau datang, jangan. Tapi ingat Red Fox, satu-satunya tujuanku disini adalah untuk membentuk aliansi. Untuk memusnahkah musuhmu. 'Musuh kita', Black Organization" dan panggilan berakhir.

Ponselku bergetar lagi dan aku menerima email lagi. Tapi kali ini, isinya dan alamat. Apa aku harus datang?

Genggamanku pada ponsel semakin erat sebelum kulemparkan ke sofa.

Karena frustrasi, aku duduk di lantai dan mulai mrnjambak rambutku, lalu berpikir keras setelahnya.

Siapa dia!? Siapa dia!? Bagaimana dia tahu segalanya? Bahkan nama lengkapku!?

Tapi meski dengan semua pemikiran itu, aku masih ingat apa yang dia katakan tadi, tentang Black Organization. Itu membuatku marah, membuatku kembali mengepalkan tanganku.

Aku menghirup udara. Mencoba menenangkan diri.

Haruskah aku bergabung dengannya saja? Tidak ada salahnya membentuk aliansi dengan seseorang... kan? Dan dia mengejar organisasi itu juga.

Aku tahu, aku tahu pasti bahwa aku tidak bisa mengalahkan mereka sendiri. Aku memang mencoba berkali-kali tetapi mereka terlalu kuat. Aku sudah mengalahkan beberapa dari mereka. Tapi tidak peduli berapa banyak dari mereka yang aku kalahkan, mereka masih kuat. Cukup kuat sehingga mereka dapat merekrut hampir semua orang hanya untuk menjadikan mereka bagian dari pasukan mereka.

Aku berdiri, berjalan mondar-mandir menuju kamarku. Lalu aku melihat sesuatu segera setelah aku masuk. Ini bingkai foto.

Di foto itu aku, dengan ibuku bersama saudaraku.

Senyum pahit keluar dari bibirku saat aku melihat wajah bahagia dari orang-orang penting bagiku. Air mata jatuh pada foto jadi aku menghapusnya menggunakan ibu jariku.

Eomma... Unnie... aku bersumpah... aku akan... akan mengadili kematian kalian, aku janji. Aku meyakinkan kalian semua bahwa aku akan menghancurkan mereka. Setiap salah satu dari mereka. Dan aku akan memastikan bahwa mereka akan membayar atas apa yang mereka lakukan kepada kalian.

IZ*Unit [IZONE]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang