Cumbuan Pembawa Petaka

110 6 2
                                        

Note :

Hime Okayama = Hyuuga Hinata
Yumike Okayama = Sakura Haruno
Sasuna Fujikawa = Sasuke Uchiha
Takashi Tomo = Naruto Uzumaki

Bijaklah dalam membaca, dilarang plagiat. Jangan lupa vote dan komen yaw

***

"Menurutmu gaun ini bagus atau tidak?" tanyaku sambil memilih gaun pengantin yang akan kupakai saat resepsi nanti.

"Tomo … gaun ini bagus atau ti—" Aku menoleh dan perlahan mataku memanas, pertanyaan yang baru saja terlontar seketika terputus di tengah jalan. Bukan jawaban yang memutus pertanyaanku, tapi sosok pria yang akan menjadi suamiku nanti malah asyik berbincang dengan wanita dari masa lalunya.

"Eh, kenapa?" Tomo menjawab dengan gugup. Dia kelabakan karena lagi-lagi aku memergokinya sedang bercengkrama dengan mantannya itu.

"Tidak ada." Aku kembali memilih gaun yang cocok sambil menyeka air mata yang perlahan menetes.

"Kamu harus kuat, Hime. Sisa beberapa hari lagi untuk mendapatkan hasil dari perjuangan panjang mu selama ini. Bertahanlah, setidaknya sampai acara sakral itu berlangsung dan kamu bisa memiliki Tomo seutuhnya." Begitulah kira-kira setiap kata penyemangat yang selalu ku tanamkan di dalam hati.

Dengan tangan menenteng sebuah gaun, aku meminta salah satu karyawan untuk membantu berganti pakaian. Gaun yang kupilih ini terlihat sangat spesial, dengan hiasan mutiara kecil di bagian pinggul serta brokat di lengannya.

Aku masuk ke dalam ruang ganti dan menatap postur tubuhku yang terlihat biasa saja. Tetapi setelah mengenakan gaun itu, aku merasa istimewa. Mungkin karena rasa cinta yang kumiliki terlalu dalam, sehingga setiap hal yang berhubungan dengan Takashi  terlihat indah dimataku.

"Anda cantik sekali, Nona. Calon suami Nona pasti terkesima begitu Nona keluar dari sini."

Aku tersenyum lebar, menanti respon Tomo dan berharap ucapan yang baru saja ditujukan karyawan itu menjadi kenyataan.

Tetapi realitas memang tidak seindah ekspektasi, terutama ekspektasi manusia yang terlalu tinggi. Bukannya mendapat respon yang diharapkan, aku malah dihadapkan dengan cumbuan calon suamiku.

Tidak. Cumbuan itu bukan untukku. Tapi untuknya, sang mantan kekasih yang begitu tega meninggalkan dan membuatnya jatuh ke dalam jurang kehancuran beberapa tahun lalu.

"Dasar Jalang! Apa yang kau lakukan dengan calon suamiku, hah!" Kujambak rambutnya dan perempuan itu sontak meringis kesakitan. Jangan menghakimiku, tolong! Aku sudah berjuang selama lima tahun ini dan aku tidak mau usahaku sia-sia.

"Lepaskan dia, Hime! Jangan bertingkah bar-bar seperti ini! Aku tidak suka!"
Teriakan kesakitan dan peringatan silih berganti masuk ke dalam indera pendengaran ku. Tapi aku tidak peduli, rasa sakit dihatiku sudah sampai pada puncaknya. Sudah cukup selama ini aku mengalah dan sekarang adalah waktu yang tepat untuk membalas semua perlakuan jahat mereka, terutama si wanita jalang.

"A-aw, sakit! Lepas! Lepaskan aku!" Jalang itu terus memohon, tapi aku semakin beringas. Bisa kurasakan setiap helai rambut yang selalu dibanggakannya itu terlepas akibat cengkraman tanganku yang terlalu kuat.

Tidak hanya rambutnya saja yang kujambak, tanganku perlahan menyisir ke leher indahnya dan menekan tepat di area tenggorokan dengan kuat. Nafas si jalang perlahan memendek, seiring dengan degup jantungku yang meningkat.

Aku sudah menantikan momen ini sedari lama. Tinggal sedikit lagi, aku bisa melihat jalang yang selalu mengambil milikku itu mati. Mati di tanganku.

"Mati kau, Bangsat!" Aku berteriak sebagai tanda kepuasan. Tapi saat jalang itu akan menghembuskan nafas terakhirnya, Tomo malah mencekal tanganku. Dia berusaha untuk melepaskan tanganku dari leher mantannya dan sialnya dia berhasil.

"Kau gila, Hime! Kau gila!" Itu adalah kata-kata yang dilontarkannya sebelum pergi meninggalkanku sendirian di butik langganan kami.

Wajahku mengeras, berusaha untuk terlihat tegar dan segera pergi ke ruang ganti untuk melepaskan gaun itu. Gaun yang sangat istimewa, tetapi begitu menyakitkan saat mengingat bahwa beberapa menit lalu Tomo lebih memilih mantannya daripada aku, calon istrinya sendiri.

Setelah memastikan gaun itu terlepas dengan sempurna, aku keluar dari ruang ganti dengan baju yang semula kupakai ke butik itu. Dengan ekspresi datar aku meminta agar gaun itu segera dibungkus karena aku akan membelinya.

"B-baiklah, Nona. T-tunggu sebentar ya."
Aku tersenyum kecut, ternyata semua orang sama saja. Mereka hanya menilai dari kepribadian yang tampak dan pastinya beberapa orang di butik itu merasa kasihan dengan si jalang tanpa tahu duduk perkara masalah kami bertiga.

"Terimakasih." Aku berucap pelan dan kemudian berbalik untuk keluar dari butik itu.

Dengan langkah pasti, kakiku melangkah lebar. Menuju mobil yang sudah terparkir manis di depan mata.

"Sebentar lagi kita akan menikah, Tomo. Aku harap kau masih ingat kalau jalang itu pernah meninggalkanmu beberapa tahun lalu. Dan hanya aku yang setia berada disampingmu selama ini, bukan dia." Aku bergumam dan menjatuhkan tubuhku ke atas kursi mobil.

Aku menghela nafas perlahan, berusaha untuk menetralkan emosi yang sejak tadi bergejolak. Beberapa menit aku melakukan hal yang sama, tetapi tidak ada gunanya sama sekali. Emosiku semakin membuncah, seolah lava yang siap menyembur dan melelehkan apapun yang berada di sekitarnya.

"Tahan, Hime. Jangan lepas kendali. Kau bisa meluapkan segala emosimu nanti, saat kau sendirian. Kalau kau melepaskannya disini, pastinya akan ada banyak orang yang menghakimimu. Terutama mereka yang bisanya hanya melihat kesalahan orang lain saja." Aku membatin dan kembali menghela nafas.

Setelah cukup tenang, aku mengemudikan mobil dengan cukup kencang. Kalau kalian berpikir, cara mengemudiku yang cepat sebagai bentuk pelampiasan emosi, maka kalian salah.

Aku tidak pernah melampiaskan emosi dengan cara seperti ini. Aku hanya tidak sabar untuk bertemu dengan benda kesayanganku. Benda yang akan membawaku pada ketenangan.

***

Aku masuk ke dalam apartemen dengan langkah tergesa. Melepas sepatu kemudian menggeledah seluruh isi apartemen untuk mencari benda itu.
Jika kalian berpikir aku bodoh. Maka aku akan jawab iya! Karena saat aku emosi, semuanya tampak sama dimatamu. Dan benda itu cukup sulit ditemukan jika aku sedang emosi seperti ini.

"Dimana benda itu? Shit! Harusnya aku kalungkan saja agar cepat ketemu disaat seperti ini." Aku menggerutu, dengan tangan yang masih setia mengobrak-abrik isi apartemen.

"Ah! Itu dia!" Aku berlari dengan cepat. Mengambil benda itu kemudian menggoreskannya ke tubuhku.

Aku bisa bernafas lega sekarang, karena setiap emosi yang kurasakan perlahan memudar seiring dengan tetesan darah yang mengucur dari tanganku.

"Untung saja aku mendapatkannya tepat waktu." Aku bahagia. Bahagia bisa menyalurkan emosi tanpa menyakiti orang lain.

Ya, walaupun beberapa menit lalu aku hampir saja membunuh si jalang, tetapi itu karena kesalahannya sendiri. Bukan karena aku.

Setelah merasa cukup puas dengan goresan di tangan, aku kembali menggoreskan benda itu ke sekitar lenganku. Hanya goresan kecil, sebagai bentuk penyaluran emosi yang sedari kecil kulakukan saat merasa sedih ataupun marah.

Beberapa menit kemudian, kepalaku mulai terasa pening. Aku berhenti menggoreskan benda itu ke tubuhku dan memilih untuk membalut luka disana seadanya.

"Kau hebat, Hime. Ini adalah rekor terbaru mu. Kau bisa menahan diri lebih lama dari biasanya." Aku bergumam sambil tersenyum senang.

Istri Pengganti Duda KayaStories to obsess over. Discover now