1. Febrian Austin

4 2 0
                                        


Febrian Pov

Hai, nama gue Febrian Austin. Teman-teman gue sering manggil gue Febrian, ups ... ralat. Maksud gue teman.  Gue cuma punya satu teman yang mampu menerima keadaan gue, dia Ferdian. Selain nama kami yang hampir mirip, wajah kami pun terlihat seiras. Hal itu membuat kami di juluki si kembar, hahah.

Gue di anggap aneh, hanya karna mampu melihat apa yang orang lain tidak mampu lihat. Makhluk tak kasat mata? Iya makhluk halus. Itu semua terjadi saat gue pernah ngalamin kecelakaan motor bersama ayah, nyawanya tak terselamatkan waktu itu. Sedangkan gue, gue jadi bisa lihat makhluk menyeramkan. Dulu, aku selalu berteriak jika, makhluk itu menghampiri ku dan memperlihatkan wujudnya. Ah itu sangat menakutkan, dan sialnya, gue sering tidak bisa tidur hanya karna hal itu.

Kalian tidak tahu bagaimana rasanya di kucilkan dan tak di anggap hanya karna kemampuan aneh kalian. Bukan hanya teman sekelas yang menjauh namun, juga gadis yang ku cintai dan ku kagumi diam-diam, dia Irish. Primadona SMA marga sakti, dia gadis yang cantik dan begitu di hormati. Semua lelaki tunduk padanya, bahkan mengincarnya sebagai kekasih. Ah, Irish memang benar-benar begitu mengangumkannya di mataku. Bukan hanya aku seluruh pria marga sakti juga begitu.

Bukan cuma itu, gue lebih sering melihatnya dari kejauhan, menyaksikan dia tertawa dan bercanda ria bersama teman-temannya, ia dia begitu di segani sehingga memiliki banyak sekali teman. Berbeda dengan gue, jalankan sedikit banyak saja tidak ada, hanya Ferdian saja.

Gue udah lama mencintai Irish diam-diam, semuanya bermula saat masa orientasi dulu. Ah, itu adalah pertemuan yang memalukan. Dia mana gue nggak sengaja melempar kaleng soda milikku, dan mengenai jidatnya. Kalian tahu, aku begitu kaget waktu itu dan segera menghampirinya untuk meminta maaf. Tapi, dia menepisku dengan kasar dan membentakku dengan keras, perlakuannya itu tidak membuatku membencinya sedikit pun melainkan, sebaliknya. Aku jadi mencintainya dan begitu menganguminya. Dia sangat manis saat marah-marah, hehe ...

____________

Author pov;)

Pria dengan kaki jenjang, memasuki ruang kelas 12 IPA 1. Kelas yang awalnya ribut, kini menjadi hening. Semua siswa saling berbisik satu sama lain. Itu sudah menjadi hal yang tidak aneh lagi bagi pria tampan itu, Febrian berjalan acuh. Kakinya menuntunnya ke arah kursinya.

"Lihat, pria aneh."

"Iya, wajahnya dingin banget, yah?"

"Jangan di deketin, dia itu manusia aneh."

"Hei anak cenayang, pergi kau dari sana. Itu bangku Ferdian!"

Itulah segala macam hujatan dan cacian yang selalu Febian dapatkan tapi, ia sudah kebal dengan semua ini. Ini bukan pertama kalinya ia mendapatkan makian dan cacian dari anak-anak sekelasnya. Sudah jadi makanan sehari-hari bagi Febian, Ferdian juga pernah bilang, jangan pernah memasukan ucapan mereka kedalam hati.

Febrian melipat kedua tangan  di atas meja sebagai tumpunan kepala, saat sendiri itulah yang dia lakukan, dia tak ingin melirik sembarang arah. Jika, ketahuan menatap salah satu temannya maka ia akan di teriaki, katanya Febrian pembawah sial. Bukannya begitu, Febrian hanya menyampaikan apa yang ia lihat, seperti kejadian beberapa bulan yang lalu. Dimana saat Febian menatap salah satu murid di kelas yang nampak lesu, Febian melihat ada hantu wanita yang bergelantungan di lehernya. Melihat itu, Febian bangkit dari  duduknya dan berkata berteriak,"Hei! Ada makhluk halus bergelantungan di lehernya, bantu dia. Jika, tidak dia bisa saja tiada." Seru Febian, semua yang ada di kelas hanya menatap heran ke arahnya. Karena tak ada yang mempedulikannya, Febian langsung bergegas ke arah murid itu, Febian mencekik leher murid tersebut dan berteriak,"lepaskan leher, anak ini! Kembali lah kedunia mu, ini bukan tempatmu!"

Seluruh murid terkejut oleh aksi nekat Febian, semuanya langsung menarik berusaha melepaskan tangan Febian yang mencekik murid itu. Semenjak kejadian itu, semua murid membencinya. Apa lagi setelah kejadian itu, murid yang di ketahui bernama Ahmad itu meninggal dunia keesokan harinya. Seluruh murid marga sakti hari itu menyalahkan Febian, bukankah Febian sudah mengatakan untuk membantu murid itu dari makhluk itu tapi, tidak ada yang peduli. Febian pun harus rela menerima amukan orang tua Ahmad, ia di Scors selama sebulan lebih. Dan hari inilah, hari pertama kalinya ia masuk lagi kesekolah.

BRAK

Seseorang mengeprak meja,"Hei pembunuh! Beraninya kau kembali menampakkan wajahmu setelah kejadian itu, pembunuh tidak tahu diri!" Geramnya. Febrian hanya menatap datar ke arahnya,"Itu bukan salahku jadi, berhentilah untuk menyalahkanku." Jawab Febian dengan suara datar.

Murid yang di ketahui bernama Ragil langsung naik pitam,"Mana ada maling yang mau ngaku, nggak tahu diri." Sentaknya, tangannya melayang hendak menampar Febian. Namun, sebuah tangan kekar menahannya,"Jaga perilaku, lo! Mau gue patahin tangan lo, hah?" Bentak Ferdian. Ferdian adalah salah satu pria yang di takuti seluruh penghuni kelas lantaran, ucapannya yang tak pernah bercanda. Apapun yang pria itu ucapkan akan benar-benar  pria itu lakukan.

So, jangan berani dengan pria bernama Ferdian ini. Bisa saja tangan mu akan benar-benar di patahkan olehnya, xixi...

"Hei, Ferdian! Lepaskan tanganku, kau tidak tahu. Dia itu pembunuh, kenapa kau mau berteman dengan seorang pembunuh?" Maki Ragil, yah murid itu bernama Ragil. Ferdian tersenyum sinis,"Hanya orang bodoh yang menganggap Febian pembunuh, dan satu lagi, dia bukan pembawah sial seperti apa yang kalian katakan! Kalian paham!?" Bela Ferdian. Ferdian dengan keras memyentakkan tangan Ragil, membuat sang empunya meringis kesakitan.

"Sana! Kembali ke bangku mu jika, tidak ku pastikan kau tidak akan bisa berjalan lagi." Ancamnya, tentu saja ancaman Ferdian membuat Ragil bergidik ngeri. Dengan berlari Ragil mengikuti perintah Ferdian.

Ferdian menatap ke arah Febian yang tetap terlihat biasa aja,"Kenapa nggak mencoba melawan? Bagaimana kabarmu? Sudah lama kau tidak masuk sekolah, aku begitu merindukanmu."

Febian mendongak,"Untuk apa di lawan? Yah, seperti yang kau lihat sama seperti dulu. Aku juga." Balas Febian.

Ferdian mendudukkan bokomgnya pada kursi di samping Febian,"Kau ini, masih seperti yang dulu. Penakut." Ledek Ferdian. Febian menoleh,"Enak saja, aku bukan penakut." Protesnya tidak terima. Ferdian terkekeh, Febian benar-benar tidak berubah sedikit pun.

"Lain kali cobalah untuk melawan, kau kan tidak pernah salah." Nasehat Ferdian. Febian bungkam, dalam hati ia setuju dengan apa yang Ferdian ucapkan.

______

anyeong!
Gimana part 1 nya? Menarik tidak?
Hei, dari mana asal kalian? 🤭
Bagaimana bisa kalian nyasar ke ceritaku ini? 🤔

🤫Husst, diam! Yang baca ini di tengah malam, hati-hati nanti mereka ada di samping kalian hihihiiii.

Oke, bubye. Selamat overthingking🤭🤭🤭🤣

My beautiful ghost Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang