Seorang gadis berseragam putih biru dengan nametag bertuliskan Azzara Lyora yang melingkar di lehernya itu tengah berlari menyusuri setiap koridor menuju ke ruang ganti. Ia harus segera mengganti seragamnya dengan pakaian olahraga. Jika telat semenit saja dipastikan ia akan kena hukuman kakak kelasnya. Tidak. Ia tidak boleh melakukan kesalahan di masa MPLS-nya ini.
"Aduh semoga aja gak telat," ujarnya cemas. "Ya abisnya gimana, ada guru kesusahan ya gue bantu dulu lah."
Sorot matanya sudah disuguhi dengan pemandangan ruang ganti yang kosong, wajar saja, karena teman-temannya pasti sudah berganti pakaian sedari tadi. Gadis itu pun segera masuk ke salah satu bilik yang paling ujung dan mengganti bajunya.
Sekian menit berlalu, Zara sudah siap dengan pakaian olahraga yang melekat di tubuhnya. Setelah merapikan ikatan rambutnya yang sedikit berantakan barulah ia lalu keluar dari bilik itu.
Baru saja beberapa langkah, mata coklat itu membulat sempurna kala menyoroti seorang cowok dengan kamera ditangannya.
"Aaa!" Zara refleks berteriak. "Ngapain lo disini? Lo 'kan cowok!"
Mendengar suara teriakan yang begitu memenuhi gendang telinganya, sosok cowok itu menoleh dengan ekspresi terkejut. Aura marah Zara mengeruak keluar, ia berjalan cepat menghampiri cowok itu dengan mengepalkan kedua tangannya.
"Sorry gue kira gak ada orang. Tadi udah gue ketuk tap—"
Tanpa mau mendengar penjelasan cowok itu, tangan Zara terangkat dan menamparnya dengan kuat. "Dasar cowok kurang ajar! Lo mau ngintip hah?"
Cowok itu memegang sebelah pipinya yang kian memanas. Tidak terima dengan tuduhan itu, ia berujar, "Gila ya lo? Heh, siapa juga yang mau ngintip?"
"Alah, terus ini apa?!" teriak Zara lalu menyambar kamera di tangan cowok itu.
Mata Zara menyipit seraya mengangguk-angguk, mengerti tujuan tersembunyi cowok di depannya ini. "oh, cowok modelan kayak lo ini pasti sengaja kan nyimpen poto-poto cewek terus lo jual poto itu?!"
Mata cowok itu membelalak antara terkejut dan tidak terima dengan penuturan gadis aneh ini. Tentu ia bukan cowok seperti itu. "Enak banget lo nuduh, gue bukan cowok kayak gitu!"
"Oke." Zara melipat kedua tangannya di dada, lalu mengangkat kamera cowok itu. "Sekarang tunjukin semua koleksi poto yang ada di kamera lo ini kalo emang lo bukan cowok kayak gitu."
"Emang lo siapa berhak ngatur-ngatur gue? Buat apa juga gue nunjukin semua hasil poto gue sama lo?"
"Tuh kan bener! Lo emang cowok brengsek! Cowok hidung belang!" pekik Zara melengking.
Terdengar helaan napas dari cowok itu. "Kalo lo mau tau, Pak Darma minta tolong gue buat poto semua fasilitas sekolah buat brosur, termasuk ruang ganti ini."
"Lagipula gue udah ketuk pintu, gue juga udah panggil-panggil tapi gak ada yang nyahut!" lanjut cowok itu.
"Pinter banget ya lo nyari alasan sampe bawa-bawa pak Darma segala!" celetuk Zara keukeuh. Masih tidak percaya dengan cowok berpakaian olahraga ini. Cowok seperti dia memang harus diberikan pelajaran.
Cowok itu mengusap wajahnya frustasi. Harus bagaimana lagi ia menjelaskan kesalahapahaman ini. "Gue gak nyari alasan! Lo bisa gak sih positif thinking sebelum nuduh orang?"
"Ini bukan tuduhan, ini kenyataan!"
"Mana buktinya?"
"Ini, kamera? Masih mau ngeles lo? Gue gak akan biarin cowok hidung belang kayak lo terus beraksi!" Zara langsung melemparkan kamera itu ke lantai dan menginjak-injaknya hingga lensa kamera itu rusak.
"Kamera gue!" teriaknya. Tubuh cowok itu seakan langsung lemas di tempatnya melihat kamera miliknya di injak-injak tanpa rasa kemanusiaan. Ia berjongkok, memungut serpihan-serpihan yang tersisa dari kameranya.
Cowok itu menatap naas kamera kesayangannya yang hancur tepat di depan matanya sendiri. Melihat ini semua, deru napasnya memburu, bahkan urat lehernya kini mulai tercetak jelas, sarat akan kemarahan. Sorot matanya menatap Zara dengan kilatan marah.
"Cewek stress! Lo mau gue—"
Sebelum sempat cowok itu menyelesaikan ucapannya, pintu tiba-tiba saja terbuka dan menampilkan seorang wanita paruh baya berseragam coklat.
Wanita tersebut menatap terkejut ke arah keduanya secara bergantian. Tidak percaya dengan apa yang dilihatnya saat ini.
Zara menelan salivanya susah payah, ia yakin sekarang akan terjadi kesalahpahaman yang cukup besar.
"Kalian ngapain berduaan disini?!"
KAMU SEDANG MEMBACA
Diary Zara
Teen FictionKehilangan kedua orangtuanya sekaligus membuat gadis bernama lengkap Azzara Lyora itu menjadi sosok yang selalu merasa kesepian. Hingga membuatnya terbiasa menyimpan semua lukanya dibalik seulas senyuman. Berusaha untuk selalu baik-baik saja walau p...
