Boy of My Dreams

73 21 18
                                    

" Si cantik! "

Aku tertawa mendengarnya.
Berjuta rasanya setiap mendengar suaranya. Sangat indah dan mempesona.
Saat itu aku belum pernah mengenalnya. Dia muncul tiba-tiba di dalam hidupku yang membosankan ini. Memberikan warna yang tidak pernah kulihat dan kurasakan sebelumnya.

Namaku Tin, dan inilah kisahku bersama Set.

—-

Semuanya dimulai saat aku kehilangan seseorang yang berharga untukku. Orang tersebut meninggalkanku sendirian, membuat duniaku hancur. Dia yang selalu ada untukku, kini sudah tidak ada lagi.

Di saat yang sulit ini, tiba-tiba sesosok pria muncul setiap hari di mimpiku. Yang berawal dari mimpi, kemudian berlanjut hingga muncul di keseharianku. Keberadaannya menenangkanku, membuatku kembali berbahagia di tengah kesulitan yang sedang kuhadapi.

" Kau sedang apa? "

Aku berdehem saat dia muncul disampingku.

" Kenapa? Kau mau ikut kerja PR bersamaku? "

" Hoo, tentu tidak. Aku hanya penasaran dengan apa yang kamu lakukan. " lanjutnya sambil berjongkok di sampingku.

Aku tersenyum dan menutup laptopku. " Seharusnya kamu tidak muncul sekarang. " kataku kepadanya.

" Aku tidak sabar ingin bertemu denganmu. Apa tidak boleh? " tanyanya sambil cemberut.

" Tidak.. bukan itu maksudku. Tapi aku jadi tidak bisa mengerjakan tugas karena kamu. "

Dia cemberut dan duduk. " Aku kira kau akan selalu senang saat bertemu denganku. "

Aku tertawa kecil. " Tentu senang. "

Tiba-tiba keheningan timbul diantara kami berdua.

" Apakah kamu tidak mau tahu namaku? " tanyanya tiba-tiba.

" Hm? Kau punya nama? " tanyaku heran.

Dia mengangguk. " Tentu! Kau mau tahu? " lanjutnya bersemangat.

Aku balas mengangguk. " Tentu. Siapa namamu? "

" Set. Namaku Set. "

Set..

Nama yang indah.

—-

" Kamu depresi. "

Mataku membelalak saat mendengar psikiaterku mengatakan hal itu kepadaku. Sudah lama aku tidak mendengar kata itu. Terakhir kali aku mendengarnya saat aku masih menginjak SMP.

" Depresi? " tanya ibuku pada psikiater.

Psikiater mengangguk. " Anak ibu dapat melihat hal yang seharusnya tidak ada. Itu tanda-tanda depresi. "
Aku menunduk dan memainkan jariku. Apakah aku tidak normal? Atau sakit?

—-

" Apa itu? " tanya Set padaku.

Aku menghela nafasku. " Obat. "

" Kenapa kau harus minum obat? "

" Aku depresi. Jadi aku harus minum ini supaya bisa normal lagi. " jawabku.

" Tapi kamu terlihat baik-baik saja? Kudengar kalau kau minum obat ini kau tidak dapat bertemu denganku lagi? "

Kata-katanya menusuk hatiku.

" Benarkah itu? Kau tidak dapat melihatku lagi nantinya? " lanjutnya dengan pelan.
Aku mengangguk. Aku tidak dapat menahan tangisanku dan akhirnya menangis. Aku tidak mau berpisah dengan Set. Aku masih ingin hidup bersamanya. Dialah kebahagiaanku.

" Bisakah kau tidak usah meminumnya? " tanyanya dengan lembut.

Mimpi HujanTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang