SMA BINA TIRTAJAYA
Begitulah tulisan yang terpampang jelas saat memasuki kawasan wilayah ini. Iya. Sekolah baru. Pengalaman baru. Dan .. perjuangan baru.
Bahkan untuk memasuki sekolah ini perlu perjuangan. Sekolah favorit di kota ini. Untuk masuk lewat jalur rapot nilai rata rata terendah kemarin 92.
Tap .. tap
Suara langkah kaki terdengar. Kaki ku berjalan melangkah menuju kelas baru. Sambil sesekali mengamati pemandangan sekitar. Banyak pepohonan dan semua fasilitas terawat baik. Makannya SMA ini menjadi salah satu SMA favorit di kota ini. Sampai pada akhirnya perjalanan terhenti. Menatap pintu yang terbuka.
X IPS 7
Iyaa,
Kelas baru.
Mataku mengedarkan pandangan, hingga tertuju pada bangku belakang, dengan cepat segera ku hampiri agar tak ada yang mendahului.
Kepribadian Introvert. Membuat diriku nyaman untuk menyendiri. Rasanya damai. Berinteraksi saat memang perlu saja. Walau resikonya, teman ku tak sebanyak yang lain. Enggak apa-apa. Sedikit tapi berkualitas. Menurutku lebih baik.
"Hufhh." menarik napas dalam-dalam ketika bokong ku menyentuh alas bangku paling belakang. Entah, seketika merasa ada beban.
Sebenarnya hanya masalah sepele. Cuman kadang, sebagian orang yang malah melebihkannya. Orang terdekat ku misalnya.
Jurusan IPS
Iya. Sewaktu SD-SMP banyak sekali olimpiade IPA yang ku ikuti. Tanpa dipungkiri, banyak piala yang berjejer di rumah.
Tapi sekarang ..
Jurusan IPS yang dipilih.
Pasti banyak pertanyaan yang tertuju.
"Kenapa masuk IPS?" "Seharusnya IPA, kan kamu pinter IPA."
"Kamu cocok jadi dokter, kok malah IPS."
Melelahkan. Hidup yang kita jalanin. Malah orang yang komentarin. Ah sudahlah. Tutup kuping saja, dan menganggapnya hanya angin lalu.
Kelas masih sepi, belum banyak yang datang. Ku amati satu-satu, sampai fokus ku tertuju pada dua orang lelaki yang mempeributkan bangku depan.
Iya,
Lelaki.
Biasanya mempeributkan bangku belakang. Sekarang malah bangku depan. Aku mengernyitkan dahi.
Mungkin roh mereka dirasuki Albert Einstein.
••••••
"Ganteng kiw kiw. Gantian posisi yu. Gak kasian sama adek imut lo?" Diki menoleh sambil memasang senyum termanisnya.
"Imut darimana lo? Ujung sedotan?" sarkas Dika, lebih tepatnya jijik mendengar ucapan saudara kembarnya.
"Cih. Pelit, durhaka, ga ada akhlak." segala umpatan tertuju pada Dika.
"Lo tau kan. Gua duduk di pojok depan bree." Diki memelas.
"Dih, bersyukur lah. Masih depan ini."
"Asal lo tau yaaa." tangan Diki menjulur menyingkap gorden di jendela yang sudah agak rusak.
"Liat noh papan tulis. Glowingnya ngalahin pantat bayi. Mana keliatan gua. Ngerti kan sekarang? ngerti donggg masa ga ngerti."
"Itu si derita lo. Amal lo dikit berarti, jadi apes." merasa jenggah. Dika melangkah keluar kelas, meninggalkan adiknya yang rada-rada. Rada gila tepatnya.
"Emang dasarnya akhlak lo ketinggalan di rahim." Diki mengacak rambutnya. Kesal. Ingin sekali menjambak rambut kakaknya. Tapi ia sadar. Cukup Dika yang durhaka, Diki jangan.
ŞİMDİ OKUDUĞUN
Arancia
Genç Kurgu"Masih suka ini ... kenapa?" "Karena apapun tentangnya, aku menyukainya." Sempurna. Mustahil untuk didapatkan. Tapi memang sifat manusia, ingin dipuji, enggan dicela. Lahir dengan keadaan sempurna, memang menjadi idaman semua manusia. Termasuk Syasy...
