Hal pertama yang perlu kau tahu, ibuku biasa memanggil ku King Jungkook. Nama ku memang tidak biasa, dan perlu kau ketahui King berarti Raja sedangkan Jungkook adalah..
Aku sendiripun tidak tahu, haha.
Dia, maksudku ibu, terus berkata kepadaku "Kau akan mampu menjadi seseorang yang memiliki kedudukan yang tinggi dan mampu hidup sendiri. Yakinlah pada dirimu sendiri, Jungkook."
Sedari kecil aku bersamanya. Ayah, aku tidak tahu dimana dia dan aku tak berani menanyakan dimana ayah kepada ibu. Karna aku pernah melihat ibu sedang menangis memegang foto seorang laki-laki yang memakai seragam, bertopi, dengan latar pesawat terbang. Aku tidak bisa melihatnya dengan jelas. Namun aku sedikit yakin, mungkin itu foto ayahku.
Oke, lupakan tentang seorang ayah.
Aku memiliki seorang kakak laki-laki yang meninggalkan rumah. Ah, maaf, maksudku pergi berkerja entah kemana aku tidak begitu ingat tentang dirinya.
Jadi, kami berdua saja. Dan itu sangat luar biasa.
Dia bukan ibu biasa, selain mengajariku menjadi pria yang bijaksana dan pintar mengurus rumah tangga, dia mengajariku membaca buku tentang ilmu pengetahuan dan peta dunia, sains, memanah, menembak, adu pedang, berkuda dan yang paling penting beladiri.
Kata ibuku beladiri adalah hal yang wajib dikuasai oleh seorang pria agar bisa melindungi diri dari musuh dan menolong orang.
Dia bagaikan sinar bulan yang menerangi gelapnya malam. Tapi malam ini bulan itu tak menampakkan dirinya seolah hilang tenggelam kegelapan yang teramat dalam.
Tok tok!
Suara ketukan pintu bergema membuatku terbangun di malam hari dengan keadaan setengah sadar. Aku melihat jam yang berada di samping tempat tidur 12.13. Ayolah! Siapa orang yang akan bertamu pada tengah malam begini? Yah, kecuali orang gila.
TOK TOK TOK!
Ketukan itu semakin keras, aku segera bangun dan membuka lemari baju untuk mencari mantel. Nah, ketemu. Dengan cepat aku memakainya sembari berjalan menuju pintu.
"Ya, sebentar."
Clack!
Aku mengeryitkan dahi keheranan 'siapa dia? ' aku tak mengenalnya. Seorang pria dengan seragam serta topi yang menghiasi kepalanya, serta tongkat yang digunakan untuk menyangga tubuhn dengan sedikit ada kerutan di wajah. Kelihatannya dia syok dengan penampilan ku yang amburadul, tapi apa peduliku? Pendapat dia tentang penampilanku malam ini jelas dia lah yang salah bertamu tapi tidak tahu waktu. Kemudian, pikiran negatif mulai bermunculan.
'Jangan-jangan dia seorang perampok? Atau pembunuh? Orang gila? Tidak mungkin kalau ini hantu 'kan?' sebuah suara membuyarkan pikiran ku.
"Maaf, apabila mengganggu waktumu, tuan."
'Iya. Kau memang mengganggu. Kau tidak melihat ini jam berapa? Dan kenapa dimemanggilku tuan?' Batinnya menggerutu kesal.
"Apakah ini alamat rumah nyoya King John Hana?"
Tunggu, kenapa dia tahu nama ibuku dan alamat rumah ini? Dengan sedikit ragu aku mengangguk. "Iya benar."
Kulihat dia tampak menghembuskan nafas lega. "Maaf, tapi tuan ini siapa?"
"Maaf, nona. Saya belum mengenalkan diri, nama saya Kim Taehyung, panggil saja V." ucapnya sembari mengulurkan tangan.
Akupun segera membalas uluran tangannya. "Apa benar tuan ini anak nyonya King John Hana yang bernama King Jeon Jungkook?"
Aku membalasnya dengan menganggukan kepala. Tampang orang disebrang sana berubah menjadi sendu. Ada apa dengan ibu? Bukannya ibu sedang menjenguk temannya yang sakit di Seoul? Kemarin isi surat yang dikirim, kabar ibuku baik baik saja. Bahkan temannya sudah sembuh dan dia akan kembali ke Busan lusa. Dan, ya, nanti pagi lebih tepatnya jam 9 aku akan menjemputnya di perempatan.
"V, apa bapak baik-baik saja?"
V mengusap wajahnya kasar, "Apakah tuan sudah mendengar berita tentang nyonya Hana meninggal dunia?"
Apa maksudnya? Seketika jantung Jungkook seakan-akan berhenti berdetak kala mendengar pernyataan yang disampaikan oleh Jimin.
"Maksud anda apa? Bukannya ibu ke Seoul untuk menjenguk temannya yang sakit?" Jungkook berusaha menyangkal pernyataan tersebut walau terbata-bata.
V menghembuskan nafas berat seolah tidak tega, "Nyonya Hana sudah meninggal dunia saat menjalankan misi."
Jungkook terlihat terkejut, "Misi? Misi apa? Kamu jangan berbohong!"
"Saya berbicara juju--"
Brak!
"Jungkook!"
Sebelum V melanjutkan kalimatnya, Jungkook terlanjur jatuh pingsan di depan pintu. Dia terlalu terkejut. Dia terlalu tidak percaya akan kenyataan pahit yang sedang menghantamnya seolah berhasil meremukkan hati mungilnya hingga hancur tidak menyisakan sebutir pun.
Dalam keadaan tidak sadar, buliran air mata mengalir. Lalu tiba-tiba saja hujan turun dengan derasnya seakan menemani tangis Jungkook.
To be continue.
