Setelah Jimin pindah ke sekolah di Busan, dia mengalami perundungan setiap hari. Park Jimin berusaha bertahan sampai suatu hari, seseorang yang paling ditakuti di sekolah menolongnya.
Sejak saat itu, dunia Park Jimin hanya dipenuhi Jeon Jungkook seo...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"Tugas kemarin dikumpulkan. Ketua kelas, Bangun!" Suara menggelegar guru wanita bersanggul tinggi itu membangunkan ketua kelas yang tertidur pulas di bangkunya.
"Baik, Bu." Kwon Ji-yong segera berdiri sambil menjawab dengan hormat. Namun begitu guru itu berbalik keluar, tatapannya berubah dingin, menyapu seluruh murid hingga seluruh ruangan menjadi hening.
Ji-yong duduk kembali dan mengumpulkan buku tugas yang satu per satu diserahkan ke mejanya. Para murid bahkan tidak berani memprotes jika mereka belum selesai dan hanya bisa patuh di bawah tatapan tajam Ji-yong, sosok yang lebih menakutkan dibanding para guru.
Tanpa menghitung jumlah buku yang menumpuk tinggi di atas mejanya, Ji-yong sudah tahu bahwa masih tersisa satu buku yang belum dikumpulkan.
Kali ini, Ji-yong sendiri yang berjalan mengambilnya.
Di sudut kelas yang luput dari jangkauan cahaya, seorang remaja dengan penampilan bersih dan rapi mengeluarkan bukunya. Tempat yang seharusnya lebih suram dan berdebu menjadi satu-satunya tempat paling tenang dan nyaman di ruangan ini, kontras dengan suasana kelas yang riuh dan penuh tekanan.
Remaja itu, Park Jimin, mengeluarkan buku biru dan menyerahkannya.
Ji-yong menerimanya tanpa ekspresi. Di depan wajah lembut itu, Ji-yong mengubah nama yang tertulis rapi di sampul buku dengan namanya sendiri dalam coretan kasar.
"Jadi hanya Park Jimin yang belum mengumpulkan tugas." Ucapnya santai tanpa beban.
Ji-yong menatap Jimin sambil menyunggingkan senyum tipis, "Kasihan sekali, menjadi pintar adalah kesalahanmu."
Mata Jimin melebar dan dia menggeleng panik, remaja itu berusaha merebut bukunya kembali, namun tubuhnya terdorong oleh gadis yang duduk di sampingnya.
"Kau tidak mendengar apa kata ketua kelas? Duduk dan tunggu saja hukumanmu." Sahut gadis itu jengkel.
Jimin menatap Ji-yong yang menyeringai lalu pada teman sebangkunya. Mata gadis itu tak bisa menyembunyikan rasa jijik padanya. Seolah dia adalah sesuatu yang kotor dan harus dihindari.
Semua siswa di kelas juga menatap ke arahnya dengan berbagai emosi. Campuran antara kasihan dan ejekan.
Wajah Jimin memucat dan dia tidak lagi memiliki kekuatan untuk melawan.
Benar saja, tak lama kemudian dia dipanggil ke ruang guru.
"Kenapa kau tidak mengerjakan tugas?"
Jimin menunduk dan hanya menggeleng lemah. Dia tidak bisa menjelaskan kebenaran, karena jika dia melakukannya, maka apa yang menantinya akan jauh lebih mengerikan daripada saat ini.
"Lari keliling lapangan lima kali. Jangan pikir ibu akan mengasihanimu."
Jari jemari Jimin mencengkram ujung bajunya hingga kusut. Dia tidak pernah ingin dikasihani. Baginya, rasa kasihan orang lain tak lebih dari siksaan. Tidak ada yang benar-benar bersimpati padanya, justru sebaliknya, apa yang disebut kasihan itu hanyalah cara untuk merendahkan dan mengolok-olok kekurangannya.