1. The meet

8 0 0
                                        

"AH SIAL! APAAN BISA-BISANYA AKU KETINGGALAN FILE PENTING INI?? ADUH BU DWI GALAK LAGI!!!" Gadis berusia 17 tahun terus berlari kembali ke arah halte bus. Berharap cemas semoga tidak ketinggalan bus hari ini.

Jika tidak, habislah ia. Harus mengambil taksi yang biayanya jelas lebih besar dibanding menaiki bus.

Seandainya, ia tidak ketinggalan file presentasi-nya...

File presentasi untuk mata pelajaran hari ini ketinggalan, sialnya lagi yang mengajar bu Dwi.

Bu Dwi dikenal sebagai diam-diam menghanyutkan, memang tidak ada hukuman tapi nilai taruhannya. Tidak ada file, tidak ada nilai.

Gadis itu terus berlari mengejar bus itu. Sayang seribu sayang, bus itu pergi melaju dengan cepat.

Habislah sudah, dipastikan harus menaiki taksi.

"Pak, taksi pak!!" Gadis itu menaikkan tangannya pertanda ia perlu taksi. Untungnya, taksi tersebut melesat dengan cepat ke tempat gadis itu.

"Sekolah Menengah Atas Triguna pak! Cepat pak, saya telat ini!!!" Gadis itu terus memburu sopir taksi agar melaju lebih cepat.

"Aduh neng, gabisa ini neng cepat cepat! Ketabrak orang nanti neng" Peringat sopir tadi.

"ADUH GIMANA DONG PAK" Gadis itu gusar. Harap cemas semoga Bu Dwi belum menginjakkan kakinya ke kelas si gadis.

"Sabar atuh neng" kata sopir tersebut menenangkan.

Sekitar 10 menit akhirnya taksi tersebut sampai disekolah si gadis.

Buru-buru si gadis mengeluarkan uang untuk membayar sopir taksi tersebut.

"NENG INI DUITNYA KELEBIHAN NENG!" panggil sopir tadi.

"BUAT BAPAK AJA SAYA UDAH TELAT!"
Gadis tadi menghiraukan panggilan sopir tersebut.

"Alhamdulillah, dapet rejeki asik" buru-buru si sopir memasukkan uang tadi ke sakunya dan melajukan mobil untuk meninggalkan tempat tersebut.

Gadis tadi? Oho, dia terus berlari naik ke kelasnya.

"Hah hah hah" Gadis itu menghirup oksigen dengan rakus.

"Yaampun Gi, Slow aja kali. Buk Dwi belum sam- panjang umur baru aja disebut udah deket bae orangnya" Gadis sepantaran "Gi" tadi mengoceh.

"Gigi, file kau gimana?" Tanya gadis lainnya.

Gigi mengangkat tangannya membentuk tanda "Ok"

Pertanda file aman ditangan.

"Gianira, kenapa kamu ngos-ngosan begitu?"

Panjang umur buat Bu Dwi, baru aja dibahas sudah nongol aja.

"Hehe buk, presentasi hari ini jadikan buk?" Tanya Gianira nyengir.

"Loh? Jadi dong. Kamu udah siap belum?" Tanya bu Dwi ramah sembari menuntun Gianira untuk masuk ke kelas.

'Syukur syukur jadi kalo kagak? Nangis ajala aku' Gianira membatin.

"Oiya anak-anak kita kedatangan murid baru loh! Tepuk tangan kalian semua! Kelas kita kedatangan murid baru!" Ucap Bu Dwi absurd.

Anak kelas hanya menuruti saja, suara riuh memenuhi ruangan.

"Udah heh, lebay betul kalian ini!" Buk Dwi melambaikan tangannya pertanda sudahi ke-absurd-an kelas.

"Lah? Tadi disuruh tepuk tangan buk?" Anak laki-laki didepan berujar.

"Berani jawab kamu lio?"

"Ehehe enggak buk, saya bercanda. Pis buk pis" Lio membentuk dua jari pertanda damai.

"Oiya! Masuk sini nak" Panggil Buk Dwi.

"Tap" Anak itu memasuki ruangan kelas 10-1

"Nah, kenalin dong nama kamu siapa, kamu pindahan darimana" Buk Dwi mencoba ramah.

Anak itu menatap datar Bu Dwi. Kemudian tersenyum kecil.

"Perkenalkan, nama saya Adya. Salam kenal. Saya pindahan dari Kota Ganendra" Kedua mata bertemu untuk pertama kalinya.

Dan, dunia pun berhenti sejenak dan mempertemukan kedua insan yang nasibnya entah bagaimana...

---------------

Kritik dan saran terbuka di kolom komentar 🤩
Terimakasih yang sudah membaca dan memvote cerita ini!!!

Greetings new story with love 💗
-Galaxy

City of stars Stories to obsess over. Discover now