Pemuda bersurai hitam tengah berdiri di balkon kamarnya dengan ditemani oleh satu bulan purnama dan ribuan bintang di atas langit, memejamkan matanya sejenak di saat angin melaju menerpa wajah tampannya dengan pahatan yang sempurna.
"Lo bahagia di sana? Lo udah ketemu ibu dan ayah? Kalo udah tolong sampaikan maaf gw kepada mereka ya? Gw belum bisa mintaa maaf secara langsung"
"Maafin untuk semua kesalahan gw"
"Gw sendirian sekarang, tanpa ayah, ibu, dan juga lo"
Malam ini angin terasa kencang, membuat pemuda bersurai hitam itu merasa hawa dingin menusuk kulitnya yang hanya memakai kaos lengan pendek.
"Hawanya persis kayak malam itu, saat itu gw kasih lo jaket biar gak kedinginan, saat itu gw duduk bareng lo sambil nyusun lego tapi sekarang hanya gw sendiri"
"Gw udah gak sanggup kalo harus kena karma kayak gini, gw pengen ikut lo, gw bener bener merasa hampa" air matanya meluncur membasahi pipinya yang terlihat tirus.
"Gw ikut lo ya, tungguin gw" setelah mengatakannya, pemuda bersurai hitam itu langsung melompat dari balkon lantai 2.
Suara dentuman terdengar keras di sunyinya malam ini, pemuda itu meneteskan air matanya saat kepalanya yang lebih dulu menghantam paving, darah keluar begitu banyak dan menggenang di sekitar kepalannya, sebelum matanya terpejam ia melihat siluet seseorang yang mendekat ke arahnya.
"JOVAN!"
YOU ARE READING
Unhappy
Short StoryDia bukan pembunuh! sekali lagi dia bukan pembunuh! Dia hanya ingin dirinya dan saudara kembarnya kembali harmonis seperti semula tanpa ada rasa kebencian
