00 ' Prolog

15 4 2
                                        

Warning! This is the first story I made, the plot is still messy and unclear

Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.

Warning!
This is the first story I made, the plot is still messy and unclear. Happy reading and hope you like it! Enjoy:'!


***


Suara langkah kaki yang berlari dilantai marmer tersebut terdengar sangat nyaring, terlihat seorang remaja perempuan dengan seragam sekolah putih birunya berlari menuruni tangga dengan tergesa-gesa, membuat tiga orang pemuda laki-laki di ruang tamu yang mendengarnya menghela nafas lelah.

Kondisi seperti ini hampir mereka alami setiap hari, mereka akan mendengar kehebohan dari remaja perempuan itu setiap dirinya terlambat bangun untuk bersekolah. Padahal alarm di kamarnya sudah di atur untuk berbunyi di jam lima pagi, tapi sepertinya itu sangat tidak berguna. Karena remaja tersebut selalu bangun di jam tujuh pagi atau setengah delapan pagi.

Dan ketika dia bangun, dia akan membuat kehebohan yang sangat menjengkelkan. Berteriak dan berlari kesana kemari membuat kepala pusing hanya dengan melihatnya. Sama seperti yang dilakukannya sekarang, setelah berteriak nyaring menanyakan letak dasi sekolahnya kepada ketiga laki-laki yang tengah bersantai diruang tamu, sekarang remaja tersebut berlari terburu-buru menuruni anak tangga menuju keluar rumah mengabaikan ketiga laki-laki diruang tamu yang menatap malas dirinya.

"OY!"

Tiba-tiba salah satu dari mereka beteriak, membuat ia dengan spontan menghentikan larinya dan membuat dirinya hampir terjembap kedepan.

Dengan perasaan dongkol dia membalikan badanya cepat dan menatap kesal laki-laki itu.

"Apaansih!? Jangan buang waktu, gue udah telat kesekolah!" Teriaknya sambil menatap laki-laki itu jengkel.

Sedangkan laki-laki itu mengerutkan dahi bingung. "Sekolah? Sekolah mana yang buka hari minggu?" Ujar laki-laki yang tadi meneriakkinya.

"Aneh banget emang itu anak, hari minggu kok kesekolah," sahut pria di sampingnya.

"Mungkin dia mau balik sekolah hari Minggu di Gereja," sambungnya lagi.

Sedangkan remaja perempuan tersebut terbengong mendengar ucapan mereka berdua, sebelum kemudian tersadar dan berteriak nyaring.

"ABANG SIALAN! KENAPA GAK BILANG DARI TADI KALO INI HARI MINGGU SIH!"

"GUE UDAH CAPE CAPE LARI SANA SINI PANIK GAJELAS CARI DASI SAMA KAOS KAKI DI DEPAN MATA KALIAN! TAPI KENAPA KALIAN DIEM AJA BRENG*EK!"

"KALIAN PASTI SENGAJA KAN MAU RESEIN GUE LAGI!"

Teriak remaja itu penuh kesal, sedangkan yang di teriakki dengan senang hati meladeni.

"LAH!? SALAH LO SENDIRI GAK INGAT HARI! KOK NYALAHIN?"

"KENAPA LO JADI IKUT-IKUTAN TERIAK SIH ANJIR!?"

"MULUT-MULUT GUE! SUSU GUE DONG!"

"LO GADA SUSU YA NJING! JANGAN NGADI-NGADI LO JADI MANUSIA"

"PIKIRAN LO KOTOR BANGET EY! INGAT LO ITU CEWEK!"

"GUE INGET KALO GUE ITU CEWEK DAN PUNYA SUSU! GAK KAYAK LO COWOK YANG LUPA DIRI SUKA NGAKU-NGAKU ADA SUSUNYA!"

"HALAH DADA TEPOS GITU AJA LO BANGGAIN!"

Remaja tersebut membulatkan matanya mendengar teriakan pemuda laki-laki itu, sungguh! Dirinya sangat kesal sekarang!

"NGACA WOI! DADA LO LEBIH TEPOS DARI PUNYA GUE!"

"AN-"

"BERISIK"

Belum sempat laki-laki itu berteriak, laki-laki yang sedari awal diam memperhatikan mereka membuka suara dan menatap keduanya tajam. Membuat keduany terdiam dan saling membuang pandangan kearah lain, tidak berani menatap laki-laki tersebut. Sedangkan laki-laki satunya berusaha menahan tawanya melihat keduanya yang langsung ciut.

Ia menghela nafas lelah, matanya menatap remaja perempuan yang berada di ambang pintu dengan datar.

"Aline, masuk kamar. Jangan keluar kamar sebelum jam makan siang tiba."

Remaja perempuan yang dipanggil Aline itu sontak menatap tidak terima mendengar ucapan laki-laki tersebut. Dengan kaki yang di hentakkan kesal, Aline berjalan menaiki tangga dan berlalu menuju kamarnya dengan perasaan dongkol, ingin memprotes tapi dirinya takut. Laki-laki itu jika sudah buka suara, omongannya tidak dapat dibantah.

Laki-laki itu menghela nafas dan menggelengkan kepala melihat kelakuan Aline, tatapannya beralih kepada pemuda didepannya yang masih memalingkan wajah.

"Dan kamu, Alison. Motor kamu abang sita seminggu. Jangan protes, ini hukuman untuk kalian berdua karena telah berkata kasar dan kotor." Setelah mengatakan hal itu, laki-laki tersebut beranjak pergi menaiki tangga menuju lantai atas.

Sama halnya dengan Aline, laki-laki bernama Alison itu juga menatap tidak terima laki-laki yang menjadi abangnya itu, dirinya menatap penuh permusuhan pada punggung yang sedang menaiki tangga itu. Sedangkan laki-laki disampingnya meledakkan tawanya mendengar nasib saudaranya yang memprihatinkan itu.

"Haha anjir mampus lo, aduh sialan perut gue sakit ngetawain komuk lo dari tadi."

Alison menatap sinis laki-laki disampinnya."Berisik!"

"PFFT HAHAHAHA ADUH NGAKAK BANGET LIAT LO GINI AL!"

Alison menatap masam laki-laki disampingnya yang semakin menertawakan dirinya, ia mendengus kemudian beranjak pergi meninggalkan laki-laki prik tersebut.

"Ini semua gara-gara itu bocil ngeselin!" gumamnya penuh rasa kesal.



















To Be Continued

Hi!
Thanks for reading, hope you like this first step.This is the first prologue and the first amateur story I made, don't forget to leave a like and comment if you have a good impression on this story. See you in the next first chapter.

Published 2021, January 27.

[A] ALINEVILLE : ENDLESS LONELINESS Stories to obsess over. Discover now