Hubungan mereka dipenuhi luka. Ada hal-hal yang tidak pernah benar-benar hilang, terkubur di antara amarah, dan kebohongan kecil.
Dalam ruang sidang yang dingin, cinta berubah menjadi tuduhan.
Dalam sistem, kejujuran tidak selalu berarti kebenaran...
Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.
"Jika dia kesini lagi, hubungi aku atau temui aku di galeri seni."
Kaki jenjang dengan langkah lebar memangkas jarak antara dirinya dan sang perempuan tanpa ragu.
Jemari kekar pria itu mengambil rokok yang terselip di jari lentik yang baru saja ia balut dengan perban. Sepihak, tanpa izin. Dalam hitungan detik, rokok yang semula berada di jemari lentik kekasihnya, kini beralih-terjepit di antara dua bibir basahnya sendiri.
"Tidak ada rokok, kau harus istirahat Alley," ucapnya tegas.
Perempuan muda di hadapannya tertawa kecil. Suara itu ringan, nyaris rapuh. Kantuk menarik kedua kelopak matanya, memaksanya bertahan di ambang sadar. Ia menopang dagunya dengan tangan, seolah itu cukup untuk menahan dunia agar tidak runtuh malam ini.
Ia berbisik di dalam hati, semoga mereka berdua selalu baik-baik saja.
Alley Lee
Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.
Papan catur di atas meja kayu oak itu hampir kosong, hanya menyisakan beberapa bidak yang tersisa di penghujung pertempuran panjang. Kedua pemain masing-masing menyudutkan King lawan mereka yang bertahan di sudut papan.
Di antara asap rokok yang tipis, deru napas dua pemain terdengar tenang, terlalu tenang untuk sebuah permainan yang hampir berakhir.
Jeffran menyunggingkan senyum miring. Kemenangan terasa dekat, nyaris bisa disentuh. Ia menggeser bishop putih dari petak c5 ke d4, memberi skak pada king hitam yang terkurung di pojok h8-berharap langkah selanjutnya ke petak g8 yang sudah di jaga knight miliknya.
Tetapi Alley justru tertawa pelan, "Kau tidak bisa berpikir begitu, sayang," ucapnya sambil menunjuk papan. "Pawn-ku tinggal satu langkah menuju d1. Dan knight hitamku di a4 yang mengawasi petak b2."
Jemarinya mengetuk bidak kecil itu, seolah menandai hitungan waktu. "Jika bishop-mu melangkah di d4, itu skak," lanjut Alley santai. "King hitam di h8 ke h7. Kau kehabisan langkah."
Jeffran terdiam. Senyumnya perlahan menghilang.
"Pawn-ku akan promosi di petak d1." Alley berucap pelan dengan suaranya yang agak serak, "Queen hitam. Skak ke king putihmu di a1."
Perempuan itu menunjuk king putih dipetak a1 dan pawn putih di petak a2. "Kau hanya punya satu langkah ilegal, king ke b2. Nxb2#."
Dengan dramatis, Alley menjatuhkan king putih di atas papan. "Skakmat."
Ruangan sunyi itu kini menangkap hembusan napas kasar Jeffran. Ia selalu kalah dari Alley.
"Jeff, terkadang kita terlalu sibuk dengan hal besar. Dari detail kecil, suatu hal besar terjadi, itu bisa menjadi serangan yang blunder atau pertahanan yang briliant."
"Aku selalu kalah perhitungan, kau mengambil semuanya."
Perempuan muda dengan rambut bergelombang bak gulungan ombak tipis, meraih wajah Jeffran––mengecup bibir tipis itu dengan sisa-sisa alkohol dan aroma rokok yang menempel di bibirnya. "Kau bilang akan memberikan segalanya untukku."
Lee Theo
Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.
"Ada sebuah harga untuk keadilan."
Theo memutar pena di jemari kanannya sembari menatap case board yang menempel di dinding, dipenuhi foto, catatan, dan garis penghubung yang ditarik paksa. Wajah Jung Jeffran berada di tengah sebagai keputusan yang dibuat lebih dulu.
"Tapi harga diriku terlalu berharga untuk sebuah aturan kotor."