Suasana mading sekolah mendadak ramai karena ada adik kelas yang sedang menyatakan perasannya kepada kakak kelas. Kakak kelas yang dimaksud ialah Algerion. Suara sorakan dan ucapan dukungan semakin keras agar pernyataan cinta tersebut diterima oleh Algerion. Teman-teman Algerion yang berdiri dibelakangnya juga ikut heboh. Algerion sendiri masih memasang tampang datar menatap bunga yang diberikan adik kelas itu.
"Terima!"
"Terima!!"
"Terima!!!"
"Jadi Kak Alge gimana? Tanganku udah pegel nih," ucap adik kelas tersebut.
Salah satu temannya yang dibelakang membisikkan, "Udah deh Ge terima aja. Dilihat-lihat juga lumayan tuh. Cantik, bodynya juga dapat." Alge masih posisi menatap bunga itu. Lalu tangannya mengambil bunga tersebut. Seketika suasana semakin ricuh. Bahkan adik kelas tersebut hampir menangis. Namun tidak lama bunga tersebut diberikan pada Galang. Laki-laki yang barusan membisikinya.
Galang pun ikut terkejut, suasana kembali hening. Dengan gerak perlahan Galang mengambil Bunga itu, "Buat gue Ge?" Algerion hanya mengangguk lalu pergi meninggalkan kerumunan. Tanpa mengeluarkan satu ucap kata.
"Lah kok Kak Alge nya pergi? Hiks kok malah Kak Galang yang nerima aaaaa?"
Merasa tidak enak Galang mengembalikan bunga itu lagi, "Eh eh nih gue balikin aja. Maafin teman gue ya. Masih banyak cowok yang mau sama kamu. Ga usah ngejar-ngejar Algerion lagi. Contohnya gue, gue mau kok?" Tawaran tersebut disambut oleh tatapan marah dari adik kelas. "Ga mau! Maunya Kak Ge!!!!"
Hal itu mengundang tawa teman-temannya. Rega yang disampingnya menepuk bahunya tersebut sambil berucap, "Sabar." setelah itu teman-temannya menyusul Algerion meninggalkan Galang di kerumunan yang hampir bubar.
"Maksud lu apa Ga?!" teriak Galang.
~~~0*0~~~
Algerion sudah tidak kaget lagi dengan kejadian seperti tadi. Ungkapan perasaan itu dirinya tolak semua. Kenapa? Karena malas. Dia sendiri tidak tau apa yang membuat para siswi hingga guru suka padanya. Sekarang Algerion berada di taman sekolah. Bermain basket sendirian. Bisa dibilang sekolahnya juga sangat luas. Lapangan basket yang ia gunakan sekarang di bagian outdoor. Sepuluh menit bermain dirinya istirahat sambil meminum susu bear land. Baru dua tegukan ada seseorang mencari gara-gara lagi.
"Woii!!!!"
Algerion mendongak menatap orang yang baru saja memanggilnya. Setelah dilihat ternyata orang seangkatannya hanya saja beda kelas. Malas meladeni dirinya mengambil tas lalu disampirkan. Kemudian pergi begitu saja. Merasa diacuhkan siswa tadi semakin emosi. Ditariknya Algerion hampir terjatuh. Hanya saja susu bear land sedikit tumpah.
"Gue ngomong sama lo. Jangan main pergi aja!" Siswa tersebut merasa muak karena Algerion tidak berucap sedikit pun. Algerion malah sibuk menghabiskan susu bear landnya. Dengan tidak sopan seseorang menepis kaleng susunya hingga isinya tumpah semua. Ditatapnya lagi orang didepannya itu. Membawa teman ternyata, Algerion pikir hanya sendirian. Tangannya dimasukkan saku celana dan sebelahnya ia gunakan membawa tas. Damagenya bukan main pemirsah.
"Temen gue ngomong!! Lo jangan mentang-mentang jadi ketua Xiandres malah belagu. Kek sampah tau ga!" ujar siswa yang menepis kalengnya tadi.
"Hahahah lo kayak ga tau aja kalau ni orang bisu. Lo pikir dengan begitu keren? Malah kek orang caper."
Mukanya tiba-tiba ditunjuk tidak sopan, "Gara-gara lo, semua cewek di sekolah ini ga ada yang mau sama gue. Alasannya karena mereka sukanya Alge. Lo, cowok sok keren ditambah bisu!!"
Mendengar hal itu Algerion tetap diam. Karena siswa tersebut sudah emosi ditambah dirinya diabaikan. Dia menantang Algerion. Tangannya hendak memukul wajah Algerion namun seseorang mengganggunya.
YOU ARE READING
EVANSA (HIATUS)
RomanceAlgerion Liam Evansa, laki-laki dengan berbagai pesona. Tubuhnya tinggi, putih, bersih, atletis dan berwajah tampan. Orang lain menyebutnya dirinya puasa setiap hari. Musuhnya sendiri mengatai dirinya bisu. Saking iritnya berbicara. Namun, tidak ber...
