ASMARALUKA adalah gabungan dari kata Asmara dan Luka. Asli katanya adalah Asmaraloka, yang artinya dunia cinta kasih. Lantas, AsmaraLuka jadi antonim dari Asmaraloka itu sendiri di lembar-lembar kisah ini.
╞═════𖠁❀✿𖠁═════╡
Rintik hujan menemani penantian seorang gadis yang berada dalam sebuah kamar mandi. Berharap dan berdoa yang keluar bukanlah yang ditakuti. Namun ... dua garis merah begitu pekat terpatri, pada benda kecil yang tampak tak berarti namun sangat-sangat penting. Sontak, jantung gadis 25 tahun bernama Sastia Rashaliani itu berdetak nyeri. Irisnya gelisah sekali.
"Ayo, Sas ... boleh, ya? Katanya kamu sayang sama aku?"
Sastia menggigit bibir bawahnya. Dadanya sesak tiba-tiba. Teringat akan sebuah suara. Ajakan yang sungguh manis dan menggiurkan.
"Aku takut ... kalau Ayah sama Ibu aku tau gimana? Kamu kan tau Ayah aku galak banget ...."
"Mereka kan gak ada di sini, mereka gak tau. Ayolah, hm?"
Otaknya mulai berputar. Suara itu terngiang-ngiang. Tangannya mulai gemetar, kakinya melemas bagai tak bertulang. Sastia yang malang pun terduduk lemah di atas WC duduk jelek yang tidak dibuka.
"Jangan, Raka ... aku gak mau ...."
"Kalau udah tau rasanya, kamu pasti suka, Sas."
Kepalanya ia geleng-gelengkan, berusaha menepis apa yang menerpa pikiran. Namun, suara dan perbuatan pria itu tak dapat dilepas dari akal. Sastia mulai terisak, memeluk tubuhnya yang terbalut baby-doll biru muda.
Lalu, bagaimana sekarang? Sastia sudah positif berbadan dua, berkat kebejatan Raka yang kerap memaksanya berhubungan di luar nikah. Apa yang harus Sastia lakukan? Ia tidak berani menghadap orangtua. Tidak berani berkata yang sebenarnya. Tapi jika harus disembunyikan, sampai kapan itu bisa ia lakukan?
"Tiaaa. Kok lama banget di dalem? Ngapain? Sembelit? Ibu mau masuk, kebelet pipis, nih!" seru Rini, ibu dari Sastia dari luar kamar mandi.
Seketika, jantung Sastia semakin sakit. Keringat dingin mulai membasahi tubuhnya yang langsing. "Iya, Bu, sebentar!" balasnya berusaha tidak bergetar.
Lantas, dengan kaki lemas yang sedikit gemetar, Sastia mulai melangkah. Membuka pintu kamar mandi, lalu keluar darinya. Matanya pun bertemu dengan mata Rini, sang bunda. Tak terlalu lama, sebab Rini sudah terlalu kebelet untuk banyak bersitatap yang dirasa tiada berguna.
"Awas, Tia. Udah gak tahan Ibu!" Rini sedikit menarik tangan Sastia supaya keluar sempurna dari kamar mandi.
Pintu kamar mandi pun ditutup oleh Rini, tanpa melihat wajah Sastia yang sudah pucat karena menahan perasaan yang terombang-ambing.
Lantas, dengan wajah yang berusaha dinormal-normalkan, Sastia berjalan menuju kamar sambil menyembunyikan testpack bergaris duanya. Melewati ayah dan kakak lelakinya yang tengah disibukkan oleh acara sepak bola. Hingga sampai di kamar paling pojok, ia memasuki dan menguncinya.
Manik Sastia mengedar, mencari di mana ponselnya berada. Setelah mendapatkan, ia langsung mengambilnya. Dengan gerakan cepat, jemarinya mencari satu nama. Satu-satunya nama dari orang yang harus bertanggung jawab.
"Halo, Sas."
"H-halo."
"Kenapa nelfon?"
"Raka ... la-lagi sibuk, gak?" Suara Sastia terbata-bata. Takut sekali untuk mengatakannya.
"Enggak. Kenapa?"
YOU ARE READING
ASMARA LUKA ✔️
Romance"Kamu gak perlu berpikir terlalu jauh. Ini bukan wanita kedua, ketiga, keempat, atau selebihnya. Ini tentang sebuah janji yang kalau itu ditepati, baru aku bisa mempercayai. Mempercayai cinta yang sangat kamu percayai itu." Hamil di luar nikah adala...
