#Obsession: Between Love, Hate, and Revenge
#Bukan Cerita Transmigrasi
#Terinspirasi dari Cry, Or Better Yet, Beg
Claudine Sullivan selalu tahu hidupnya bukan miliknya sendiri. Sebagai pewaris keluarga Sullivan, ia hidup sesuai aturan: sempurna, ta...
Oups ! Cette image n'est pas conforme à nos directives de contenu. Afin de continuer la publication, veuillez la retirer ou mettre en ligne une autre image.
- Prolog -
Pagi itu, sinar matahari musim gugur menyelinap lewat jendela besar ruang makan keluarga Sullivan, menyoroti meja kayu mahoni yang berkilau tanpa cacat. Porselen putih berhias emas tertata rapi, aroma teh Earl Grey bercampur wangi mawar putih di tengah meja.
Segalanya terlihat sempurna. Setidaknya begitulah yang terlihat.
Di ujung meja, Rudolf Sullivan duduk tegak. Pria berusia lima puluh tahun itu mengenakan jas santai berwarna abu-abu, rambut pirang yang mulai memutih disisir rapi ke belakang. Matanya tajam seperti elang, seolah selalu mencari celah pada siapa saja yang berhadapan dengannya. Di sebelahnya duduk sang istri, Mariane Petrova yang tampak anggun dengan gaun tidur sutra biru tua. Senyum tipisnya tak mampu menyembunyikan ketegangan yang selalu menguasai ruangan.
Thomas, anak tertua, duduk lurus di sisi kiri ayahnya—mewarisi rahang tegas dan sorot mata dingin khas keluarga Sullivan. Claude di sampingnya tampak bosan, memainkan sendok perak sesekali melirik malas ke arah gadis yang duduk di hadapannya.
Layla duduk di sebelah Claudine. Gadis tujuh belas tahun itu terlihat seperti lukisan hidup dengan rambut pirang keemasan dikepang rapi, mata hijau pucatnya tampak polos. Dia adalah satu-satunya anak perempuan Sullivan yang diperlakukan bak putri.
Sedangkan Claudine? Jangan heran, dia hanyalah bayangan di tengah kemegahan ini. Tak ada yang mempedulikannya. Bahkan secangkir teh di hadapannya sudah dingin tanpa tersentuh sedikit pun.
Rambut hitam legamnya jatuh bebas, kontras dengan kulitnya yang semakin pucat dan dingin. Gaun tidurnya sederhana, jauh dari segala kemewahan yang selalu dipakai Layla.
Ketenangan itu pecah saat seorang pelayan tergesa masuk, menyerahkan tumpukan koran kepada Rudolf. Tanpa ucapan terima kasih, dia membuka halaman pertama—dan seketika suasana ruangan berubah drastis.
"Pertunangan Claudine Sullivan dan Duke Elyas Salvadore Tercoreng Skandal Perselingkuhan!"
"Siapa Wanita Rendahan di Balik Hubungan Gelap Duke Elyas?"
Di halaman berikutnya, foto Elyas tertawa bersama seorang pelayan bernama Amelia Wigan terlihat jelas. Bahkan ada gambar yang menangkap momen mereka berciuman di balkon pesta amal minggu lalu.
Suara koran dibanting menggema keras. Layla tersentak kaget, gelas tehnya hampir terjatuh.
"BERITA MACAM APA INI!?" Suara Rudolf menggelegar memenuhi ruangan.
Mariane menutup mulutnya dengan tangan, wajahnya pucat. Thomas tetap tenang menyeruput kopi, seolah tak mendengar apa-apa. Sementara Claude hanya menghela napas pelan, bosan dengan drama yang baru saja dimulai.
Rudolf melempar koran ke atas meja, amarahnya meledak tak terbendung. "Kau sudah tahu ini akan terjadi kan, Claudine!?" tunjuknya pada foto pasangan yang tersenyum mesra itu.
"Ini yang kau bilang aman terkendali? Ini aib! Kau mempermalukan nama keluarga ini di hadapan seluruh negeri!"
Claudine diam saja. Tatapannya kosong menembus lembaran koran yang bergetar karena genggaman eratnya.
"Jawab aku!" Rudolf membentak lagi. "Kau bahkan tak mampu menjaga kehormatanmu sendiri! Atau memang ini maumu? Menjadi bahan tertawaan para bangsawan!? Menginjak martabat yang dibangun Sullivan dengan darah selama ribuan tahun!?"
"Ayah, mungkin sebaiknya kita—" Layla mencoba menengahi dengan suara tenang. "DIAM!" Rudolf menoleh tajam padanya. "Ini bukan urusanmu!"
Dia kembali menatap Claudine, suaranya kini sedingin es. "Perempuan Sullivan tak boleh terlihat lemah. Cinta pun bukan alasan untuk jatuh."
Lalu dengan satu gerakan cepat, tangan Rudolf melayang.
Plaak!
Satu tamparan telak mendarat di pipi kanan Claudine.
Ruangan seketika hening. Layla terlonjak kaget. Mariane berpaling pura-pura mengamati pemandangan di luar jendela. Thomas meletakkan cangkir tehnya pelan. "Ayah, itu sudah berlebihan."
"Berlebihan!? Ini belum ada apa-apanya!" Rudolf menunjuk Claudine dengan gemetar karena marah. "Dia sudah menyeret kehormatan keluarga ke dalam lumpur!"
"Dengar baik-baik. Mulai sekarang, kau tak akan mendapat makanan. Tak ada hak atas apa pun di rumah ini, sampai kau melunasi semua rasa malu hari ini." Dengan langkah lebar, dia meninggalkan ruangan.
Claudine menoleh perlahan. Darah menetes dari sudut bibirnya, tapi tak setetes air mata pun keluar. Hanya satu kata terucap pelan, datar tanpa emosi. "Baik."
Seolah tamparan itu sama sekali tak menyakitkan dibandingkan kenyataan yang sudah lebih dulu menghancurkan hatinya.
Layla menyuap pancake ke mulutnya, lalu melirik Claudine dengan nada penuh rasa iba yang palsu. "Sayang sekali... padahal pernikahanmu seharusnya menjadi sejarah baru..." gumamnya pelan.
Claude menyentuh tangan Claudine pelan. "Kau baik-baik saja?"
Claudine tersenyum tipis, senyum yang terasa getir. "Sejak kapan aku tidak baik-baik saja?"
Satu per satu orang bangkit mengikuti kepergian ayah mereka. Pelayan mulai membersihkan piring yang tak tersentuh. Aroma sarapan pagi itu kini hanya tinggal kenangan yang basi.
Claudine mengambil koran yang jatuh ke lantai, menatap foto itu lagi. Elyas... pria yang pernah berjanji akan menjaganya, kini mencabik-cabik harga dirinya di depan semua orang.
Perlahan senyumnya melebar. Dingin. Tajam.
Jika mereka mengira dia akan merunduk diam dalam kehinaan... Mereka sama sekali belum mengenalnya.
"Jika aku harus jatuh..." bisiknya pelan, sementara jari-jemarinya merobek halaman koran itu perlahan. "Aku pastikan aku tak akan jatuh sendirian."