Awal yang membingungkan

63 5 4
                                        

Pada tahun 2019 saat aku kelas satu SMP aku mulai tertarik dan menyukai seseorang. Dia itu cantik, setiap dia tersenyum aku menyebutnya cantik, setiap dia tertawa aku menyebutnya cantik, dan setiap yang ada pada dirinya aku menyebutnya cantik. Indah ketika melihatnya tersenyum, indah ketika melihatnya tertawa, dan indah ketika pipinya mengembang tiada tara. Ingin rasanya aku mencubitnya, dan kupajang sebagai koleksi berharga. Dia itu pandai dan rajin dari wajahnya saja sudah terlihat mungkin karena kacamatanya.

Ada suatu letupan kesenangan yang hanya aku rasakan sendirian. Aku melihat dia berjalan, meskipun bukan berjalan untuk berhadapan denganku. Senyumannya yang manis menambah semangatku untuk pergi ke sekolah. Aku rasa perasaan itu muncul layaknya cinta monyet pada anak-anak biasanya. Namun seiring berjalannya waktu, rasa itu terus mengalir dengan berbagai macam hal yang cukup menyakitkan di hati.

Selama kurang lebih dua tahun aku menjaga perasaan itu, hingga kini aku sudah kelas 3 SMP. Namun aku masih belum siap untuk berbicara langsung dengannya. Karena aku pemalu dan tidak percaya diri saat berbicara langsung dengan perempuan, terlebih wajahku yang tidak dikategorikan sebagai wajah yang tampan menambah daftar alasanku untuk tidak menunjukkan diri di hadapannya. Aku memberanikan diri untuk sesekali menghubungi dia lewat media sosial agar aku bisa mengerti keadaannya. Saat pesan ku di balas olehnya hati ku merasa sangat senang tetapi setelah itu aku tidak tau cara melanjutkan pembicaraan, aku tidak pandai mencari topik pembicaraan, aku tidak pandai merangkai kata-kata, hingga akhirnya dia offline.

Hari demi hari pun telah berlalu, sebentar lagi penilaian akhir tahun atau PAT akan dimulai, Berulang kali aku mencoba dengan keras untuk melupakannya sementara dan fokus untuk belajar. Namun ternyata semakin keras aku berusaha untuk melupakannya yang timbul adalah bayangan dia yang makin muncul di pikiran. Untungnya materi-materi yang aku pelajari untuk penilaian akhir tahun tidak menghilang dari ingatanku. Penilaian akhir tahun pun dimulai, penilaian akhir tahun berlangsung selama enam hari. Saat pulang, sembari menunggu teman-temanku keluar kelas Aku berusaha mencari dia di sekolah, bukan untuk berbicara langsung dengannya, tetapi untuk melihat dia dari kejauhan, melihat dia bercanda dengan teman-temannya, melihat dia tersenyum yang menjadi semangatku untuk pergi ke sekolah keesokan harinya, hal itu aku lakukan sampai hari ke enam PAT.

Pada suatu hari aku memberanikan diri untuk mengungkapkan perasaanku ke dia lewat media sosial, namun jawabannya yang seakan menolak membuatku merasa sedih. Namun setelah itu dia menambahkan kata "ingin fokus ke pendidikan" membuatku berpikir masih ada kesempatan. Kemudian hatiku seakan berbisik dan seperti menyuruh tanganku untuk mengetik. Kemudian aku menuruti apa kata hatiku, dan dengan Yakin aku mengetik pesan "aku akan menunggumu"

"menunggu memang menyakitkan tapi akan kulakukan, tidak peduli seberapa lama aku menunggumu, sebelum kau benar-benar menyuruhku untuk pergi akan kubuktikan bahwa setia itu benar adanya."

Hatiku Yang Sedang MenunggumuStories to obsess over. Discover now