Prolog : Bukanlah Tanda Kedamaian

36 4 4
                                        

Ada kalanya keheningan bukanlah tanda kedamaian, melainkan cara semesta membungkam teriakan yang tidak sempat terucap. Di balik tembok rumah yang tampak biasa ini, aku mulai menyadari bahwa sunyi adalah predator yang paling sabar. Ia merayap melalui retakan dinding, menyusup di antara aroma roti yang harusnya menenangkan dan menetap di sudut-sudut ruangan yang kini terasa asing.




Aku mengira bahwa keterasingan adalah pelindung terbaikku. Namun, bagaimana jika mereka yang tampak paling peduli, tetangga yang hadir tepat saat aku terjatuh, senyum yang disematkan bersama bingkisan yang meragukan justru adalah arsitek dari setiap kegilaan yang menimpaku? Setiap paku yang menancap di ban motorku, setiap noda merah pada surat yang tidak bertuan dan bisikan maut yang menguar dari ketiadaan, semuanya membentuk sebuah pola. Sebuah jaring yang perlahan mengencang di leherku.




Aku tidak lagi tahu mana yang nyata dan mana yang hanyalah proyeksi dari ketakutanku sendiri. Rumah ini, yang dulu menjadi tempatku merajut asa, kini bertransformasi menjadi saksi bisu atas permainan psikologis yang mencekam. Di balik pintu yang terkunci rapat, aku bukan lagi pemilik rumah. Aku adalah tawanan dari rahasia yang tidak seharusnya kutahu. Dan di luar sana, kebenaran menunggu untuk melahap sisa kewarasanku.

[2] Bisikan Maut | Jeon WonwooStories to obsess over. Discover now