Ada kalanya keheningan bukanlah tanda kedamaian, melainkan cara semesta membungkam teriakan yang tidak sempat terucap. Di balik tembok rumah yang tampak biasa ini, aku mulai menyadari bahwa sunyi adalah predator yang paling sabar. Ia merayap melalui retakan dinding, menyusup di antara aroma roti yang harusnya menenangkan dan menetap di sudut-sudut ruangan yang kini terasa asing.
Aku mengira bahwa keterasingan adalah pelindung terbaikku. Namun, bagaimana jika mereka yang tampak paling peduli, tetangga yang hadir tepat saat aku terjatuh, senyum yang disematkan bersama bingkisan yang meragukan justru adalah arsitek dari setiap kegilaan yang menimpaku? Setiap paku yang menancap di ban motorku, setiap noda merah pada surat yang tidak bertuan dan bisikan maut yang menguar dari ketiadaan, semuanya membentuk sebuah pola. Sebuah jaring yang perlahan mengencang di leherku.
Aku tidak lagi tahu mana yang nyata dan mana yang hanyalah proyeksi dari ketakutanku sendiri. Rumah ini, yang dulu menjadi tempatku merajut asa, kini bertransformasi menjadi saksi bisu atas permainan psikologis yang mencekam. Di balik pintu yang terkunci rapat, aku bukan lagi pemilik rumah. Aku adalah tawanan dari rahasia yang tidak seharusnya kutahu. Dan di luar sana, kebenaran menunggu untuk melahap sisa kewarasanku.
YOU ARE READING
[2] Bisikan Maut | Jeon Wonwoo
Fanfiction𝑆𝑒𝑡𝑖𝑎𝑝 𝑙𝑎𝑛𝑔𝑘𝑎ℎ 𝑘𝑎𝑘𝑖 𝑑𝑎𝑛 𝑏𝑖𝑛𝑔𝑘𝑖𝑠𝑎𝑛 𝑦𝑎𝑛𝑔 𝑑𝑎𝑡𝑎𝑛𝑔 𝑏𝑢𝑘𝑎𝑛𝑙𝑎ℎ 𝑏𝑒𝑛𝑡𝑢𝑘 𝑝𝑒𝑟ℎ𝑎𝑡𝑖𝑎𝑛, 𝑚𝑒𝑙𝑎𝑖𝑛𝑘𝑎𝑛 𝑗𝑎𝑟𝑖𝑛𝑔-𝑗𝑎𝑟𝑖𝑛𝑔 𝑡𝑒𝑟𝑜𝑟 𝑦𝑎𝑛𝑔 𝑠𝑒𝑛𝑔𝑎𝑗𝑎 𝑑𝑖𝑝𝑎𝑠𝑎𝑛𝑔 𝑢𝑛𝑡𝑢𝑘 𝑚𝑒𝑛𝑗�...
![[2] Bisikan Maut | Jeon Wonwoo](https://img.wattpad.com/cover/294139667-64-k92400.jpg)