Never click suspicious links
Reminder: Wattpad will never ask for passwords, payment information, or other sensitive account security details.

Rev | Kenangan

868 119 244
                                        

🌹

Aku menatap tetesan rintik hujan yang jatuh ke permukaan kaca mobil. Tetesan itu membentuk bulir,  kemudian mengalir menuruni permukaan kaca. Menoleh ke sisi jalan di sebelah kiri, aku merentangkan telapak tangan, mengusapkan jari-jari pada embun yang membias ke kaca bagian dalam.

Dingin.

Namun tidak sedingin hatiku yang kembali membeku dengan kenangan. Saat memori kembali membuka satu ruang penuh makna, memutar kejadian masa lalu yang sering kali mengingatkanku betapa mudahnya manusia terluka. Satu peristiwa yang masih menggaungkan trauma.

Aku menutup mata, mencoba meleburkan air mata yang menggenang di pelupuknya. Aku tidak ingin menangis. Aku tidak ingin mengunjungi Mama dengan duka. Aku tak ingin menoreh luka itu... menambah goresan dengan kenangan yang sama.

"Kita mampir ke toko bunga sebentar, ya ... Elra?" Suara lembut memanggil namaku. Aku berpaling, membalas tatapan Tante Ema. Wanita di penghujung usia empat puluh tahunan itu melirik ke arahku sebentar, sebelum pandanganya kembali terarah ke jalanan depan. Tante Ema menarik senyum kecil di sudut bibirnya. Namun mata itu-menatapku dengan sorot yang terlihat tegang.

Aku menarik napas dalam, lalu mengangguk pelan. Keningku mengernyit dalam, mengingat pertanyaan yang dilontarkan Tante Ema. "Ya, Tante." Jika saja Tante Ema tidak bersuara, kenangan bisa saja merenggut ketidaksadaranku. Dan aku akan tenggelam dengan duka dan air mata yang mengering di pipi.

Setelah Mama meninggal lima tahun yang lalu, Tante Ema membawaku tinggal bersamanya. Tante Ema menyayangiku tulus seperti anak kandungnya sendiri. Namun terkadang, masih saja aku menarik diri dari rengkuhan keibuannya. Tante Ema memahami, bahwa batang yang patah memerlukan waktu untuk kembali tumbuh.

Aku merasakan getaran di pangkuan. Segera merogoh handphone di dalam tas, jantungku berdegup kencang ketika melihat nomor yang tidak dikenal muncul pada layar. Keningku mengernyit, menimbang apakah aku akan mengangkat atau membiarkan panggilan itu.

Nomor siapa ini? Kenapa dia menelpon?

Tak lama, getaran di genggaman tanganku berhenti. Hanya misscall.

Selang beberapa detik, ponsel di tanganku kembali bergetar. Ada notifikasi pesan masuk.

 Ada notifikasi pesan masuk

Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.

Caelum?

Hanya ada satu Caelum di kelasku. Dan sejujurnya, dia... hmm... benar! Dia memang tampan. Tapi dia sudah punya pacar! Jadi tidak mungkin dia menelponku karena tertarik padaku.

Ya!

Pasti ada hal lain. Tapi apa? Dan oh... bukan itu pertanyaan utamanya, dari mana dia mendapatkan nomorku? Aku mengembuskan napas kasar, merasa tertekan dengan overthinking-ku sendiri. Kurangnya interaksi dengan lawan jenis membuatku sedikit gugup.

"Kenapa sayang?" tanya Tante Ema, masih dengan suara lembutnya.

Aku menarik senyum tipis. Rasa malu membuat pipiku memanas. "Nggak papa Tante," jawabku pelan, terdengar kalut.

MetanoiaStories to obsess over. Discover now