Gemuruh petir disertai kilat saling bersahutan, hujan deras disertai angin kencang mengguyur bumi, membuat suasana riuh mengerikan, lampu padam membuat keadaan gelap gulita.
Seorang gadis cantik berusia sekitar 21 tahun meringkuk ketakutan di pojok kamar yang gelap, kilat petir yang terlihat dari kaca balkon kadang kala membuat suasana kamara itu menjadi sedikit terang
Keadaanya sangat kacau, traumanya kembali!, tubuhnya bergetar hebat, dengan tangan yang menutup telinga, keringat dingin mengalir deras, mata sembab dihiasi air mata yang tak hentinya mengalir, isak tangis terdengar mennyayat hati, gumaman gumaman lirih sarat akan ketakutan terdengar pilu dari bibir mungilnya.
Sesak yang dirasa saat bayangan bayangan masalalu yang menyakitkan terus berputar di kepalanya, dadanya serasa terhimpit batu besar, nafasnya memburu, tak tahan dia mulai berteriak gila.
"TIDAK! JANGAAN... LEPASKANN... JANGAN AKU MOHON HIKS KAKAK.... KAKAK TOLONG."
"HIKS LEPASKAN KAKAK!, HIKS LEPASKAN AKU AAAKKKK."
Berteriak kesetanan seraya menjambak rambutnya berutal, dengan tangis kencang dan ketakutan dia melempar barang yang ada di sekitarnya hingga banyak barang dan beling yang berserakan di lantai, keadaan nya sangat memprihatinkan, di tambah dengan telapak kaki yang di hiasi darah karna menginjak beling.
Perlahan dia terdiam dengan pandanga kosong, lalu tangannya mengambil pecahan beling di lantai dengan tangan kirinya, tanpa ragu ia menggoreskan beling itu ke tangan kananya berulang kali. Telinganya berdengung bibirnya terus berucap "kakak kesakitan." "Aku ingin kakak." Seperti itu berulang kali.
Seakan tuli Bahkana ia tak menghiraukan teriakan serta gedoran pintu di luar.
"DEK BUKA PINTUNYA! DEK BUKA."
Tak mendapat belasan orang itu mendobrak pintu itu dengan kuat berkali kali hingga terbuka.
Matanya membola melihat keadaan sang adik yang kacau sedang melukai dirinya sendiri, banyak luka di tubuhnya, kakinya penuh darah karna menginjak beling di lantai, serta kamarnya pun sangat kacau.
Berjalan mendekat dengan tergesa menghampiri lalu menarik tangnnya membuang beling yang di genggam adiknya ke lantai, hal itu membuat sang adik berteriak histeris kembali bahkan dia berusaha untuk mengambil beling itu kembali, melihat adiknya seperti itu langsung saja ia memeluk sang adik tercinta dengan erat, air mata nya mengalir deras melihat keadaan adiknya yang seperti itu, terus ia peluk tanpa menghiraukan berontakan dari adiknya, adiknya masih saja menangis menjerit dan meraung kesetanan.
"Dek dek ini abang dek, ini abang dev, abang di sini, ada abang di sini, adek gak sendiri, sasanya abang gak sendri."
Di sela tangis nya devan sang kakak menenangkan adiknya yang menangis meraung, memeluknya semakin erat.
"A-ba-abang hiks kakak bang,ba-banyak dar-ah,hiks sa-sakit a-abang sakit hiks , kakak sakit hiks abang, tolong sasa hiks jahat me-reka j-ja-hat hiks" lirih saina lemah sebelum kesadarannya terenggut. Saina pingsan dalam dekapan sang kakak.
Devan yang melihat saina pingsan langsung merebahkan tubuh adiknya di kasur , lalu mengobati lukanya dengan hati hati dan membereskan kamar yang berantakan. Setelah selesai devan merebahkan tubuhnya di samping adiknya ,menatap wajah lelah sang adik.
"Kenapa kamu gini lagi dek, abang kira kamu benar sudah sembuh, tapi ternyata?" Lirih devan tangannya mengelus pipi saina yang masih tersisa jejak air mata, ia menatap sedih sang adik.
Hati nya sakit sekali melihat adiknya seperti itu, dia bertanya tanya apakah selama ini adiknya memendam semua sendiri?, Apa selama ini pengobatan yang keluarganya lakukan untuk adiknya tidak membuahkan hasil? Tapi bukannya mereka bilang saina sudah sembuh, lalu kenapa selama ini ia tidak tahu jika trauma itu masih adiknya miliki, dan juga apa org tuanya mengetahui hal ini atau tidak?.
YOU ARE READING
Menjemput Terang
RandomMenceritakan tentang Seorang gadis dengan traumanya, seorang gadis yang mempunyai sebuah tanggung jawab besar, seorang gadis yang di setiap langkahnya selalu terbayang akan masa lalu, seorang gadis yang memiliki penyesalan dalam hidupnya. Saina Ca...
