Part 1

0 1 0
                                    

"Jika tuhan menyayangi gue, izin kan gue buat mencintai seseorang untuk terakhir kali nya,"

Hujan gerimis melanda di rumah Maurin. Saat ini Maurin hanya duduk termenung sambil mendengarkan sebuah lagi dari penyanyi TULUS.

Lagu dimana menceritakan segala perasaan yang Maurin rasakan saat ini.

"Kenapa gue di lahir kan dalam kondisi kek gini coba,?" Gumam Maurin bernada sendu. Maurin menatap luar jendela dan menghela nafas nya pelan.

"Gue terkadang sedih lihat orang dengan kondisi mental sekuat baja, Kenapa gue nggak bisa kek mereka coba," Ucap Maurin lagi. Kali ini dia menunduk dan mencoba menahan buliran air mata yang akan segera jatuh

"Gue benci sama diri gue sendiri, kalau apa - apa ketika gue ngamuk, gue nge-lampiaskan nya ke barang." Maurin menatap ke arah kamar nya, sambil berpikir.

-Apakah dia harus di takdir kan kek gini ?-

Maurin, Cewek yang selalu jadi korban bullying dan di tatap rendah oleh orang - orang. Karena dia tidak mempunyai seorang ibu, karena perpisahan kedua orang tua nya. Dan kerap kali bertingkah aneh.

Bukannya, Manusia di ciptakan dengan kesempurnaan dan kehebatan nya masing - masing dalam jangka waktu yang berbeda ?

Drtt

Notif chat dari sahabat nya, Dian

Dian : Rin, Besok temenin gue jualan mau nggak ?

Maurin : Dimana

Dian : Di mari ( Lokasi )

Maurin : Iya, kalo sempat nanti gue ke sana ya

Dian : Iya, gue tunggu

Setelah itu, Maurin tidak membalas lagi.

Jam sudah menunjukkan pukul 21:30. Dia memutuskan untuk segera tidur agar tak terlambat bangun esok hari

~

Pagi hari nya

Maurin terbangun dari tidur nyenyak nya itu. Dia melihat ke arah jam yang ada di dinding kamar nya itu, ternyata sudah menunjukkan pukul 06:00 pagi.

Dia segera bergegas menuju ke kamar mandi untuk membersihkan diri.

Sehabis mandi, dia berjalan menuju ruang makan. Di sana sudah ada ayah nya yang lagi menyiapkan makanan yaitu Nasi Goreng campur sosis

"Yah," Panggil Maurin lembut

Ayah nya, Fahriz melihat ke arah putri nya itu dengan pandangan seolah - olah bertanya

"Ada apa?." Tanya Fahriz

"Hmm, Maurin boleh nggak main ke tempat kerjaannya Dian?," Ucap Maurin bertanya

"Ngapain coba kesana, mending di rumah,"

"Maurin bosen yah di rumah. Nggak ada temen buat ngobrol," Ujar Maurin mempout kan bibir nya sok imut

Fahriz yang melihat anak nya sok imut begitu hanya menatap jijik.

Fahriz menghela nafas dan menganggukan kepala nya meng-iyakan.

"Yeaayyyy." Langsung dah tuh si Fahriz di peluk Maurin

a true love, inside a toxic loveTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang