END
-
Radar = Alat pendeteksi jarak.
---
"Apa? Kenapa? Lo mau marah-marah? Lo mau ninggalin gue? Lo takutkan sama gue?"
Cowok Gemini itu menatap Annara dengan tatapan yang sayu, kemudian meraih tubuh mungil Annara dan merengkuhnya lembut. Menenggel...
Annara memeluk tubuhnya sendiri ketika rasa dingin menyelinap kedalam dirinya yang tak memakai jaket. Dengan berbekal baju seragam yang membalut tubuhnya, gadis itu merapatkan dirinya dengan dinding halte seraya misuh-misuh kecil menyalahkan ramalan cuaca di ponsel pintarnya.
Tangan gadis itu sibuk berselancar di dalam tas sekolahnya. Tersenyum kecil ketika mendapatkan benda yang dibutuhkannya saat ini, kemudian memakainya.
Sumpah demi apapun. Annara tidak membenci hujan, tapi ketika datangnya di waktu yang tidak tepat, tetap saja gadis itu merasa sedikit kesal, tau gitu Annara memilih untuk meminta jemputan Abangnya saja. Tapi tetap saja, memilih untuk meminta dijemput Abangnya pun percuma. Ia tidak akan dijemput, Abangnya hanya akan memesankan ojol untuk dirinya.
30 menit berlalu, bus tak kunjung datang, angkutan umum tidak melewat satupun. Melirik jam yang melingkar di tangannya menunjukan pukul 16.50, itu berarti sepuluh menit lagi akan menunjukan pukul 5 sore.
Annara menghela nafasnya sebal. Kalau saja pak Rahmat tidak menyuruhnya untuk mengantarkan buku ke perpustakaan, serta pak Didin selaku penjaga perpustakaan tidak menyuruhnya untuk membantu menyusun buku, maka ia sudah berbaring santai di ranjang kesayangannya seraya menonton serial Netflix langganannya itu.
Jangan salah paham. Annara sebenarnya ikhlas ketika disuruh beliau, cuman ya kalau akhirnya seperti ini -terdampar di halte seraya menunggu bus yang tak kunjung datang serta ditemani hujan yang lumayan deras, itu pun tidak tahu kapan akan berhenti- siapa juga yang tidak kesal.
Masalah gawatnya, baterai ponselnya sebentar lagi akan habis. Ngga, ngga lebay. Tapi ini darurat sekali, sudah sore hampir menjelang maghrib, tidak ada yang menemani. Khawatirnya, para kunti akan mengganggunya di sebrang sana -di pohon buah mangga yang besar- dengan dukungan langit yang sudah gelap.
Duhhhh, rasa-rasanya Annara mau pingsan aja, melupakan semua kejadian yang barusan ia lalui kemudian terbangun cantik di ranjang besarnya.
Annara melepas benda itu di telinganya kemudian memasukannya ke saku baju. Merapalkan doa, semoga tidak ada petir yang menyambar dirinya ketika dia yang sedang berusaha menelpon Abangnya.
"Sial siall...." umpat nya pelan ketika yang di telpon tak kunjung mengangkat.
Tuh kan! Percuma saja Annara menelpon Abangnya itu, tidak akan diangkat. Abangnya terlalu fokus sama mainannya sampai-sampai melupakan Adiknya ini.
Putus asa, gadis itu lagi-lagi menghela nafasnya berat. Memutuskan untuk menunggu hujan reda kemudian dia akan nekat pulang dengan jalan kaki dari pada harus bermalam disini. Syukur-syukur ada taksi, bus, angkot atau apapun yang lewat, batinnya berkata.
Merenung, Annara terkejut ketika melihat seseorang turun dari motornya kemudian berlari kecil dan berdiri tepat disampingnya. Gadis itu menatap takut-takut orang itu dari atas sampai bawah. Waspada siapa tahu dia menyamar menjadi anak sekolahan, kemudian menculiknya dan meminta uang sebagai jaminannya untuk dibebaskan. Mungkin lebih parah lagi ia akan dimutilasi habis-habisan kemudian membuang tubuh cantiknya sembarangan, membayangkannya saja membuat tubuh Annara bergidik ngeri. Annara dengan pemikiran pendeknya. Tetapi bagi gadis itu, hantu lebih menyeramkan dari apapun.
Annara mengernyitkan dahinya. Jika laki-laki itu satu sekolah dengannya, mengapa dia tidak pernah melihatnya? Apa jangan-jangan anak pindahan? Tapi tidak mungkin, walaupun dia tidak termasuk dalam jajaran anak pintar disekolah, -tapi dia termasuk ke dalam jajaran anak yang lumayan famous karena kecantikan dan keramahannya- pasti teman-temannya akan memberitahu, kemudian mengajak menggosip bersama membicarakan si anak baru apakah termasuk kategori cantik atau sebaliknya.
Dalam kurung ramah jika dihadapan orang baru.
Gadis itu sebenarnya tidak terlalu ramah, makanya ia selalu bertanya siapa orang dungu yang menyematkan julukan dirinya sebagai orang ramah. Beda lagi jika dihadapan sahabatnya atau orang-orang rumah, jangan ditanya deh, hampir menyamai spesies setan.
Peduli setan.
Mau anak pindahan atau anak apapun, asal jangan anak setan saja Annara tidak peduli. Mengusap lengan nya pelan ketika dingin dirasa semakin menusuk dirinya serta merasa di kulitnya mulai muncul bintik-bintik merah kecil yang semakin dirasa semakin gatal, gadis itu mendesis pelan.
Sial! Entah untuk keberapa kalinya, gadis itu mengumpat.
Annara dengan sifat pelupanya selalu melupakan satu hal yang penting dalam dirinya 5 tahun terakhir. Pasalnya dirinya tidak boleh kedinginan barang sedetikpun. Jikapun Annara kedinginan, maka tamatlah dirinya, seperti sekarang.
Rasa-rasanya ia ingin menangis ketika rasa gatal itu semakin menjalar kesemua tubuhnya. Menundukan kepalanya, berdoa agar laki-laki yang entah siapa namanya tidak melihat gelagat aneh dirinya.
"Pake."
Annara mengangkat kepalanya kemudian menengok kearah suara yang ia dengar. Dengan mata yang berkaca-kaca, ia menatap Hoodie yang laki-laki itu sodorkan kemudian menatap dititik bola mata kelam itu. Lama terhanyut didalam bola mata kelam milik lelaki itu, ia mengerjapkan matanya lucu kemudian berhah ria.
"Lo dungu?" tanyanya tak biasa kemudian berdecak malas. "Buruan pake!" perintahnya sebal seraya melempar Hoodie itu didepan wajah cantiknya. Refleks cepat-cepat ia tangkap Hoodie itu kemudian memakainya.
Hangat. Pikirnya sambil tersenyum kecil. Tangannya tak henti-henti nya menganggaruk kasar bagian kulit yang lain.
Serta, wangi.
Annara menyukai wangi ini.
---
"Gak pulang lo? Mau nunggu disini sampe muka lo bentol-bentol?" tanyanya sarkas tanpa melihat siapa yang ditanya, tangannya sibuk memakai helm di kepala nya kemudian menaiki kendaran beroda dua miliknya itu.
Anara berdecak sebal, percuma ganteng tapi mulutnya lemes.
"Buruan naek, lo bukan tuan putri gak bakalan gue gendong!"
-
Ups! Ten obraz nie jest zgodny z naszymi wytycznymi. Aby kontynuować, spróbuj go usunąć lub użyć innego.
Annara Batari
Ups! Ten obraz nie jest zgodny z naszymi wytycznymi. Aby kontynuować, spróbuj go usunąć lub użyć innego.