Bagian 1: Lucky Bamboo

20 2 4
                                        

Please, mind the tags. Happy reading! Ki

13 Desember

"Cukup untuk hari ini. Thank you, team!"

Seruan penutup itu ditanggapi antusias oleh sejumlah rekan kerja dengan peluh yang masih bercucuran pada kulit. Seorang lelaki yang tidak berpeluh sama sekali sedang sibuk merapikan lembaran desainnya, memasukkan barang-barang ke dalam tas, dan bersiap untuk meninggalkan lokasi pembangunan. Sebelum meninggalkan ruangan, Ibra menebar senyuman dan berpamit kepada rekan kerja yang bertemu pandang dengannya. "Duluan ya!" pamitnya singkat.

Waktu menunjukkan pukul delapan malam. Jalanan yang tidak terlalu padat dan langit yang tidak mendung adalah situasi yang Ibra harapkan sedari pagi, sebab ia ingin menjemput sekaligus melaksanakan car date sederhana yang sudah ia rencanakan bersama sang kekasih. Kalau diingat-ingat, mereka belum sempat bertemu sejak dua hari yang lalu.

Ibra adalah seorang arsitek developer yang memiliki cukup banyak proyek pembangunan dalam waktu bersamaan. Walaupun ia tidak selalu harus terjun ke lapangan, tetapi hampir setiap hari ia harus mendatangi lokasi pembangunan dan memantau secara langsung agar realisasi pembangunan berjalan sesuai dengan rancangan yang sudah direncanakan. Karena pekerjaannya yang tergolong berat dan memakan banyak waktu, Ibra sering tidak memiliki waktu untuk bertemu dengan sang kekasih. Walaupun begitu, mereka tetap sering bertukar kabar melalui pesan atau panggilan telepon.

"Halo, Nay? Kamu udah selesai?" Ibra memutuskan melakukan panggilan singkat untuk memastikan Naya sudah selesai dengan kegiatan perkuliahannya.

Terdengar suara gaduh di seberang sana. "Halo, Mas Ibra? Iya, aku udah selesai. Kamu jemput di depan gedung fakultas, ya. Soalnya aku terlalu malas untuk jalan ke gerbang kampus, hehe." Ibra hanya tertawa kecil mendengar jawaban tersebut.

"Oke, I'll be there in ten minutes."

"Dua puluh atau tiga puluh menit juga gak apa-apa. Asal kamu selamat, gak perlu ngebut!"

"Iya, iya. I love you."

"I love you more!"

...

Lingkungan kampus masih begitu ramai. Beberapa mahasiswa terlihat mengurus sesuatu yang dapat dipastikan kalau itu adalah proram kerja organisasi dan beberapa lainnya sibuk bersenda gurau untuk menghabiskan waktu. Ibra mengedarkan pandangannya ketika sudah sampai di depan gedung fakultas, kemudian ia mengirimi pesan singkat kepada Naya untuk memberi kabar kalau ia sudah sampai.

Berbeda dengan Ibra yang langsung bekerja setelah mendapat gelar sarjana, Naya memutuskan untuk melanjutkan pendidikannya ke jenjang Strata 2 dengan jurusan yang sama ketika ia menempuh pendidikan Strata 1, yaitu Ilmu Politik. Kegemarannya dengan bacaan-bacaan pemikiran kiri dan sejumlah aturan pemerintahan menjadikan Naya begitu antusias untuk terus mendalami Ilmu Politik. Usia mereka hanya terpaut 2 tahun, dengan Ibra yang lebih tua dari Naya.

"Mas Ibra!" Suara panggilan yang cukup keras membuat Ibra tersenyum lebar, mendapati Naya yang melambaikan tangan sembari melompat-lompat kecil. Gadis itu langsung masuk ke dalam mobil dan duduk di samping Ibra dengan dua cup kopi hangat dalam genggaman.

Amor FatiOù les histoires vivent. Découvrez maintenant