Prolog

88 55 325
                                        

"Aku pamit yah, Ghafi, jaga diri baik-baik. Jangan lupain, Haura!" ucap gadis kecil dengan kulit putih dan mata hitam itu kepada laki-laki berusia 10 tahun yang berdiri di hadapannya.

"Kamu juga, jangan lupain aku!" balas lelaki bernama Ghafi itu.

"Hahaha, iya, iya. Haura pamit dulu, sampai jumpa!"

"Tunggu, Hau! Aku mau ngasih ini buat kamu biar selalu ingat sama aku," Ghafi sedikit berlari ke arah Haura memberikan sebuah kalung dengan sebuah berlian dengan inisial 'G', sesuai dengan namanya 'Ghafi'.

"Makasih," balasnya sambil menggenggam kalung itu kemudian berlari ke arah mobil berwarna merah itu.

"Sampai jumpa, cinta pertama Ghafi. Semoga kita bertemu kembali," ucap Ghafi bermonolog ketika melihat mobil Haura melaju menelusuri jalanan dan meninggalkan dirinya sendirian.

•••


"GHAFI! SINI! CEPATTTT!" teriak wanita paruh baya yang tengah duduk di depan televisi.

"Iya, Bunda, Ghafi nggak budeg jadi nggak usah teriak juga, Bun," ucapnya menghampiri Farah.

"Sekarang bunda tanya, Haura sama keluarganya jadi berangkat sekarang?" tanya Farah dengan sangat khawatir.

"Iya, kan kemaren Haura dan keluarganya udah pamit sama kita, Bun. Bunda lupa?"

"Ya Allah, bunda baru dapat kabar, kalau pesawat Jaya Air jatuh, dan... semua penumpang nggak ada yang selamat. Haura nggak naik pesawat itu, kan, Ghafi?"

"Ha, Haura naik pesawat Jaya Air, Bun, dia naik pesawat itu," sekarang wajah Ghafi benar-benar pucat, "Bunda becanda, kan? Itu berita palsu kan, Bun? Ini nggak serius, kan, Bun?" tanya pria itu dengan rasa takut yang masih menyelimuti dirinya.

"Innalilahi wa innailaihi Raji'un, bunda serius, Ghaf, bunda nggak bercanda. Berita itu benar, Haura dan keluarganya terlibat dalam kecelakaan itu, nak. Dan menurut berita itu, semua penumpang tewas," Farah menggelengkan kepalanya pasrah sedangkan Ghafi, pria itu terduduk lemas dengan air yang mulai membasahi pipinya.

'Haruskah kita berpisah seperti ini, Haura?' batin Ghafi sambil mengingat wajah Haura

Ghafi tidak pernah paham apa itu cinta, bagaimana bentuk cinta, seperti apa itu cinta. Tapi yang selalu dia tau, bahwa Haura adalah gadis kecil yang mampu membuatnya tertawa dan tersenyum lepas, bahwa Haura adalah gadis yang menjadikan Ghafi yang pendiam menjadi Ghafi yang periang. Dan Haura adalah gadis yang berhasil membuat dirinya menjadi lebih memiliki tujuan dalam hidupnya.

Dan, sekarang, Haura pergi. Pergi dengan jauh melampaui batasnya membuat Ghafi kembali merasakan sebuah kehilangan, bukan hanya kehilangan Haura, tapi dia kehilangan semuanya. Semua yang sebelumnya telah diberikan Haura pada dirinya.

"Aku harap kamu selamat, dan semua berita ini palsu, aku harap ini hanya mimpi,"

•••

TakdirWhere stories live. Discover now